Dirja dan Gendis banyak menghabiskan waktu bersama setelah itu. Mereka melakukan banyak hal, mulai dari travelling bersama, melakukan wisata kuliner, pergi mengendarai sepeda motor tanpa arah tujuan yang jelas. Gendis bahagia bersama Dirja. Dan setidaknya Dirja juga iya. Bahkan Gendis tampak seperti menganggap rumah Dirja seperti rumah sendiri yang mereka tinggali berdua. Dua bulan mereka menghabiskan waktu bersama.
Hingga suatu malam mereka berdua berbicara serius.
“Dir, kita ini gimana? Mau begini-begini saja?”
“Maksudnya apa, Dis?”
“Kita ini, kita berdua. Sedang menjalankan hubungan macam apa?”
Dirja diam.
“Dis, aku sudah pernah menjelaskan segala sesuatunya. Aku mengira kau bisa memahaminya. Masih mau diulang?”
“Jadi kamu ingin kita begini-begini saja dan tidak ngapa-ngapain?”
“Aku tidak ingin menyakitimu, Dis.”
"Menyakitiku? Kamu?"
Dirja terdiam tak tega ingin mengutarakan semua maksudnya.
“Maksud kalimatmu apa, Dir?”
“Aku kira kamu senang bersamaku. Menghabiskan waktu bersama, tertawa, menjelajah dunia ini. Jangan mendesakku.”
"Iya, memang aku suka, senang jika bersamamu."
"Berhentilah mendesakku."
“Lalu apa arti hubungan kita selama ini? Tidak adakah aku di hatimu? Walau sedikit?”
"Aku tak suka ditekan seperti ini. Aku merasa dipojokkan."
"Tak ada yang memojokkanmu."
"Jika kau mencintaiku, tak akan kau menuntut apapun dari aku. Mencintai ya cukup mencintai saja. Tak ada embel-embel apa pun. Tak menuntut juga menggurui."
"Tapi, Dir ..."
“Dis, aku sudah bilang padamu. Aku apatis terhadap cinta. Aku sudah tidak percaya adanya cinta. Iya, beruntung bagi mereka yang bisa merasakan cinta dan berbalas cinta dengan orang yang diinginkannya. Tapi anugerah itu tidak akan datang kepadaku. Jika begini kita akan saling menyakiti, Dis.”
“Jadi aku bukan apa-apa?”
“Bukan begitu. Aku sudah memberitahumu apa yang sudah terjadi padaku bahkan dar A sampai Z. Aku kira kau bisa memahamiku. Tahu apa yang aku rasakan. Sekarang, nanti atau bahkan esok lusa.”
“Jika kamu seperti ini, kamulah yang menyakiti hatiku, Dir. Aku tak menyangka bila kau benar-benar sejahat ini. Kamu tega sekali.”
“Aku tidak pernah memintamu datang kepadaku. Kamu yang datang padaku. Menyerahkan dirimu.”
“Tapi selama ini, waktu yang kita habiskan berdua apakah tidak memiliki arti dalam hidupmu? Aku mengorbankan waktuku bersamamu. Bersama orang yang kucintai sepenuh hati. Dan balasanmu begini?”
“Sebentar. Kamu bilang mencintaiku tapi kamu masih perhitungan dan mulai menghitung-hitung waktu yang sudah kau habiskan bersamaku? Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tak akan pernah berhitung. Cinta ya cinta saja tak peduli apa pun itu. Cinta tak mengenal teori perhitungan. Satu tambah satu. Atau apa. Tidak. Tak akan menghitung untung rugi, tak akan pernah mengharap apapun. Ya hanya mencintai. Sudah itu saja. Bukan dengan segala syarat dan ketentuan.”
“Lalu selama ini kamu bercerita banyak kepadaku, menceritakan bahkan sisi gelapmu bahkan sifat-sifat buruk yang tak pernah kau tampilkan kepada orang lain. Itu tidak berarti apa-apa?”
