Beberapa hari terakhir setelah kejadian menemukan Wortel, hubungan antara Gendis dan Dirja tampak baik-baik saja. Gendis jadi memiliki alasan untuk menghubungi Dirja. Wortel adalah jembatan komunikasi bagi mereka berdua. Gendis sudah tidak sungkan lagi untuk menjapri. Menanyakan kabar Wortel, berbicara tentang hari ini atau apa saja via telpon.
“Nanti sepulang kerja aku akan mampir ke pet shop untuk membeli sebuah kalung untuk Wortel dan beberapa vitamin untuk kucing. Jika perlu beli makan juga sekalian.” Gendis sudah menyusun rencana untuk datang ke rumah Dirja.
Gendis membuka hp dan segera berkirim pesan ke Dirja, “Dir, aku nanti mampir ya. Aku bawain vitamin sama kalung buat Wortel. Makanannya masih atau habis? Kamu mau dibawain apa?”
Gendis menutup handphonenya dan segera membereskan meja kerja. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore. Saatnya berkemas. Menaruh beberapa map pekerjaan yang berisi file pengajuan produk baru dan menatanya dalam file folder. Ia pun mematikan komputer. Lalu segera beranjak dari kursi. Gendis berjalan menyusuri trotoar. Toko yang menjual kebutuhan kucing hanya beberapa gedung saja dari kantor.
Gendis ingin segera menuju pet shop yang menjual keperluan kucing. Bukan hanya makanan dan vitamin saja tapi ada beberapa aksesoris. Komplit. Dia tahu ada toko yang menjual kebutuhan hewan peliharaan di dekat kantor. Gendis keluar dan berjalan dengan santai. Langkahnya ringan. Mungkin karena suasana hatinya sedang baik. Bahkan dia bersenandung kecil menyanyikan lagu yang entah apa.
Toko hewan ini tidak begitu besar. Sederhana saja jika tampak dari luar. Tetapi jika masuk ke dalam maka akan terlihat ruangan yang kecil itu bisa disulap menjadi toko yang penuh dan tertata dengan rapi. Di bagian depan ada dua rak kanan kiri yang menjual banyak merk makanan kucing. Mulai dari yang karungan sampai yang eceran setengah kiloan. Masuk ke dalam akan ditemui berbagai macam gelas dan mangkuk dengan macam bentuk dan fungsi. Di pojok kanan ada beberapa merk vitamin dan juga sampo perawatan kucing. Di bagian tengah ada beberapa barang seperti sisir kucing, tikus-tikusan. Bahkan ada juga yang catnip untuk kucing.
“Tak menyangka toko yang tampak kecil ari luar bisa menjual barang komplit,” batin Gendis.
“Selamat sore menjelang malam kak. Ada yang bisa saya bantu? Saya Jagad yang akan membantu kakak mendapatkan keperluan apa saja..” Seseorang lelaki memakai seragam hijau bertuliskan Miao Show menyapa Gendis.
“Oh, hai Jagad. Aku sedang mencari kalung untuk kucing kecil sekitar umur dua bulan. Dan beberapa vitamin. Ada?”
“Ada kak. Sebelah sini ada kalung dan di pojok sana ada macam-macam vitamin untuk kucing. Ada beberapa untuk menumbuhkan bulu supaya lebat, ada juga untuk kesehatan tubuh dan juga ada yang untuk kepadatan tulang. Tinggal pilih dan disesuaikan dengan kebutuhan.” Jagad berusaha untuk menjelaskan secara terperinci apa yang dimiliki oleh tokonya.
“Jagad, katanya mau berangkat kuliah? Kenapa masih disini? Nanti kamu terlambat.” Seorang lelaki tua keluar dari atah dalam dan berteriak kepada Jagad.
“Maaf, ada pelanggan ya?” dari dalam toko keluar seorang bapak tua berumur enam puluh yang sepertinya merupakan pemilik toko ini.
“Loh anak ini kok masih kuliah?” Gendis bertanya dalam hati sambil mengambil barang yang diperlukan.meninggalkan pemilik toko dengan jagad. Ia melihat-lihat beberapa vitamin. Mengecek kandungan nutrisi dan memilih beberapa merk lalu berjalan menuju kasir.
“Ini sudah semua kak? Baik satu kalung dan tiga vitamin jeli ya? Total semua seratus dua puluh ribu rupiah kak.”
“Ini.” Gendis memberikan dua lembar uang ratusan ribu. “Kamu masih kuliah? Semester berapa?”
“Iya kak, semester akhir. Hanya tinggal menuju wisuda saja. Kerja disini juga hanya untuk iseng. Ini kak kembaliannya. Terima kasih. Sampai berjumpa lagi dan jangan lupa untuk datang kembali.”
