Gendis menghadapi akhir pekan dengan hati yang gembira. Tadi malam Dirja bersikap manis sekali terhadapnya. Setelah makan mi goreng Gendis dan Dirja sempat berbincang. Dekat dan hangat. Dengan tema yang beragam mulai dari ekonomi sampai dengan psikologi. Dan Dirja mampu membawa suasana menjadi lebih nyaman.
Tak ada rasa canggung untuk mereka berdua. Setelah berbincang, kemudian Dirja mengantarkan Gendis kembali ke kosnya. Aman tak terjadi insiden apapun. Semalaman hati Gendis dag dig dug tak karuan. Dan akhirnya terlelap dengan senyum bahagia.
“Pagi, Dirja. Tidurnya nyenyak?” Gendis mengirim pesan lalu meletakkan telepon di meja rias, dan berangkat ke kamar mandi.
Cling. Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi berwarna hijau.
“Belum tidur.” Dirja menjawab dengan cepat. Gendis tak menyangka.
“Kenapa? Mikir apa?” tanya Gendis.
“Tidak mikir apa-apa. Biasa dulu malah pernah lebih parah.”
“Parah? Kamu sakit, Dir?”
“Enggak.”
“Oh, syukurlah.”
“Mengapa semua orang selalu bertanya pertanyaan yang sama.”
“Siapa?”
“Ada. Pasti jika aku diam bertanya, sedang mikir apa? Atau ketika aku sedang tidak bisa tidur. Mereka mempertanyakan hal yang sama pula.”
Gending bingung harus menjawab apa.
“Dis, kita bisa ketemu nanti?” pinta Dirja dengan suara agak lirih. Gendis agak terkejut mendengarnya.
“Ingin rasanya berteriak dan bilang, YA, AKU MAU."Bisa. Tapi tak usah menjemputku. Biar aku saja yang datang ke tempatmu. Kamu sedang tak enak badan gitu.”
“Kamu tidak apa-apa? Jika iya, baiklah.”
Gendis menutup hpnya dan kemudian termangu sambil melihat bayangan diri di depan komputer. Hari ini Gendis merasa bahagia sekali. Kebun bunga di hati Gendis yang selama ini gersang dan tandus mulai bersemi menampakkan benih-benih bunga yang siap bersemi. Ada rasa yang menyembul keluar, sesak dalam hati. Tapi ada beberapa hal yang juga mengusik hati Gendis. Alasan-alasan mengapa Dirja seperti terusik.
“Bu Gendis tampak bahagia sekali.” Suara Asri mengagetkan Gendis.
“Duh, Asri. Bikin kaget saja. Sejak kapan ada di belakangku?”
“Maaf , bu. Baru saja. Tapi dari jauh bu Gendis tampak senyum-senyum dan dari wajah tampak sumringah sekali. Pasti Bu Gendis sedang berbahagia.”
“Sudah saya bilang jangan panggil bu. Panggil kaka tau cukup panggil Gendis saja.”
“Ya tidak enak, bu. Biarkan saya memanggil Bu kepada anda. Ini bukan lantaran karena ibu tua atau apa. Saya menghormati ibu.”
“Ah kamu ni Asri, bisa saja.”
“Jadi gimana, Bu? Mau cerita soal alasan ibu bahagia? Atau ibu baru saja mendapat chat dari pacar ibu?”
“Ah kamu ini. pintar membuat saya tersipu. Sudah mana laporan dari divisi penjualan yang aku berikan padamu tadi pagi?”
“Efek orang jatuh cinta ya. Hari kemarin tapi dikira tadi pagi.”
“Oiya, kemarin. Mana?”
“Ini, bu. Sudah beres semua. Anda tak perlu khawatir.”
“Wah, sip. Terima kasih Asri.”
“Sama-sama, bu. Masih ada lagi? Jika tidak ada, saya pamit.”
“Kalau laporan pertanggungjawaban yang saya minta tolong digandakan, sudah.”
“Itu, bu. Sudah daritadi di atas meja ibu.”
“Oh baiklah, Asri.” Gendis mengambil setumpuk berkas fotokopi yang sudah ada di mejanya.
“Baiklah. Ini sudah cukup. Nanti jika ada apa-apa saya akan panggil kamu.”
“Baik, bu.”
Gendis memegang kedua pipi dengan telapak tangannya lalu tersenyum kembali melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.
