Dirja mendekati Gendis perlahan. Kedua mata Gendis menutup dengan raut wajah yang nampak ketakutan.
"Maafkan aku, Dis. Aku tak bermaksud." tangannya gemetar. Suaranya parau. Dirja mengambil jubah mandi yang terjatuh dan memberikan pada Gendis untuk menutupi tubuhnya. Gendis menutup jubah bagian depan lalu mengikat tali. Dirja tampak tertunduk. Wajahnya pucat pasi. "Pakai bajumu, lalu lekaslah pulang," katanya sambil keluar dari kamar. Ia menuju ruang tengah.
"Dirja kenapa? Dia seperti orang lain yang bahkan aku tidak tahu siapa dia. Dia seperti orang asing. Sorot matanya tampak seperti singa yang kelaparan. Bahkan dia hampir saja menerkamku, memakanku, mencabik-cabikku. Apa dia sedang mabuk? Atau sesuatu terjadi padanya?" Gendis mengambil kaus dan celana pendek milik Dirja yang terletak di lemari. Menyisir rambutnya, lalu menuju ruang tengah.
Dirja duduk menonton tivi yang entah dia fokus pada acara yang ditayangkan atau tidak. Wajahnya seperti menatap televisi tapi pandangannya kosong. Gendis bergegas ke dapur dan membuat teh hangat untuk mereka berdua. Dia memakai dua buah mug yang berada pada lemari atas. Dan membawanya ke ruang tengah.
"Ini teh hangat, Dir."
"Terima kasih." Dirja menyeruput teh hangat. "Kamu akan menginap?"
"Jika kamu tidak keberatan."
"Bagaimana jika ...." kalimat Dirja terputus.
"Jika apa?"
Dirja menaruh mug di sampingnya, duduk menghadap Gendis. "bagaimana jika nanti terjadi sesuatu?"
"Sesuatu yang bagaimana?"
Dirja diam dan menundukkan kepala. Ia tak ingin Gendis terseret bersamanya.
"Kamu boleh cerita apapun padaku, Dir?"
"Apapun?"
"Iya, apapun. Kamu tahu aku adalah orang yang bisa dipercaya."
Dirja menatap kedua mata Gendis. Dia melihat ketulusan pada mata itu. Mata bulat coklat yang teduh.
"Aku takut malam ini aku akan melahapmu habis-habisan." suara Dirja terhenti.
"Melahap? Maksudnya?"
"Aku takut kamu nanti akan menjadi korbanku. Seperti aku memanfaatkanmu. Tak ada sedikit pun maksudku seperti itu. Tak ada. Tapi aku juga tak kuasa menahan diriku ini. Tubuhku tampak seperti bergerak sendiri mengikuti kemauannya. Jika aku dalam keadaan baik mungkin aku tak mengapa dan bisa mengontrol semua. Tapi ini tidak."
"Kita ke dokter?"
"Tidak. Tidak perlu. Para dokter itu tidak semuanya benar ketika memberikan diagnosa. Bahkan tidak semua dokter itu pintar. Bisa jadi malah aku lebih tinggi level dari mereka. Hanya saja aku tidak memiliki ijasah yang seperti mereka punyai."
"Mau aku ambilkan obat?"
"Tidak perlu."
"Dir, ...." Gendis menaruh kedua telapak tangannya ke wajah Dirja dan menatapnya.
"Apa yang bisa kubantu?"
Dirja tersenyum. Dia melihat wajah Gendis yang lugu tanpa polesan apapun. Bibir mungil yang berwarna pink, mata bulat, wajah bulat ciri khas orang Jawa. Dan kulitnya yang coklat membuatnya tampak eksotis. Pikirannya liar tapi dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa yang ingin sekali berontak.
"Cukup kamu ada menemani."
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Dirja menghela napas, melepaskan kedua tangan Gendis dari wajahnya. "Sedang tidak baik tapi aku berusaha untuk baik." Dirja memasang senyum yang dipaksakan. Gendis paham, ada kesedihan di sana. Di dalam palung mata milik Dirja.