“Sama-sama. Selamat ya buat wisudanya. Kamu pekerja keras.” Gendis mengambil kembalian memasukkannya dalam dompet dan menaruh kembali dalam tas. Gendis bergegas keluar dan menunggu kendaraan online yang sudah dipesannya. Tak berapa lama dari aplikasi mengabarkan bahwa akan sampai ke titik penjemputan agak terlambat karena mengalami ban bocor.
“Maaf, kak, saya dari Ojek Online. Ingin mengabarkan kemungkinan saya akan datang terlambat. Ban saya bocor. Jika kakak bergegas silahkan batalkan pemesanan.” Sebuah chat masuk pada aplikasi ojol.
“Saya tidak buru-buru. Saya tunggu saja,” jawabnya.
Gendis juga tak terlalu bergegas dan tetap sabar menunggu.
Tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang berhenti di depannya. Seseorang dengan memakai kemeja kotak-kotak biru dengan kaos hitam di dalamnya dan sepatu kets. Lelaki itu membuka helmnya.
“Kak, mau kemana?”
Ternyata pegawai pet shop tadi yang baru saja ditemuinya.
“Hai, mau ke Perumahan Puri. Ke rumah teman.” Jawab Gendis dengan sebuah senyuman.
“Kebetulan aku satu arah menuju kesana. Mau barengan?”
Gendis bingung antara ingin segera sampai di rumah Dirja atau tetap menunggu mas ojol yang sedang menambal ban.
“Ayo.” sahut Jagad sambil menyodorkan helm.
“Sebentar, aku akan mencancel dulu pesanan ojolku ya?” Gendis segera mengambil telepon, mengirim chat ke ojol, meminta maaf dan membatalkan pesanan.
“Baik, ayo.” Gendis menerima helm dan segera memakai lalu menaiki sepeda motor matik Jagad.
Tenyata Jagad sangat paham dengan keadaan jalanan di ibukota. Dia memasuki gang sempit dan mengambil jalur dalam jadi tidak tertahan oleh macet. Dia masuk ke perumahan-perumahan dengan gang sempit dan sangat lihai membawa sepeda motornya. Berkali-kali belok dan melewati beberapa rel kereta api dan juga beberapa gang sempit.
Dan hanya beberapa menit saja, tidak sampai setengah jam Gendis dan Jagad sudah masuk ke perumahan Puri.
“Kamu hapal benar dengan jalur-jalur tikus begini.” Gendis bertanya ke Jagad.
“Iya. Saya dulu juga narik. Muter-muter disini jadi hapal.”
“Pekerja keras juga. Mau melakukan apapun. Apakah hidupnya sulit? Sehingga harus mencari pekerjaan sambilan. Tapi anak muda sekarang kan memang selalu suka eksplore apapun. Baguslah otaknya jalan. Inisiatifnya terasah. Gak Cuma ngandelin duit orang tua.” Gendis bercakap-cakap dalam hati.
“Ambil jurusan apa?”
“Sejarah.”
“Wah orang-orang yang susah move on ya.”
Dan mereka berdua tertawa.
“Padahal aku sendiri kapasitas otaknya terbatas sekali. Jadi hanya menyimpan yang penting-penting saja. Tidak bisa semua ditampung. Emang payah.”
“Tapi menampung duit masih bisa berapa pun banyaknya kan?”
“Kalau itu sudah jelas.”
“Kenapa ambil sejarah?”
“Kita sebagai manusia jangan sampai lupa sejarah. Bahkan bisa jadi kita bisa belajar dari sejarah. Sejarah ditulis agar umat manusia tidak mengulang kesalahan yang sama.”
“Dan sudah sewajarnya juga jika manusia mengulang-ulang kesalahan yang sama. Karena manusia tempatnya salah. Dan kesempurnaan hanya milik Allah semata. Bukan begitu penonton?”
“Iya, mamah Dedeh.”
“Wuuu ….” teriak Gendis.
Beberapa kali mereka membicarakan suatu topik yang mereka lihat di jalan. Mulai dari trotoar yang penuh pengendara sepeda motor, macetnya jalanan Jakarta. Sampai pada drakor. Jagad berjalan dengan tenang dan tampak dengan pasti mengendarai sepeda motornya. Apalagi memasuki jam sibuk, jam segini jika tak hapal jalan tikus bakal akan kena macet di belantara sana.
“Eh, ada es tebu.”
“Mau?”
“Gak usah kita terus aja.”
“Aku tidak enak, sudah diantar pulang masa mau diajak mampir-mampir lagi.” Batin Gendis.
Tiba-tiba saja Jagad memberhentikan sepeda motornya di sebelah kiri jalan.