“Apa benar wajahnya tampak sedang berbahagia? Apakah senyata itu?”
Gendis kembali menatap komputer di depan kemudian menyalakan dan melihat kembali laporan yang sudah diberikan oleh Asri.
“Pekerjaan anak itu rapi,” gumamnya. Dan Gendis tenggelam dalam pekerjaannya.
***
Mentari mulai kembali ke poros dan memberikan sinarnya bagi belahan bumi yang lain. Gendis bersiap untuk ke rumah Dirja. Gendis menutup pintu, menguncinya lalu menaruh kunci rumah ke dalam tas. Gendis mengambil telepon genggam dan mengirimkan sebuah pesan ke Dirja, “Aku berangkat.”
Tak berapa lama Gendis sudah sampai di rumah Dirja. Membuka pagar, memasuki halaman dan berdiri di depan pintu. Belum sempat Gendis untuk mengetuk pintu, Dirja sudah membukakan pintu.
“Masuk.” Dirja menyambut Gendis dengan senyumannya.
Deg …. Tatapan mata. Senyuman itu. Gendis tersenyum kagok.
Kali ini Gendis ingin tetap di ruang tamu. Bukan karena apa-apa hanya saja dirinya masih terasa canggung untuk berhadapan dengan Dirja apalagi setelah kejadian semalam. Gendis duduk di sofa ruang tamu. Dirja duduk di sampingnya. Gendis agak menjaga jarak. Berusaha dengan keras untuk menguasai dirinya.
“Kamu …”
“Dari …”
Sahut mereka berbarengan. Gendis tertawa kecil. “Bisa gitu ya? Kebetulan banget.”
“Tidak ada kebetulan di kehidupan ini. yang ada hanya sinkronisitas.” Dirja menyahut sambil tersenyum.
“Kamu mau ngomong apa? Duluan deh.” Dirja menawarkan Gendis untuk membuka obrolan.
“Hah, ah enggak jadi. Kamu aja mau bicara apa tadi.” Gendis berusaha untuk menguasai dirinya.
Dirja tersenyum. Lalu menatap Gendis, “Maaf ya atas kejadian malam itu. Aku tak bermaksud begitu.”
“Dirja mulai lagi. Sekarang dia berubah kembali menjadi gunung es. Gunung es yang tiba-tiba bisa berubah menjadi seperti pemandian air panas. Kadang hangat, kadang dingin. Macam dispenser saja.” Gendis membatin dalam hati. Gendis tidak menjawab dan hanya memberikan senyuman saja ke Dirja. Gendis tak tahu lagi harus berbuat bagaimana.
“Bagaimana jika kita jalan-jalan?”
“Kemana?” tanya Dirja.
“Ya jalan aja. Muter-muter. Cari angin. Gimana?” Gendis tampak bersemangat.
Dirja memandang Gendis dengan sayu. Melihat raut wajah dan energi positif yang mengalir, semangat Dirja kembali pulih. Energi Gendis terlalu besar dan Dirja menyerap energi itu. Dirja tersenyum lalu mengangguk.
“Yaudah, mumpung masih sore. Ayo.” Dirja ke kamar mengambil jaket hitam miliknya dan segera mengambil kunci sepeda motor yang tergantung di samping pintu kamar. Lalu bergegas menuju garasi dan mengeluarkan sepeda motor.
“Pegangan ya?” Dirja memberikan aba-aba pada Gendis. Gendis segera menaruh kedua tangan ke samping kanan kiri pinggang Dirja. Dirja diam lalu menarik gas dan melaju. Mau tak mau Gendis langsung mengambil tindakan melingkarkan kedua tangan ke perut Dirja. Gendis menempelkan badan ke punggung Dirja.
Rasa damai, tenang dengan diiringi degup jantung yang tak menentu bercampur menjadi satu. Gendis ingin bersama Dirja selama mungkin yang bisa dilaksanakan. Ia ingin selalu bersama lelaki yang berada di depannya, yang sedang dia peluk. Dan tak ingin memperdulikan apapun itu.
“Malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan. Hanya ada aku dan Dirja. Cukup. Aku tak butuh apa-apa lagi,” batin Gendis.