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan sebuah cerita. Aku ini ada anxiety dan depresi. Karya-karyaku, beberapa tulisan-tulisanku itu semua aku tulis dalam keadaan depresi. Yang paling melegakan adalah ketika aku menorehkan dan mencoret-coret kanvas. Rasanya lepas tak ada beban. Walau energi menyeretku kembali lagi ke dasar kegelapan. Aku layaknya manusia serigala yang akan berubah ketika bulan purnama. Kamu tahu bahwa sebenarnya manusia serigala sebenarnya adalah impersonate dari manusia sendiri. Tidak aku sedang tidak berdongeng, aku menceritakan apa adanya. Dark Side atau shadow seseorang. Bahwa iblis, setan itu sebenarnya hanya khayalan manusia belaka. Aku begitu menahan diri untuk tidak berlaku yang aneh-aneh. Aku tidak free s*x, memakai narkoba, minum-minum itu sudah merupakan keberuntungan buat aku. Tapi aku juga manusia biasa. Hormon-hormon dalam diriku selalu saja menagih untuk diberi makan. Meminta jatah dan meronta-ronta."
Dirja menatap Gendis, lalu berkata, "Aku tahu kamu tertarik padaku, Dis. Aku bisa merasakannya. Banyak perempuan yang tertarik padaku. Jadi bukan hanya kamu, ada beberapa lainnya. Ya, tidak selaku itu sebenarnya. Tapi para perempuan itu datang dan selalu berkata bahwa aku cerdas, pintar, bertalenta, kreatif dan kata-kata pujian semua yang sama sekali tidak aku gubris. Aku hanya seorang pesakitan yang mencoba mencari keseimbangan dengan seks."
Dirja menatap Gendis yang terkejut. Gendis berusaha menutupi rasa terkejutnya.
"Ada apa denganmu, Dir? Kamu tampak seperti orang lain." batin Gendis.
"Pada suatu hari nanti kau akan menemukan apa yang tak pernah kau lihat dariku. Apa kau akan siap?"
Dirja memandang Gendis. Mereka berdua berpandangan.
"Aku tahu kamu akan menganggapku rendah serendah-rendahnya seperti binatang. Bahkan mungkin lebih rendah lagi. Tapi itulah aku. Para mantan-mantanku yang katanya tulus mencintaiku, akhirnya pergi meninggalkan aku. Mereka yang mengelu-elukanku, begitu memujaku malah mereka yang akhirnya pergi. Yang berjanji akan menemaniku. Mungkin mereka sudah muak denganku yang memiliki hiper ini. Atau mereka jengah sendiri karena berkali-kali aku menolak mereka. Mementahkan keberadaan mereka. Perhatian mereka. Karena yang aku butuhkan hanya seks. Dan mereka menjadi kelelahan. Lelah menghadapi aku yang begini ini."
Dirja mengambil cangkir tehnya dan meminumnya.
"Aku sudah apatis terhadap cinta, Dis. Cinta hanyalah badai serotonin dalam tubuh yang akan hilang dalam waktu paling cepat enam bulan dan paling lama setahun. Dua belas bulan. Semua itu adalah keterlibatan hormon. Hormon yang ada dalam tubuh duniawi. Kita itu seperti dipaksa untuk meneruskan keturunan lewat hubungan senggama. Itulah alasan mengapa orang yang having s*x akan terasa menyenangkan dan enak. Karena semesta membuatnya seperti itu. Coba bayangkan jika orang yang akan melakukan hubungan badan itu terasa menyakaitkan. Mungkin manusia di bumi ini akan punah dari dulu. Tapi tidak. Tuhan atau semesta atau kesadaran tertinggi membuatnya seperti itu."
"Kamu tahu, Dis cinta baru dielu-elukan ketika jaman Shakespeare mulai menulis tentang cinta. Lalu semua mulai mengglorifikasi tentang cinta. Cinta apa itu? Aku terkadang menjadi takut sendiri jika aku menjadi salah satu dari orang yang tidak ada yang mau menyelamatkan. Karena bagiku aku hanya butuh bantuan, butuh diselamatkan orang lain. Mungkin aku akan menikah jika aku menemukan seseorang yang bisa membuatku berhenti berpikir. Tak lagi memeras pikiran dan menguras isi otak. Aku akan menikahinya dan membuatnya melahirkan keturunanku dan aku akan mengasuh anak-anakku. Itu impian yang sangat absurd tapi aku benar-benar ingin menikah jika bertemu dengan perempuan macam itu. Yang aku sendiri tidak tahu apakah jenis perempuan seperti itu ada atau tidak."
