Gendis sudah berada di lantai dua. Dia melangkahkan kaki mendekat ke arah kamar mandi. Lalu mengetuk pintu kamar mandi. Tok tok ….
“Dirja.”
Tak ada jawaban. Sunyi. Gendis semakin khawatir. Takut terjadi apa-apa pada Dirja.
Gendis memutar gagang pintu. Klik. Tak terkunci. Dengan perlahan Gendis membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mandi. Terlihat Dirja sedang berada dalam bath tub dengan pandangan ke luar jendela. Niat Gendis tertahan.
“Oh ma maaf Dirja, aku kira kamu tidak di rumah. Aku panggil-panggil tak ada suara. Aku khawatir, Dir.” Gendis membalikkan badan menuju pintu untuk keluar dari kamar mandi.
“Mengapa Tuhan itu tidak adil?” Dirja menjawab pertanyaan Gendis dengan pertanyaan juga. Pandangannya masih menatap keluar kamar mandi menembus jendela. Membelakangi Gendis.
Gendis bingung harus apa dengan keadaan seperti ini. Langkahnya terhenti.
“Aku harus merespon apa? Situasinya sedang tidak enak. Bagaimana tidak, Dirja sedang berendam di bathtub tentu dengan telanjang bulat dan tidak memakai apa-apa. Aku perempuan, dia laki-laki. Dan kami berdua saja di rumah sebesar ini. Terus dia mengajak diskusi tentang Tuhan? Di kamar mandi?” batin Gendis.
“Dis, sini. Mendekat.”
Gendis membalikkan badan. Berusaha untuk menguasai diri. “Aku tunggu di bawah ya. Kamu selesaikan mandi, pakai baju.”
“Dis, sini. Mendekat.” Ujar Dirja lirih.
Gendis terdiam.
“Duh, harus bagaimana ini?” Gendis dengan ragu melangkahkan kai menuju bath tub.
“Aku sedang tidak baik.” Dirja menatap wajah Gendis. Sendu. Kedua matanya terlihat kelam dan kosong.
“Dir, kamu baik-baik saja? Apa yang harus aku lakukan?”
Tatapan mata sendu itu terasa kosong.
“Kita pakai baju.” Gendis berjongkok di samping bath tub dan mencoba memapah Dirja. Gendis meraih tangan kiri Dirja lalu melingkarkannya di pundak Gendis. Gendis berusaha mengangkat Dirja. Berat. Dirja berusaha mengangkat tubuhnya. Tak sanggup.
“Ayo, Dir. Kita keluar.”
Tenaga Dirja bertumpu pada pundak Gendis. Dirja mengangkat kaki keluar dari bathtub. Lemas. Gendis mangambil handuk dan membelitkannya pada tubuh Dirja. Membawanya ke kamar tidur dan merebahkannya ke kasur. Gendis mengambil sebuah kaus dan celana pendek. Memakaikannya ke tubuh Dirja. Lalu memapahnya ke tempat tidur. Menyelimutinya.
“Jangan pergi.” Dirja memohon.
“Iya, aku tidak pergi. Aku disini.” Gendis menggenggam tangan Dirja. Dirja membalas menggenggam dengan erat.
“Tidurlah Dir.”
Dirja menutup kedua mata. Pikirannya sangat kalut hari ini. Ia mendapati bahwa Wortel, kucing yang baru ditemukannya menderita kencing batu sehingga tidak bisa untuk buang air kecil. Mungkin bagi sebagian orang perkara hal seperti ini adalah sepele tapi tidak bagi Dirja. Dirja memiliki sensitif yang sangat besar terhadap binatang. Sekarang Wortel sedang berada di klinik hewan dan diharuskan melakukan rawat inap selama seminggu.
