Gendis segera mengganti piyama dengan kaus pendek putih dan celana jins lalu mengusapkan sedikit bedak dan lipstik pada wajah. Dia tak menyangka bahwa Dirja akan menjemput ke rumah.
"Iya, ini Dirja!" pekiknya dalam hati sambil mematut diri di depan cermin.
“Akan diajak kemana kira-kira? Apakah akan ke tempat warung nasi goreng lagi? Atau menghabiskan waktu dengan berjalan mutar-mutar kota tanpa tujuan. Pokoknya hari ini aku akan bertemu dengan Dirja.” Senyum dan ceria tampak pada raut wajah.
Tepat selesai Gendis menyelesaikan mematut diri, suara sepeda motor berhenti di depan rumah dan Gendis langsung menghampiri Dirja.
“Ayo naik. Jangan lupa helm.” Dari jauh Dirja sudah mengajak naik sepeda motor tanpa turun.
“Gak mau masuk dulu?”
Dirja tersenyum dan masih berada di atas motor.
“Yuk, kita motor-motoran saja. Aku butuh udara segar. Dan aku yakin kamu juga membutuhkan yang sama denganku.”
“Oke deh. Aku ambil helm dulu ya?” Gendis segera masuk ke dalam untuk mengambil helm.
Selang beberapa saat, Gendis keluar dari rumah dan mengunci pintu. Berjalan menuju luar lalu segera memakai helm dan naik di boncengan belakang.
“Kita mau kemana?”
“Nanti kau juga akan tahu. Pegangan ya?”
Gendis melingkarkan kedua tangan ke pinggang Dirja. Dirja tampak diam saja dan tidak menyatakan keberatannya. Ia menyalakan mesin, memasukkan gigi dan mulai menancap gas. Pergi menyusuri jalan malam.
Gendis menatap langit malam yang bertaburan bintang. Langit tampak cerah. Indah. Entah yang membuat langit cantik malam ini apakah karena hatinya yang sedang bahagia atau langit malam yang memiliki sinar magis dan menyihir siapapun yang memandangnya.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan. Pergi melintasi fly over. Melewati pasar yang buka pada malam hari. Para pedagang menjajakan dagangan. Beberapa penjual sayur memangku tangan. Sepi.
Dirja turun dan membeli beberapa sayuran. membayar tanpa menawar.
"Kok tidak kamu tawar, Dir?"
Dirja tersenyum sambil menyantolkan sayuran itu pada motor. Menyalakan mesin lalu kembali menyusuri jalan.
"Ibu itu sudah sedari tadi menunggu pembeli dan masih belum laku. Siapa tahu di rumah, anak-anak ibu itu kelaparan. Jika ingin membantu, pilih pedagang yang sepi pembeli dan beli saja tanpa menawar. Jika kau membutuhkan barang yang kau beli, pakai. Jika tidak, berikan pada orang lain."
Gendis mengencangkan pegangan pada perut Dirja. Satu lagi poin.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan lagi. Mereka berdua benar-benar menikmati pemandangan malam. Terbenam dalam pemikiran masing-masing. Terkadang memang yang dibutuhkan seorang manusia adalah teman. Walau hanya dengan diam, selagi menemani, itu sudah cukup.
Dirja langsung mengarahkan sepeda motornya kembali ke perumahan miliknya. Membuka gerbang, memasukkan motor ke dalam garasi dan segera membuka pintu.
“Mari masuk.”
Gendis masuk ke dalam rumah itu untuk kedua kalinya. Lalu duduk manis di ruang tamu. “Ini rumah Dirja?” batin Gendis.
“Masuk ke ruang tengah aja. Aku buatin minum ya? Hangat?”
“Jangan repot-repot, Dir. Sebenarnya kita bisa pesan saja.”
“Jika pesan kamu tak bisa merasakan teh buatanku nanti.” Dirja melepas jaket lalu pergi ke dapur.
Gendis memandang ruang tamu yang kecil tapi ditata dengan sangat artistik dan mengikuti ke arah ruang tengah. Ruangan yang tidak begitu besar yang langsung tersambung dengan dapur. Bagian tengah ada sebuah televisi flat besar berukuran 48` dan beberapa buku yang berjejer diantara televisi kanan dan kiri membentuk lemari. Di depannya, ada sebuah matras kasur malas tempat menonton. Ada beberapa bantal besar dan cemilan di dekatnya. Di sebelah kanan ada dua kamar sedangkan sebelah kiri ada sebuah tangga menuju lantai atas. Di dekat tangga ada sebuah lemari yang berisikan benda-benda koleksi action figure terutama dinosaurus. Ada juga sebuah kotak alat musik. Beberapa kardus yang entah isinya apa.