Tiba-tiba saja di perempatan jalan Dirja mengerem mendadak. Ciiiiiiiiit. Gendis langsung menahan diri dengan tumpuan pada kaki. Tanpa aba-aba Dirja memberhentikan sepeda motor di tepi jalan.
“Ada apa Dir?” tanya Gendis sambil membenarkan letak helmnya yang melorot maju ke depan.
“Turun, Dis.” Dirja menyuruh Gendis untuk turun dari sepeda motor.
“Ada apa?” Gendis segera turun dari sepeda motor.
Dirja mematikan mesin lalu menstandarkan sepeda motor. Dia melangkahkan kaki menuju trotoar sebelah kiri. Dirja sedikit berjongkok kemudian mengambil sesuatu. Dan ternyata adalah … seekor anakan kucing oren berusia sekitar dua bulan dan merintih mengeong dalam pelukan Dirja.
“Bagaimana Dirja bisa melihat seekor anak kucing dengan penerangan yang minim seperti ini?”
Wajah Dirja tampak seperti malaikat pada waktu itu. Cerah dan menyunggingkan senyum manis. Dirja meletakkan kucing itu ke dalam jaket hitamnya dan kemudian berkata pada Gendis, “Dis, kita balik ke rumah ya. Kasian kucing ini. Tapi mampir dulu ke mini market bei makanan kucing. Masa sampai di rumah nanti dikasih makan mi goreng.”
“Iya gak apa-apa Dir. Ayo balik. Apa tidak sebaiknya kucingnya aku yang bawa aja?” Gendis mengiyakan ajakan Dirja.
“Gak usah. Nih kucingnya udah pewe di jaket. Gak bakal banyak gaya dia nanti kok. Yuk.”
Gendis bergerak mengikuti Dirja, “Mau kau bawa kemana saja aku pasti akan ikut Dirja.” Kata Gendis dalam hati.
Dirja memutar sepeda motor berbalik arah menuju rumah menembus pekatnya malam. Ia tampak dengan hati-hati membawa kucing dalam jaket. Kucing oren itu tampak diam saja berada dalam pelukan Dirja. Tidak mengeong sedikit pun bahkan tertidur di dalam jaket. Nyaman sampai mengeluarkan purring. Suara khas hrrrrh dari kucing. Hati Gendis menghangat kembali ketika melihat ketulusan di dalam diri Dirja. Ada sisi malaikat dalam dirinya. Poin, lagi!
Sebelum memasuki perumahan mereka berdua mampir ke mini market yang bewarna dasar biru.
“Biar aku saja yang masuk, Dir. Kamu tetap saja di luar sama si oren. Gak enak jika nanti di dalam dia mengeong-ngeong. Toh dia juga nyaman bersamamu.” Gendis segera masuk ke dalam mini market.
Disambut dengan sapaan dari mbak-mbak karyawan mini market, “ Selamat datang, selamat berbelanja.”
Gendis segera menuju bagian makanan kucing dekat dengan deterjen dan peralatan dapur dan bersih-bersih. Ia mengambil makanan kucing yang kecil disesuaikan dengan umur. Mengambil dua merk dengan rasa tuna dan salmon.
Untung saja malam itu tak banyak pembeli yang antri di kasir. Proses pembayaran berlangsung dengan cara cepat. Setelah membayar di kasir Gendis keluar dan melihat Dirja sedang mengelus punggung kucing oreng itu dengan penuh kasih saying. Dirja tersenyum, memasukkan kembali kucing oren ke dalam jaket dan menyalakan mesin kemudian pulang. Si Oren masih dengan posisi nyaman di dalam jaket Dirja.
Sesampai di rumah, Dirja segera mengambil beberapa kain bekas handuk yang sudah tidak terpakai yang akan digunakan sebagai alas tidur. Dirja juga mengambil sebuah kardus dari lantai dua. Ia pun menata kain dan juga kardus menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk kucing kecil oren. Dirja segera menuju dapur dan mengambil sebuah mangkuk kecil dan membuka makanan kucing yang sudah dibeli Gendis. Kucing oren itu makan dengan lahap dan sesekali hising karena tidak ingin makanannya diambil oleh orang lain.
“Tenang, pus. Tak ada yang akan merebut makananmu. Habiskan ya.”
Dirja duduk di depan kucing kecil itu dan sesekali mengelus bulu si oren.