"Aku itu rumit. Aku sadar dan tidak berharap lagi. Dengan umurku yang segini, fisik yang semakin menua, pesona yang semakin memudar. Mana ada perempuan yang mau padaku. Apalagi yang sesuai dengan keinginanku itu. Atau terkadang aku berpikir apakah jodohku masih belum lahir."
Gendis diam berusaha mencerna semua omongan Dirja.
"Kamu tahu, aku sebenarnya memiliki kekuatan untuk memanipulasi orang lain. Membuat mereka manut, tunduk, patuh dan menurut padaku. Jika saja aku jahat, aku bisa saja memanfaatkan para perempuan yang datang padaku. Dulu ada seorang perempuan yang karirnya bagus, menunjukkan ketertarikannya padaku. Padahal dia cantik, seksi dan berpakaian dengan rapi. Tapi aku tidak bisa. Mantanku yang terakhir itu, dulu dia yang berusaha mendekatiku. Perlu diingat bahwa aku bukan seorang predator yang mencari mangsa dan juga korban. Mereka perempuan-perempuan ini yang datang sendiri dan menyodorkan dirinya padaku. Aku dulu pernah membuat sebuah kelas melukis. Ada beberapa murid yang memintaku untuk melukis mereka tanpa busana. Aku menolak. Padahal bisa saja akau mengiyakan semua permintaan mereka. Karena aku merasa kelas itu seperti dengan mudah mentriggerku, aku bubarkan kelasnya. Bayangkan saja, bagaimana dengan mudahnya jika aku benar-benar seorang predator. Aku akan melahap bahkan akan memakan semua yang ada di hadapanku. Tapi aku tak begitu. Aku layaknya seorang laba-laba yang memintal sarang dan menunggu para serangga lain untuk terjerat dalam sarang laba-laba yang sudah kupintal. Satu, dua datang terjerat lalu aku kaan memakan. Ah jahat sekali aku ini. Aku sering kali menganggap bahwa aku memang orang jahat yang tak pantas untuk hidup bahagia. Aku layak untuk tidak diselamatkan."
Dirja menatap kedua mata Gendis dalam-dalam. Hasrat dalam dirinya tampak tak terbendung lagi. Mendekat ke arah wajah Gendis. Menuju bibir dan menyambar dengan rakus. Dirja menciumi bibir Gendis. Menarik bibir bawah ke dalam sebuah kecupan, melumatnya sebentar dan bertukar dengan bibir atas. Napas Dirja memburu. Gendis seperti kehabisan napas. Dia tak sanggup untuk menolak. Tak kuasa untuk berbuat apa-apa. Hanya pasrah pada Dirja.
Gendis tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Isi pikirannya seperti tak bisa dikendalikan. Sama sekali tubuhnya bertindak seperti memiliki pikirannya sendiri. Sistem tubuhnya rasanya seperti terkena hack. Tak dapat dikendalikan. Gendis juga menginginkannya. Dirja paham ketika Gendis mulai membalas ciumannya.
Dirja lalu menggendong Gendis dan membawanya ke tempat tidur. Meletakkan Gendis dengan perlahan lalu memasang badan tepat di atas Gendis. Dirja mengecup bibir Gendis. Gendis menutup mata.
“Dis, yakin kita akan melakukannya?”
Gendis mengangguk pelan. Kedua tangan menggelayut ke leher dirja. Dirja mencium Gendis lagi. Kali ini dengan lembut. Dirja menyambut bibir Dirja, memagutnya dan menggigit kecil. Gendis merasakan seluruh bagian tubuh memanas, jantung berdetak lebih cepat, tubuh tampak seperti memiliki pikiran sendiri. Tubuhnya memberontak ingin sekali berbuat semaunya yang tak bisa Gendis pikirkan secara rasional.
Tangan Dirja mulai menuju p******a Gendis. Masuk ke dalam kaus dan menuju yang ada di baliknya. Dirja meremas perlahan benda kenyal milik Gendis sembari melancarkan kecupan ke bagian leher. Gendis mendesis perlahan. Perlahan dan pasti Dirja menyibak kaus, lalu setelah memberikan kecupan di leher, kecupan bertupi-tubi diberikan merata ke bagian d**a, p******a. Dirja bermain-main sebentar di sebuah daging kecil yang menonjol dan mengenyutnya beberapa kali. Tangan kiri Dirja terjun bebas menuju area vital. Basah.