“Apa ini? Gitar tapi bukan ah.”
“Ini gitar?” tanya Gendis kepada Dirja.
Dirja melongok dari dapur dan menuju ke arah tangga. “Bukan, itu biola.”
“Bisa mainnya?”
“Bisa sih, tapi cuma bisa-bisaan aja.” Sahut Dirja dengan senyum agak timpang. Raut wajahnya berubah.
“Bisa mainkan satu lagu? Apa aja boleh.”
Dirja membawa dua buah cangkir teh hangat ke meja dekat televisi.
“Sudah malam. Nanti mengganggu tetangga yang lain. Lain kali ya?”
Gendis mengangguk saja mengiyakan.
“Ada apa di lantai dua?”
“Oh itu, kamu bisa anggap saja ruang kerjaku. Berantakan. Penuh dengan barang-barang. Belum sempat untuk merapikannya,” ujar Dirja dari dapur.
Gendis berjalan menuju kumpulan buku-buku di samping kamar tidur. Ia melongok dan melihat sebuah lemari pakaian, tempat tidur, meja dan beberapa lukisan yang tergantung di dalam kamar. Pandangannya beralih menuju rak buku. Banyak buku yang dimiliki oleh Dirja. Ia berjalan menyusuri buku-buku satu persatu
“Beberapa buku dipinjam dan tak kembali. Biasalah. Mungkin memang sudah tidak jodohku lagi. Dan berjodoh dengan orang lain.” Dirja duduk memperhatikan Gendis dengan seksama. Dilihatnya Gendis memilih-milih buku dengan cara menyusuri judul buku.
“Suka filsafat juga?”
Dirja tersenyum kecil sambil mengedipkan kedua matanya Dirja menjawab, “itu yang hampir membuatku gila. Mencari Tuhan dengan melalui bermacam cara. Sampai akhirnya aku memahami tentang agama versiku sendiri.”
“Versi seperti apa?”
“Yakin kita akan membahas ini?” Dirja meletakkan gelas yang dipegangnya.
“Kamu meyakini adanya tuhan?” Tanya Dirja kepada Gendis.
Gendis menganggukkan kepalanya. Beranjak dari depan lemari buku. Lalu duduk di samping kanan Dirja.
“Bagaimana jika aku menjawab, Enggak. Tapi aku percaya ada suatu kekuatan yang mengatur dunia ini. Ya semesta itu sendiri. Kenapa? Kalo mau bahas Tuhan ala dia ya kamu harus bisa terbiasa membebaskan untuk berpikir, bebas gak ada ancaman. Indoktrinasi yang sudah kita dapatkan sedari kecil, membatasi dan mengancam. Isi pikiran dan membentuk pola pikir. Mencari tahu kebenaran mungkin memang hasrat ingin tahu, bukan karena diancam pake surga dan neraka. Mencari kebenaran itu tidak indah. Hidup seseorang bisa kacau karenanya.”
“Menurutmu sendiri apakah Tuhan itu, Dis?” Dirja bertanya kepada Gendis untuk memulai diskusinya.
“Pencipta alam semesta.”
“Pencipta itu masih terlalu umum. Cipta yang gimana? Sama enggak kayak menciptakan sesuatu yang baru? Menciptakan sebuah lukisan. Mencipta sebuah lagu.”
“Abadi?”
“Abadi itu kayak apa? Jika kekal artinya selamanya. Selamanya itu kan dimensi waktu? Waktu itu yang bikin siapa? Jika Tuhan yang membuat waktu? Sebelum waktu tercipta Tuhan ada dimana?”
“Esa? Satu?” kejar Gendis.
“Satu kan bilangan. Bilangan digunakan untuk memberi atribut pada satu benda atau satu hal. Nah bagaimana tuhan itu benda atau bukan? Jika tuhan itu hal, dimana posisinya terhadap hal yang lain? Padahal semua hal yang dihitung itu adalah hal. Hal itu ciptaan atau bukan? Kalau tuhan bisa dihitung, dia itu benda atau hal sebagaimana hal-hal yang lain?” Jelas Dirja menurut pandangannya dan pemahamannya.
Gendis berhenti sejenak dan memandang Dirja. Kemudian bertanya,
“Mengapa Tuhan tidak adil?” Iva berkerut tambah penasaran tentang penjelasan Runi.