“Andai saja, andai saja aku mengenalmu lebih dulu ketika empat atau tiga tahun dulu sebelum aku rusak seperti ini. Mungkin aku akan menerimamu. Sebagai pendampingku.”
“Terus kamu anggap aku selama ini apa? Hanya pemuasmu? Hanya untuk melayanimu saja.”
“Aku minta maaf, aku tidak bisa mencintaimu. Kamu bisa memiliki tubuhku, nikmati sepuasmu. Tapi tidak dengan hatiku. Aku ini batu.”
“Tega kamu, Dir. Setelah menyeretku sejauh ini.”
“Dis, jika kita teruskan pembicaraan ini, pasti akan tidak baik. You deserve better.”
“Kamu anggap apa aku?”
“Dis, jika aku bilang alasannya kamu pasti ah aku pasti akan menyakitimu.”
“Apa? Bilang. Utarakan semua. Biar aku paham isi hatimu seperti apa.”
“Aku bisa saja bilang, ini bukan salahku. Kamu juga mau aku menyeretmu ke dalam kubangan ini. Ke dalam gua hitam yang tanpa ujung ini. Setelah bersamamu aku banyak sekali menghindari orang yang mencoba mendekatiku. Ada beberapa yang berusaha masuk ke dalam kehidupanku. Tapi aku stop. Karena tak ingin menambah orang yang akan bersamaku dalam gua hitam ini. Hanya kamu.”
“Dan ada orang lain lagi?"
“Tidak ada. Hanya kamu.”
“Jadi aku itu apa? Hanya sebuah sesembahan saja untuk altarmu ini? Dan sama sekali tidak memikirkan apa yang aku rasakan. Aku bisa sakit hati.”
“Dis, aku paham apa yang kamu rasakan. Tapi aku juga tak bisa menolakmu. Kamu cantik, pintar, cerdas. Aku bisa saja mencintaimu, tapi tidak sekarang. Tidak saat ini.”
“Dir, ….”
“Maafkan aku, Dis. Aku bukan bermaksud jahat.”
“Lalu apa maumu sekarang, Dir?”
“Aku tak ingin apa-apa. Semua ini terserah padamu. Kamu akan melakukan apa, aku terima.”
“Ya, jelas saja kamu menerima. You don’t have anything to left behind.”
“Dis, kamu akan memaksaku? Itu yang kamu inginkan?”
“Entah. Pikir saja sendiri.”
Mereka berdua diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Gendis menghela napas, “Aku akan pulang.”
“Dis, ….”
“Sudah, Dir. Sudah mari akhiri ini.”
Dirja diam dan memandangi Gendis yang sedang mengemas barang-barangnya.
“Dis, aku tak ingin menyakitimu. Tapi aku juga tidak berani untuk membuatmu tetap di sisiku. Aku sadar diri. Aku siapa, seseorang yang b******k yang tak pantas kau dicintai. Aku tak layak mendapatkan cintamu yang besar ini.”
“Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Dis. Kamu harus bahagia.”
“Aku akan selalu mengingatmu, Dir. Kamu tahu bagaimana aku. Tapi tak bisa aku begini terus. Aku tersiksa. Kamu pun sama. Seharusnya sebuah hubungan ini bisa menjadi bahagia untuk kedua belah pihak. Bukan saling menyakiti. Apapun itu. Berbahagialah, Dir. Kamu layak.”
“bahagia? Orang sepertiku apa layak mendapatkan kebahagiaan itu. Kamu lebih layak. Bukan aku. Maafkan aku. Terima kasih, Dis.”
“Hidupmu bukan lagi tanggung jawabku. Hidupmu, kaulah yang bertanggung jawab.”
Dirja tersenyum, “Iya aku paham itu. Bukan tanggung jawabku tapi akulah yang bertanggung jawab atas hidupku.”