“Sejak kapan suka kucing?” Gendis memulai percakapan dengan Dirja. Sembari Dirja menambah wet food untuk kucing kecil ini, Dirja menuang s**u ke dalam sebuah mangkuk yang lainnya.
“Sudah dari kecil. Dulu di rumah ibuku dan kakakku selalu memelihara kucing. Dan tidak hanya satu. Pernah sampai dua belas ekor. Kami juga beberapa kali mensterilkan kucing betina yang kami punya. Bahkan kami memperlakukan kucing bukan sebagai hewan peliharaan tetapi sebagai anggota keluarga. Aku melihat manusia tidak begitu memberikan rasa empati. Tapi untuk hewan saja bisa langsung terbawa suasana bahkan menangis. Bukan hanya aku. Ibuku dan kakak perempuanku juga merasakan hal yang sama. Kakak perempuanlu pernah nangis selama tiga hari karena kucing kami mati di depan rumah. Kami memang penyayang binatang.”
“Satu poin lagi untukmu Dirja. Entah hal sepele appun yang kamu perbuat aku tak akan sanggup untuk menolaknya.”
Gendis hanya bisa melihat Dirja yang sedang sibuk menyiapkan si kucing kecil oren ini.
“Pernah dulu suatu waktu ada kucing liar yang selalu saja minta makan ke rumah. Dia akan menunggu kucing-kucing kami makan dan dia menunggu di pojokan. Jika kucing-kucing sudah selesai dia akan mendekat dan makan makanan sisa. Saya dan mbakku merasa iba. Tapi karena dia liar, tidak mau dielus. Kepercayaan pada manusia begitu tipis. Pernah lama tidak datang untuk meminta makan. Ternyata sakit pada bagian perut. luka dalam dan memnbusuk. Mungkin bertengkar dengan kucing lain. Dan sayang tak bisa tertolong lagi.”
Dirja masih menaruh pandangannya pada kucing itu.
“Beberapa kucingku dulu ada beberapa yang sudah steril. Kamu tahu kan steril itu biayanya tidak sedikit. Tapi aku dan mbakku selalu saja ada dana untuk itu. Ya setidaknya bisa mengurus dengan baik dan dia tidak beranak pinak. Punya kucing terlalu banyak juga repot.”
“Mau kasih nama siapa Dir?” Gendis berusaha mengalihkan pembicaraan. Rasanya Gendis mendengar suara yang parau dari Dirja dan Gendis tak ingin kenangan buruk itu merusak malam ini.
“Siapa ya? Ini sepertinya jantan sih. Nama yang macho dan sangar gitu apa ya? Tapi harus unik.” Dirja menjawab pertanyaannya dengan sedikit senyum sambil tetap mengelus-elus tubuh kucing itu. Kucing oren tampak diam dan menikmati kemewahan yang ditawarkan oleh Dirja. Kucing itu tampak nyaman dan terasa tidak canggung dengan Dirja. Memakan semua makanan yang terhidang di depannya dengan cepat.
“Makannya lahap sekali.”
“Di jalanan itu terlalu keras. Bisa jadi dia selalu berebut makanan dengan kucing lain. Makanya ketika ada makanan dia cenderung mengeluarkan suara dan juga bersikap sangat rakus. Takut makanannya diambil kucing lain.”
“Iya benar juga ya?”
“Namanya Wortel.”
“Apa? Wortel? Kok wortel.?”
“Tak ada arti khusus. Lucu aja dan mudah diingat. Bulunya sama dengan warna wortel. Dan lagi ketika menemukan dia di kegelapan membutuhkan mata yang harus jeli. Mata bagus untuk wortel. Eh terbalik. Wortel bagus untuk mata Beda aja dengan yang lain. Wortel is Wortel, si kucing oren jagoan komplek.” Dirja tertawa sambil menggendong Wortel.
‘Kamu setuju, Dis?”
“Aku terserah kamu saja.”
Dirja Wortel dan mengangkat tinggi-tinggi Wortel ke arah langit-langit.
“Sudah biarkan Wortel makan makanannya terlebih dulu.” Gendis berusaha mengambil Wortel dari tangan Dirja.
“Eits, bentar dulu, mau kayak adegan di film Lion King dulu haha.” Dirja tertawa sambil bergerak memutar dan mengangkat tinggi-tinggi Wortel. Gendis juga ikut tertawa.
“This is Wortel.”
"Aku jatuh cinta!"