“Bang, es tebunya dua ya?”
“Oke, bang.” Penjual es tebu itu segera berdiri dari tempat duduknya. Mengambil beberapa lonjor tebu yang sudah dikupas dan memasukkannya ke alat pemeras, menadahnya dalam sebuah teko dan memasukkan dalam gelas plastik.
“Loh ini anak malah berinisiatif untuk beli es tebu tanpa disuruh.” Gumam Gendis dalam hati. “Mengapa anak ini begitu peka ya? Melakukan sesuatu tanpa diminta.”
“Minum sini atau bungkus?” tanya mamang pedagang itu.
“Bungkus.”
“Punya saya jangan dimasukkan plastik bang, biar saya pegang. Mau diminum langsung.” Sahut Gendis.
Oleh abang penjual es tebu, satu bungkus dibiarkan tidak memakai plastik dan satunya menggunakan plastik, memasukkan sebuah sedotan ke dalamnya. Jagad menerima bungkusan es dan memberikannya ke Gendis.
“Ini kak. Es tebu segar di sore yang temaram.” Lalu menyalakan sepeda motor dan menarik gas.
“Terima kasih Jagad.” Gendis menerima dan langsung meminum es tebu itu.
“Sama-sama, kak. Kita masih jauh? Depan itu sudah perumahan.”
“Sudah dekat.”
“Sebelah mana rumahnya, Kak?”
“Dari depan gapura masuk aja ke perumahan sebelah kiri jalan. Lurus aja, lalu belok kanan kemudian mentok dan ambil kiri. Rumah bercat putih paling ujung.”
“Oke. Kita sebentar lagi sampai.”
“Itu yang pagar putih.” Gendis menunjuk sebuah rumah dengan pagar putih.
Jagad segera memacu lebih cepat dan setelah mendekati rumah berpagar putih itu menurunkan laju sepeda motor. Dan mengerem ketika tepat di depan rumah yang ditunjuk Gendis.
“Sudah sampai kita, kak.”
“Iya.”
“Jadi biayanya dua puluh ribu plus lima ribu untuk es tebunya.”
Gendis langsung turun sambil tertawa dan melepas helm. Tapi pengaman helm agak susah dibuka. Beberapa kali Gendis mencoba untuk membuka kaitan helm tapi masih tak berhasil.
“Ah, sini saya bantu melepaskan.” Jagad melepaskan kaitan dengan hanya mengklik cukup sekali. “Kak, nanti pulang sama siapa? Jam berapa? Mau barengan lagi?”
“Wah, belum tahu, ada beberapa urusan juga yang harus diurus sih. Jadi waktunya belum tentu juga.” Gendis melepas helm dan memberikan ke Jagad. “Terima kasih atas tumpangannya ya?”
“Sama-sama, Kak. Smpai jumpa lagi.” Jagad menyentelkan helm di sepeda motornya. Menatap Gendis, tersenyum dan menarik gas motor. Gendis berbalik menuju pagar.
Gendis membuka pintu. Masuk ke dalam menuju ruang tengah. Tak ada siapa-siapa. “Dirjaaa.” Tak ada jawaban sama sekali. Ruang ini begitu tenang. Gendis melongok ke kamar tidur. Hanya ada tempat tidur. Tak ada Dirja. Kardus tempat Wortel saja juga kosong.”
“Dirja di mana? Dir … Dirja.” Gendis memanggil nama Dirja. Masih tak ada sahutan. Gendis pergi melongok ke kamar tidur, Dirja tidak ada di sana. Lalu ia beralih ke menuju dapur. Tak tampak sedikit pun sosoknya.
“Dirja?”
Tak ada sautan. Hening. Gendis lalu menelpon Dirja. Berharap dia mengangkatnya.
Beberapa kali dering handphone masih tidak terangkat.
“Kamu ke mana, Dir?” Gendis mulai khawatir.
Gendis kembali ke luar rumah. melihat garasi dan sepeda motor beserta helm Dirja masih terparkir manis. Ia masuk kembali ke dalam rumah. “Dia pasti masih di dalam rumah. tapi di mana?”
Gendis melihat tangga lalu mengarahkan pandangan ke lantai dua.
“Apa mungkin Dirja ada di lantai dua?” Gendis lalu kemudian berjalan menuju tangga dan naik ke lantai dua. Perlahan Gendis menaiki anak tangga dan menuju lantai atas.
Lantai dua. Ruangan luas dan hanya ada beberapa kanvas dan beberapa cat warna di ujung. Gendis menebar pandangan dan hanya ada ruangan kosong saja. Gendis menebar pandangannya ke seluruh ruangan.
“Dirja?” Dia melangkah perlahan.
Tak ada suara.