Gendis membawa semua barang dalam sebuah koper. Dia berdiri di depan pintu. Memegang gagang pintu berharap Dirja akan memanggil dan memeluk sambil memintanya untuk tetap bertahan dan tinggal bersamanya. Dirja, mematung berdiri dan tak memandang sama. Pikirannya sibuk. Gendis akhirnya menyadari sesuatu. Dia putar gagang pintu lalu berlalu begitu saja meninggalkan Dirja dalam kesendirian.
***
Dirja menghilang semenjak kejadian pada malam dimana Gendis dan Dirja menjadi berselisih pendapat. Tak ada kabar berita lagi. Senyap. Dan selalu akan berulang seperti itu. Hilang tak berbekas kemudian datang. Berulang seperti itu. Tapi memang ini yang paling besar diantara pertengkaran mereka berdua. Gendis tak kuasa pun tak bisa menanyakan apa sebab kepergian Dirja. Terkadang Gendis merasa apakah dia melakukan kesalahan sehingga Dirja pergi. Atau adakah sesuatu perkataan atau perbuatannya yang tak berkenan. Atau memang dirinya tak pantas bersama Dirja. Tak pantas mendampinginya dan hanya ada satu nama. Anna.
Gendis tak mampu menguasai diri. Kerja tidak fokus. Selera makan pun hilang selama beberapa hari ini. Jam tidur pun tak disiplin. Bahkan dalam sehari ia hanya tertidur selama dua atau satu jam saja. Jelas ini merupakan masalah. Dan terkadang ia masih saja denial akan perasaan yang dirasa. Ada perasaan senang bila bersama Dirja dan akan terasa kosong, hampa bila tak bersama. Hati sunyi, perasaan sepi, rasa terperih. Hari-hari berat dilalui olehnya.
Waktu masuk pada sore hari. Perut Gendis terasa melilit dan perih. Dia baru sadar jika terakhir makanan masuk ke perutnya dalah kemarin siang. Dan sama sekali dia tidak memiliki keingan untuk memasukkan makanan ke dalam tubuhnya.
“Tidak bisa begini. Jika aku melakukannya lagi maka aku akan ah masuk ke depresi lagi saat aku tidak bisa menerima kenyataan Janu mengkhianati. Menduakan hati dan menyalahgunakan kepercayaan yang sudah diberikan. Mengoyak ketulusan. Dan kejadian ini berulang tepat ketika aku mulai membuka lagi hatiku pada Dirja. Dan Dirja sama saja. Bahkan lebih buruk.”
“Baik, nanti sepulang kerja aku akan cari makan. Aku tak bisa begini terus. Aku harus bangkit. Aku harus kembali menata hidupku.”
Gendis lalu melangkah keluar kantor dan menuju sebuah kafe langganan. Kafe dimana Janu pernah membawanya. Dia segera memilih tempat yang agak mojok ke dalam yang agak jauh dari keramaian. Gendis baru saja akan memesan makanan ketika suara seseorang yang dikenalnya menyapa.
“Hai, selamat sore Kak Gendis. Kita bertemu lagi. Mau pesan apa?”
“Loh, kamu? Kok bisa ada di sini?”
“On duty, Kak.” Jawab Jagad dengan wajah ceria.
“Aku pesan steak grill dan jus alpukat lalu air mineral ya.”
“Steak grill satu, jus alpukat satu dan air mineral. Mau yang dingin atau biasa?”
“Dingin.”
“Baik. Pesanan akan kami antarkan, kak.”
Jagad membawa pesanan ke arah dapur. Tak berapa lama membawa sebotol air mineral.
“Kak, ini untuk air mineral. Sebentar lagi aku selesai shift. Bisa kita pulang bersama lagi?” pinta Jagad.
“Tapi aku sedang tidak ingin kemana-mana. Hanya ingin pulang.”
“Aku ada suatu tempat yang akan aku kunjungi bersama kakak. Pasti kakak suka dengan tempat itu.”