Ketika Dirja terlelap, Gendis ingin memasakkan sup ayam untuk Dirja. Tapi melihat Dirja yang masih menggenggam tangannya Gendis tak tega beranjak dari sisi Dirja. Gendis memandangi dengan lekat wajah lelaki di depannya. Kedua alis yang berjejer rapi, hidung besar yang mancung dengan bibir agak tebal pada bibir bawah. Disingkapkannya rambut yang menutupi dahi Dirja. Gendis mengelus rambut ke arah belakang kepalanya. Wajah Dirja mengapa terasa hangat dan begitu dekat. Bukan, bukan karena jarak kami yang sangat dekat. Tapi seperti ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan secara gamblang. Entah Gendis pun sudah bertanya berulang kali tapi tak juga ditemukan jawaban. Jawaban atas sesuatu yang pekat, lekat dan rapat. Walaupun berada dekat seperti ini, tabir tirai itu pun tak terbuka sedikit pun.
Hampir satu jam lebih Dirja tertidur. Dirja membuka mata dan dilihatnya Gendis berada di sampingnya sedang menatap wajahnya. Dirja tersenyum. Membuat Gendis tak berdaya.
“Aku senang kau masih disini.” Dirja masih menggenggam tangan Gendis. Gendis tersenyum.
“Minum?”
Dirja mengangguk. Gendis segera mengambilkan segelas minuman untuk Dirja. Lalu menyodorkannya.
“Ini jam berapa?” tanya Dirja setelah menengguk habis air yang dibawa oleh Gendis.
“Sekarang pukul delapan malam. Kamu tertidur hampir satu jam lebih barusan. Gimana sudah enakan?” tanya Gendis.
Dirja mengambil posisi duduk dari posisi tidurnya. “Terima kasih untuk tidak meninggalkanku sendirian. Aku senang kamu menemaniku.”
“Kamu lapar? Atau mau aku buatkan sesuatu?”
Dirja menggeleng, “Kamu saja sudah cukup.” Dirja tersenyum manis sekali.
“Enggak, kamu harus makan. Aku masakkan sesuatu ya?”
“Jangan pergi. Pesan makan saja.”
“Oke. Mau makan apa?” Gendis mengambil teleponnya dan membuka aplikasi online untuk mengantarkan makanan.
“Terserah kamu saja.”
“Baik, aku akan pesankan sup ayam. Sudah tinggal tunggu saja.”
“Dis, kamu bisa mengambil baju dan kaus dari lemariku. Menginaplah malam ini.” Dirja memohon pada Gendis.
Gendis menggenggam tangan Dirja sambil tersenyum.
Seharusnya Gendis merasa senang karena bisa merawat orang yang membuat hatinya bergetar tak karuan dan sesosok yang selalu muncul dalam imajinasinya dan sekarang berada di depan kedua matanya. Sangat dekat.
Hanya perlu menunggu dua puluh menit dan makanan sudah diantarkan. Gendis turun ke bawah untuk mengambil makanan dan segera naik ke lantai dua kembali sambil membawa mangkuk dan segelas teh hangat juga sebotol air mineral.
“Ini sup ayam dan nasinya. Ada juga lauk nugget atau mau sosis?” Gendis melayani Dirja dengan sangat perhatian penuh perasaan.
“Kamu makan apa, Dis?”
“Ini ayam geprek yang tidak pedas-pedas amat.” Gendis menyodorkan sebuah kotak yang berisikan makanan.
Dirja memakan makanan yang dibawakan oleh Gendis. Dimakannya semua sampai tandas dan tak bersisa.
“Dir, aku akan mandi dulu nanti aku kemari lagi. Aku pinjam kaus dan celana pendekmu. Atau aku pulang dulu, ambil beberapa barang.”
“Jangan pulang, tetaplah disini.”
“Iya aku akan tetap disini tapi ijinkan aku pergi mandi ya?”
Dirja mengangguk. Gendis mengambil semua alat makan minum yang mereka gunakan untuk makan. Gendis turun ke lantai bawah. Membuang semua bekas makanan ke tempat sampah. Mencuci gelas dan sendok. Lalu pergi ke kamar mandi.
Dirja berada di kamar atas dengan perasaan tidak tenang. Di satu sisi logika berkata bahwa tidak untuk melakukannya. Tapi sisi yang berlawanan hanya memohon untuk memenuhi kebutuhannya. Sudah sejak lama ia menahannya dan rasa-rasanya dia sudah tak sanggup lagi untuk bertahan.
“Baiklah aku akan tetap pada pendirianku.”
