Jalanan tampak mulai dipenuhi oleh kendaraan yang lalu lalang. Sepeda motor, mobil pribadi bahkan sepeda onthel pun. Asap kendaraan membuat suasana kota menjadi sedikit gerah dan panas.
Orang-orang saling beradu untuk dapat dengan cepat menuju rumah peristirahatan mereka untuk sekedar berbaring dan melepas penat. Bising. Riuh. Lelah. Tapi itu tak menyulitkan Gendis untuk melihat bahwa sosok lelaki di depannya adalah Dirja.
“Benar, itu Dirja. Aku tak salah lihat.”
Lelaki berjaket hitam tampak berboncengan dengan seorang perempuan muda. Mereka tampak serasi dan juga terlihat wajah mereka bahagia. Dirja tampak tak canggung sama sekali ketika bercakap-cakap sebelum naik ke sepeda motornya. Begitu pun perempuan itu. Dari jauh senyumnya tampak menyiratkan kebahagiaan.
“Dirja begitu mengenalnya. Siapa perempuan itu? Jadi selama ini dia menghilang karena perempuan cantik itu. Memang cantik. Pantas saja jika …” lamunan Gendis terhenti ketika tiba-tiba suara perempuan berteriak dengan keras.
“Aw …” Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun dan berambut panjang terpekik dengan tiba-tiba. Tampak bawaannya sekantong plastik buah jeruk jatuh bercecer di sekelilingnya. Beberapa butir jeruk menggelinding menuju arah Gendis. Yang lainnya tersebar di berbagai penjuru. Gendis dengan sigap membantu untuk mengumpulkan jeruk yang bercecer itu. Ia berlari kesana kemari mengejar jeruk-jeruk yang berlarian. Melihat perempuan yang sepertinya kepayahan untuk membawa jeruk itu, Gendis memiliki inisiatif.
“Ibu pakai ini saja tidak apa-apa.” Sahut Gendis menawarkan totebagnya yang dipakai untuk membawa beberapa arsip yang dia akan bawa pulang.
“Lalu kamu bagaimana? Nanti kertasmu kotor.” Sahut perempuan berambut panjang itu dengan ragu dan melihat beberapa berkas yang dibawa oleh Gendis dalam genggaman tangan kiri. Tangannya penuh.
“Tidak apa-apa. Saya sedang menunggu angkutan online, kebetulan bawa mobil nanti. daripada si buah jeruk ini berlarian kesana kemari tak jelas nanti. Silahkan ambil saja.” Gendis menyodorkan kembali totebag kepada perempuan itu.
“Suksma dek. Maaf, namanya siapa?” Jawab perempuan itu sambil menerima totebag dari Gendis.
“Gendis, Bu.”
“Oh Gendis, namanya manis. Semanis orangnya. Dan kita disini bertemu bukan karena kebetulan. Tidak ada yang namanya kebetulan di semesta. Ini semua merupakan takdir. Suratan takdir. Sudah digariskan. Kita yang teken kontrak. Terima kasih ya tasnya. Saya Lusi. Gendis bisa panggil saya Bunda Lusi.”
Perempuan dengan rambut panjang dengan selipan sebuah bunga kamboja kuning di telinganya itu menjawab panjang lebar sambil mengulurkan tangan. Gendis mengulurkan tangan dan mereka saling berjabat erat. Belum sempat Gendis menanggapi, sebuah mobil angkutan pribadi datang dan sesuai dengan aplikasi online yang Gendis pesan.
Belum juga Gendis berbicara tapi Bunda Lusi segera menambar berkata, “Bunda tinggal di dekat sini. Itu rumah yang ada sebuah pura kecil di bagian depan. Main-mainlah kapan pun kau mau Gendis. Bunda pasti akan senang jika Gendis mau mampir. Dan terimalah ini untukmu.” Ujar Bunda Lusi sambil memberikan dua buah jeruk kepada Gendis.
“Terima kasih Bun. Mobilnya sudah datang. Saya permisi dulu.”
Gendis agak menggerakkan kepalanya lalu sempat melihat ke arah sebrang dimana Dirja dan perempuan itu tadi ada. Sudah tak ada. Gendis segera menuju angkutan itu. Bunda Lusi memandangnya dari kejauhan. Mobil itu bergerak semakin jauh. Menembus malam bersama dengan puluhan angkutan lainnya.
Sesampainya di rumah, Gendis segera menuju kamar dan menghempaskan badan ke kasur. Pikirannya menerawang jauh. Dirja. Dirja. Dirja lagi. Pandangannya menatap langit-langit kamarnya. Gendis menghentikan bayangan dan segera mengambil handuk dan pergi mandi. Rasa-rasanya mood yang dialaminya selama beberapa hari ini tampak amburadul bin acakadul. Mandi. Itu cara yang dipilih Gendis untuk meredakannya. Selesai membasuh tubuhnya dan berganti pakaian lalu Gendis mengambil telepon genggamnya dan membuka aplikasi hijau itu.
“Kamu sudah sampai rumah?” Janu.