Gendis berpikir sejenak. Daripada dia pulang ke rumah dan akan baper tentang Dirja kenapa tidak pergi dengan Jagad.
“Baik. Aku ikut.” Gendis memaksakan untuk tersenyum.
“Oke. Untuk hidangannya, sebentar lagi.” Jagad memberikan senyum terbaik lalu undur diri untuk mengantarkan makanan di meja lain.
Sekitar menunggu dua puluh menit, hidangan sudah tersedia. Gendis menyantap dengan lahap pesanannya. Setelah kenyang, segera Gendis membayar ke kasir. Dia menengok kesana kemari mencari Jagad yang tak tampak batang hidungnya.
“Kemana ini anak? Kok tidak kelihatan.”
Setelah mengedarkan pandangan, Gendis melihat Jagad yang memberi kode untuk keluar dari kafe dan menunggu di luar. Jagad keluar parkiran dengan sepeda motor. Menyerahkan helm kepada Gendis.
“Sudah siap? Yuk.”
“Yuk.”
Mereka berdua menembus jalanan. Melewati bus yang sedang melaju. Berlarian dengan sesame sepeda motor. Balapan dengan beberapa mobil pribadi. Gendis merasakan angina yang menyapu kulitnya dan rambutnya yang berkibar tertiup angina. Setelah sampai pada sebuah jalan kecil, Jagad berbalik arah dan menuju sebuah panti jompo kecil. Dan berhenti tepat di panti itu.
“Mau apa kita ke sini Jagad?”
“Sudah nanti kakak juga tahu.” Sahut Jagad. Ia mengeluarkan beberapa kotak makanan dari dalam jok sepeda motor. Kemudian mereka berdua masuk dan menyalami beberapa karyawan.
“Hei, mas bro, lama gak kelihatan. Mau jenguk mbah Surti?”
“Sibuk, mas. Iya ini mau ketemu nenek.”
“Siapa ini? pacarmu? Laku juga ya kamu. Haha.” tawa karyawan panti jompo itu sambil mempersilahkan Jagad dan Gendis masuk ke ruangan.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong Bougenvile lalu masuk ke dalam kamar tempat para orang tua yang sedang dirawat. Dia menuju sebuah tempat tidur dengan seorang nenek tua yang berbaring.
“Loh Jagad, bawa apa hari ini?” sahut seorang nenek yang sedang terbaring di tempat tidur dengan berselimutkan.
“Kesukaan nenek. Makan sampai habis ya?”
“Pasti. Kan makanan favorit nenek. Dan pasti ini enak. Ini siapa? Cantik. Pacarmu?”
“Saya Gendis, Nek.”
“Gula merah. Manis.” Sahut nenek sambil membuka bekal dari Jagad.
“Nek, Jagad pamit ya. Mau mengantar pulang kak Gendis.”
“Kamu baru saja datang. Tapi tak apa-apa. Gendis kelihatannya anak baik. Perlakukan dia dengan semestinya. Bye Gendis.”
“Saya permisi dulu, Nek.”
“Iya, kalian hati-hati di jalan.”
Jagad dan Gendis meninggalkan kamar lalu berpamitan kepada beberapa karyawan.
“Nenek itu nenekmu?” tanya Gendis.
“Bukan. Aku menemukannya ketika mengantar makanan. Beliau hidup seorang diri di rumahnya. Dan menderita beberapa penyakit yang membutuhkan pantauan. Jantung dan darah tinggi. Akhirnya beliau berada di sini.”
“Tak ada hubungan saudara?”
“Sama sekali tidak ada.” Jagad tersenyum yang ternyata memiliki lesung pipi di pipi sebelah kiri.
“Ternyata jika dilihat lebih dalam, anak ini tampan juga. Mana kelakuannya juga baik.” Batin Gendis.
“Ayo naik, Kak.” Jagad menyodorkan helm untuk Gendis. Lalu mereka melanjutkan perjalanan.
“Gad, boleh minta nomormu?”