Suara gemericik air terdengar dari lantai bawah menandakan bahwa Gendis sedang berada di bawah pancuran shower. Seperti ada yang mendorong Dirja untuk turun ke bawah dan menyusul Gendis supaya berada dalam satu shower yang sama. Berdua merasakan bagaimana asyiknya saling menggosok punggung masing-masing.
“s**t, pikiran apa ini. Gendis bukan apa-apaku. Aku harus tetap waras.”
Tapi keinginan itu begitu kuat. Terus terbayang-bayang.
Gendis masuk ke dalam kamar mandi dan melepas baju kerja yang dipakainya sedari pagi. Terasa air membasahi sekujur kulit tubuhnya. Gendis memajukan kepala dan membuat basah seluruh rambut. Segar. Ada beban yang terangkat dari dirinya, terasa ringan. Diambilnya sampo dan menaruhnya di rambutnya. Meratakan sabun ke seluruh kulit mulai dari tangan, leher, d**a, perut lalu turun ke kaki. Lalu membilasnya. Rasanya entah mengapa terasa seperti terlahir kembali.
“Ups, aku lupa membawa baju ganti. Lalu apa yang harus aku lakukan. Aku memakai baju kerjaku lalu ke atas mengambil kaus dan celana. Atau aku hanya memakai sepotong handuk ini dan naik ke atas. Ah tidak mungkin. Bisa-bisa Dirja mengira aku memancing birahinya. Tapi jika aku menggunakan baju kerjaku maka kulitku akan terkena keringat yang menempel pada bajuku. Ah aku bisa membilasnya lagi. Baiklah.” Gendis mengeringkan tubuhnya dan segera keluar dari kamar mandi menuju lantai atas.
Dirja mendapat kabar dari klinik tempat Wortel dirawat. Keadaan Wortel stabil dan sepertinya keinginan untuk hidup sangat besar. Dirja tersenyum bahagia. Hatinya sudah tidak acak-acakan.
“Dir, kaus dan celananya dimana?” Gendis masuk ke kamar dengan rambut yang tergulung handuk ke atas.
Dirja melempar pandangan dari telepon ke Gendis. Sepuluh detik terlihat terpesona dengan apa yang dia lihat di depannya. Seorang wanita dengan balutan handuk di kepalanya mengenakan jubah mandi Dirja.
“Eh ada di lemari bawah. Kaus disini sudah lama tidak dipakai. Ambil saja.”
“Oh oke. Aku ke bawah lagi.”
Kali ini Dirja sudah tak kuasa memendung keinginan. Dia berusaha untuk bertahan tapi akhirnya pertahanan itu pun runtuh. Bagaikan sebuah bendungan yang sudah jebol dan memuntahkan air yang ditampungnya.
Gendis pergi ke bawah dan menuju kamar Dirja. Membuka lemari dan memilih kaus hitam dan celana pendek hitam. Gendis membuka jubah yang dipakai dan mengganti dengan kaus. Gendis menanggalkan jubah. Tiba-tiba saja Dirja sudah berada di belakangnya. Memegang kedua pundak Gendis dan membalikkan Gendis. Jubah mandi yang berada di tangannya terjatuh. Dirja memandang tubuh Gendis yang polos tanpa ada apa pun yang menutupi tubuh. Dirja tampak terpesona melihat apa yang ada di depannya.
“Dir, Dirja ….” Gendis memanggil nama Dirja. Segera dia menutupi bagian vital atas dan bawah dengan kedua tangannya.
“Mau apa?”
Gendis ketakutan. Dia tidak pernah membayangkan akan berada pada suasana yang awkward ini. bagaimana bisa dengan mudahnya Dirja melihat dengan polos seluruh tubuh Gendis. Ini seperti tidak mungkin.
“Gendis, sudah lama aku menginginkannya. Tolong, Dis.”
Gendis dengan segera mengambil jubah mandi yang terjatuh. Sebelum tangan Gendis sampai, Dirja memegang kedua tangan Gendis dan mendekatkan diri dengan rapat tubuhnya ke tubuh Gendis.
“Dirja, …. Jangan.”
“Dis, ….”