Lalu tiba-tiba saja telepon genggam Gendis berbunyi. Mereka berdua menengok telepon itu.
Dirja menatap Gendis yang berada di bawahnya.
"Kamu akan mengangkatnya?"
Gendis diam. Dan tetap melihat masuk ke dalam sorot mata Dirja.
Suara telepon berdering dan mereka berdua tak peduli. Dirja mengambil telepon.
“Dis ….”
“Iya?”
"Dari Asri. Mau diangkat?"
Gendis diam. Mematung masih melihat pria ini di atas tubuhnya. Dirja membuka salah satu aplikasi mendengarkan musik secara online. Dirja memilih sebuah lagu lawas. Go Go Doll. Dan menaruhnya di atas kepala Gendis.
Dirja mendekat dengan wajah memerah. Mendekatkan wajahnya ke wajah Gendis. Memegang pipi lalu mencium bibir. Mengulang kembali apa yang sudah dilakukukannya. Dia menarik ke atas kaus. Pemandangan di depannya sangat indah. Kemudian membenamkan kembali pada Gendis. Gendis merasakan rasa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Badannya seperti tersengat listrik.
Gendis tidak berdaya pun tak kuasa menolak. Yang bisa dilakukannya hanya mengikuti apa yang diinginkan Dirja.
“Dir ….” Gendis memanggil Dirja.
Dirja tampak kembali menjelajahi tubuh Gendis. Dikecupnya pipi, turun ke leher. Di sana Dirja diam dan bermain-main. Jemari Dirja bermain di bagian bawah. Terasa basah.
Dirja langsung saja membuka kaus miliknya. Menurunkan celananya. Dan memandang Gendis. Menciumi bibir Gendis. Turun ... turun ... semakin turun ke bawah. Dirja melepaskan celana milik perempuan yang ada di depannya.
Dirja tersenyum, melihat Gendis dengan posisi polos tanpa mengenakan baju apapun. Polos layaknya bayi yang terlahir kembali. Dirja datang padanya. Lalu menindih. Terasa sangat sempit.
"Ah ...." Gendis melenguh sambil menutup matanya. Ia memeluk Dirja. Hari ini Gendis dan Dirja menjadi satu. Mereka bertukar energi, bertukar rasa, bertukar keringat.
***
Rambut Gendis terasa seperti ada yang mengelus-elus. Gendis membuka mata. Dirja ada di hadapan dengan senyum.
Ada rasa perih pada bagian bawah milik Gendis. Gendis meringis kecil.
"Selamat pagi, sayang. Nyenyak tidurnya?"
Gendis masih berusaha meraba-raba apakah yang terjadi semalam? Apakah benar kejadian? Benar-benar nyata atau hanya sebuah mimpi saja. Gendis berusaha mengumpulkan kesadarannya.
”Maaf aku ketiduran pasti.” Segera Gendis duduk di tempat tidur.
"Kau pasti kelelahan." Dirja mencium kening Gendis.
"Dis, terima kasih. Terima kasih sudah bersamaku malam ini."
Gendis tersenyum. Ia banyak diam hari ini bahkan sejak kemarin.
“Mimpi apa tadi?” tanya Dirja.
“Entah. Mimpi tidak jelas.” Sahut Gendis tersipu.
“Aku buatkan sarapan ya?" Dirja segera beranjak dari tempat tidur tanpa memakai sehelai benang pun. Gendis tertawa.
"Ikut? Sini."
Gendis segera mengikuti Dirja ke dapur. Mereka saling melingkarkan tangan pada tubuh mereka. Mereka tampak tak terpisahkan.
"Kita sarapan roti? Mau selai apa? Nanas atau coklat?" Dirja bertanya sambil mengambil roti dan selai pada lemari atas.
"Nanas." sahut Gendis sambil melingkarkan tangannya pada perut Dirja.
Dirja memegang tangan Gendis yang berasa di perutnya.
"Kita sarapan dulu, ya? Biar perut tidak keroncongan. Aku lapar."
Dirja membuat dua tangkup selai. Satu untuknya, satu untuk Gendis. Dirja membuka teh kotak dan menuangkan untuk Gendis. Gendis masih saja bergelendotan pada Dirja. Dirja tersenyum.
"Lagi?"