“Boleh. Baru kali ini nomorku dimintai oleh seorang perempuan. Haha.” Jagad menanggapi dengan tertawa.
“Jika keberatan tak mengapa.”
“Jangan begitu kak. Sebenarnya aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Kak Gendis jika ada apa-apa boleh menghubungi aku. Kapanpun.”
Gendis terdiam.
“Masih ada satu tempat lagi yang akan aku kunjungi. Tak apa kan, Kan?”
“Iya. Boleh.”
Jagad mengirimkan makanan ke sebuah rumah. Rumah di dekat dengan kafe ketika malam itu melihat Dirja dengan seorang perempuan di seberang jalan. Ia melihat kembali tempat dimana Dirja memarkirkan motor. Tidak ada sama sekali wujud lelaki itu.
“Dimana Dirja? Setega itu dia menelantarkan aku setelah apa yang sudah dia perbuat padaku malam itu? Aku merasa tidak dihargai. Merasa ditinggalkan. Dan aku benci perasaan seperti ini.”
Gendis mulai resah. Yang ada di pikiran hanya Dirja entah mengapa bisa begitu.
“Entah bagaimana bisa-bisanya sesosok itu masuk ke dalam pikiran dan mengendap di sana. Apakah ada suatu tujuan? Tapi apa?”
Ketika Jagad mengantar makanan masuk ke dalam, ia menunggu di depan sebuah pintu gerbang. Ia melihat sebuah rumah dengan ukiran ala Bali di samping gerbang itu. Tiba-tiba saja ia teringat akan Bunda Lusi.
“Ini kan rumah Bunda Lusi.” Ia melihat sebuah pohon Bungan kamboja yang tumbuh dan berbunga dengan lebat pada pekarangannya. Di sudut rumah itu ada sebuah pura kecil lengkap dengan canang dan dupa yang masih baru saja dibakar.
“Pasti Bunda di dalam.” Entah rasanya seperti ada perasaan yang menuntun untuk datang dan mengunjungi bunda Lusi. Perlahan ia memasuki pekarangan yang cukup luas. Pintunya terbuka lebar. Dan aroma yang menenangkan hadir di rumah itu.
“Selamat siang.” Gendis mengucapkan salam. Ia menunggu di depan pintu. Rumah bunda benar-benar ditata sedemikian rupa dan memiliki suasana seperti berada di pulau Bali. Artistik. Gendis mengambil hp dan mengirimkan pesan ke jagad bahwa dirinya ada di sebelah rumah yang dia antar makanan.
Suara sandal terdengar. Sesosok berwajah teduh dengan rambut panjang pirang diikat ke belakang mengenakan baju berwarna kuning muncul di hadapan Gendis.
“Halo gula jawa eh Gendis. Mari masuk?” Bunda Lusi mempersilahkan untuk masuk.
“Bunda masih ingat saya?” ujar Gendis dan masuk ke dalam rumah.
“Jelas masih. Kamu anak baik.”
Gendis merasa salah tingkah ketika dipuji oleh Bunda Lusi. “Sebentar Bund, saya bersama teman.”
Gendis berlari menuju depan rumah dan mendapati Jagad berdiri di samping motornya.
“Kamu sibuk gak? Temani saya untuk bertemu bunda.” Ujar Gendis
sambil menunjuk ke arah rumah bunda.
“Aku tak ada acara sama sekali. Lagi bebas. Aku temani.” Ujarnya sambil menuntun sepeda motor menuju rumah bunda. Gendis merasa dia memiliki seseorang yang mendukungnya. Ia tersenyum melihat Jagad yang menuntun motor di sebelahnya.
Gendis merasa tak sendiri lagi. Pikiran yang sedang berada dalam otaknya tampak mereda. Entah karena hari ini dia melakukan sebuah perjalanan lain daripada yang lain atau hanya karena ada jagad di sampingnya yang akan siap melakukan apapun bersamanya.