Gendis tetap menscrool teleponnya, tidak mempedulikan pesan Janu. Buat apa membuang waktu percuma. Ia asyik dengan handphone dan mencari sebuah nama. Dirja. Sedang online. Gendis menatapnya lama. Menimbang akan melakukan atau tidak. Mengirimkannya sebuah pesan. Pendek saja tak usah panjang. Iya, tidak. Tidak, iya. Dirja hampir tidak pernah memasang foto diri. Yang dia pasang sebagai foto profil adalah sebuah gambar ilustrasi hasil lukisan coret-coretnya.
Sebuah bunga matahari berkelopak kuning, mengembang lebar menantang matahari. Kelopak-kelopak bunga itu berjejer dengan rapi membentuk sebuah lingkaran mengelilingi bunga. Dengan indah dan sinarnya yang berwarna kuning menjadikan warna bunga ini memiliki magnet tersendiri bagi yang melihatnya. Dengan inti dari bunga berwarna coklat membentuk bulatan sebagai penyempurnaan dari bunga matahari itu. Tak pernah memasang foto di story. Cara satu-satunya untuk bertemu ya lewat melihatnya secara langsung di depan mata. Bertemu. Bertatap muka.
Seperti sore tadi. Itu saja sudah cukup bagi Gendis. Melihatnya dari jauh. Walau jauh tapi Gendis tahu dan paham bahwa itu Dirja. Walau perempuan itu bukan dia. Sudah cukup baginya.
Gendis menutup kembali telepon. Menarik selimut sampai menutup kepala. Gendis memiringkan tubuh. Mengambil kembali telepon dan membuka aplikasi. Kedua matanya terpejam. Lalu mata sebelah kanan terbuka sedikit dan melirik pada layar telepon. Gendis terpaku. Diam. Mematung.
“Sebentar.” Gendis bercakap-cakap sendiri. “Kira-kira apa reaksi Dirja ketika aku japri duluan kepadanya? Sudah tidak ada urusan dan mengapa harus saling komunikasi? Tapi kita kan sebagai makhluk sosial harus bisa dan mampu bersosialisai. Menjalin pertemanan. Toh tidak salah. Jika aku bertanya kabarnya, wajar kan? Aaaah ruwet.”
Gendis menutup kembali wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dirinya dalam sebuah kebimbangan antara rasa rindu dan ingin bertemu dengan Dirja tapi di sisi lain, Gendis tidak ingin untuk menjalin dan terlibat jauh menggunakan perasaan. Gendis berusaha untuk mengacuhkan apa yang selama ini dia rasakan tetapi rasanya dia tak sanggup. Dan dia harus mau mengakui dan tunduk bahwa sosok Dirja sudah banyak menyita perasaan akhir-akhir ini. Dirja selalu saja membayangi dengan sekelebat senyum, kedua matanya yang berwarna coklat, rambut panjangnya yang tergerai, kadang dikuncir ke belakang. Jemarinya yang memiliki tekstur halus layaknya orang yang tak pernah bekerja kasar.
“Cinta? Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Kami hanya baru bertemu beberapa kali saja. Tapi bukankah cara kerja cinta memang seperti itu. Siap menjangkiti siapa saja yang terkena dengan tebarnya. Apakah aku jatuh cinta pada Dirja?”
Gendis tak pernah merasakan rasa yang sedang dialaminya sekarang ketika berhubungan dengan Janu. Sama sekali tak ada rasa gemas, cemas, greget atau apa pun yang membuat hati rasanya ketar-ketir. Rasa gelisah tapi juga membahagiakan. Gendis menjadi kesal dengan dirinya.
“Apakah keputusan yang akan diambilnya nanti akan berjalan lancar sesuai rencana? Keputusan? Keputusan apa?” Kemudian tiba-tiba Gendis tersenyum. Dia tertawa melihat tingkahnya sendiri yang sangat seperti anak kecil dan kekanakan. “Kayak abege.” Gendis terkekeh sendiri. Gendis menatap kembali layar teleponnya dan mu;ai menarik napas.
“Baiklah, ini saatnya.”
“Lagi dimana?” Kedua mata Gendis langsung menutup setelah mengirimkan japrian ke Dirja. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Menunggu. Masih menunggu. Centang biru dua. Terbaca oleh Dirja. Rasanya seperti ingin loncat dari tempat tidur.
Dirja typing ….
Mata Gendis tak percaya melihatnya. Dirja menjawab dengan cepat pesannya.
“Di rumah. Sini main. Atau mau kujemput?”
Deg … jantung Gendis berhenti berdetak.
"Apa yang harus aku perbuat? Harus berbuat apa kira-kira? Menerima ajakannya? Atau menolak saja? Bukankah ini saat yang ditunggu-tunggu. Dan sangat diinginkan. Masa akan membuang kesempatan ini begitu saja. Tapi ... saru tidak ya? Ini sudah malam? Bagaimana jika terjadi sesuatu? Dan ini sudah malam. Apa kata orang? Ah peduli apa kata orang. Yang aku takitkan sekarang bagaimana dengan hatiku inj. Akankah bisa aku kendalikan supaya tidak dag dig dug ser seperti ini? Ah aku memang payah. Bagaimana ini, aku harus segera membalas pesan. Aku jawab iya atau aku yolak saja? Aku bingung."
Gendis diantara rasa yang sangat ingin dia lakukan atau rasa bimbang dengan perasaannya.
Dia berhenti sejenak, menatap sementara hanphone miliknya. Lalu memutuskan, "Baik, aku akan melakukannya."