“Tuhan itu apa? Apa syarat sesuatu dianggap Tuhan? Tuhan itu beneran ada apa engga?” berondong Dirja.
Gendis diam tidak banyak bicara, berusaha mencerna apa yang ada dalam isi pikiran Dirja. Gendis menatap Dirja lama. Dirja memandang balik ke Gendis.
Suara telepon genggam Dirja berbunyi. Ia mengambilnya kemudian berkata, “Hai, ada apa?”
Dirja berdiri dan mengarahkan pandangannya menuju kamar tidur.
“Kalau sekarang aku tidak bisa. Aku sedang bersama seseorang. Bukan. Ini rekan kerjaku.”
“Apa? Jadi selama ini aku hanya dianggap sebagai teman kerja? Tidak lebih?” batin Gendis.
“Oke. Sampai ketemu lusa.” Dirja menutup teleponnya dan kembali duduk di samping Gendis.
Gendis terdiam atas apa yang baru saja dia dengar.
“Sampai mana kita tadi?”
Gendis masih terdiam dan menyeruput teh hangat yang ada di hadapannya.
“Sejak kapan suka dengan parfum yang kau gunakan ini?”
“Eh, ….” Gendis terkaget. “yang mana? Yang aku pakai sekarang? Gak suka aromanya?” selidik Gendis.
“Hmm … hanya mengingatkanku dengan seseorang. Cukup lama. Si Bunga Matahari.”
“Oh bunga matahari yang ada di dalam foto profil Dirja.” Batin Gendis.
“Apakah bunga matahari yang ada di profilmu itu?”
“Sebenarnya aku agak sensitif jika berbicara tentang dia." Dirja terdiam. matanya menatap ke depan. "Tapi mau bagaimana lagi. Nyatanya dulu memang sudah terjadi dan kejadian. Entah semacam kutukan. Aku akan membuang dan menyuruh menjauh orang-orang yang benar-benar mencintaiku dengan tulus. Dan aku akan menyesal di kemudian hari.” Dirja memandang ke atas langit-langit.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”
Gendis tak tahu harus berbuat apa atau menanggapi bagaimana. Baru kali ini dia melihat Dirja sangat rapuh. Setahunya sosok Dirja adalah sosok keras yang akan selalu mempertahankan keinginan maupun opininya. Tapi malam ini Dirja berbeda. Dirja berusaha tetap tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
“Aku lapar, tapi malas ke luar. Mau makan mi?” tanya Dirja lalu segera berangkat menuju dapur.
“Aku saja yang masak boleh?”
“Bagaimana jika kita masak berdua?”
“Oke.” Sahut Gendis segera menyusul Dirja menuju dapur.
“Goreng atau kuah?”
“Goreng.”
Teriak mereka berdua bersamaan dan tertawa bersama.
Dirja merebus air dalam panci. Sedangkan Gendis mengiris bawang putih dan tomat serta kol untuk dimasukkan sebagai pelengkap mi. Dirja menambahkan sawi hijau dari sayur-sayuran yang dibelinya tadi.
“Kamu tahu Dis?"
"Apa?"
"Orang akan disebut sebagai orang sakti jika membuka bumbu dan minyak beserta saos plus kecap tanpa menggunakan gunting dan tidak terkena jemari."
"Emang ada yang bisa?"
"Seperti ini.” Dirja menunjukkan bekas bumbu dan kecap dari bungkusnya dan jemarinya masih kering. Gendis tertawa.
“Kok bisa?”
“Kamu harus banyak latihan nyisanak.”
Dirja menimpali sambil melempar bekas bungkus ke dalam tempat sampah. Pas masuk ke dalam.
“Sudah kubilang, Aku Sakti!”
“Tadi siapa yang menelpon?”
“Oh teman kerja. Atau bisa dibilang sahabat ya? Kami jarang bertemu dan ia ingin bertemu malam ini. Tapi aku sudah bilang aku tidak bisa dan kami akan bertemu besok malam.”
“Oh.”
“Kenapa? Kamu cemburu?” Dirja tersenyum lagi.
“Gak salah tuh? Bukannya kebalik?”
Mereka tertawa berdua. Gendis merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Dirja. Rasa jengkel dan sebal tiba-tiba menguap begitu saja. Aku bahagia berada di dekatnya. Gendis melihat wajah Dirja. Dirja pun menatapnya. Dirja mendekat. Mendekatkan tubuhnya. Wajahnya begitu dekat. Bibir itu. Gendis menutup kedua matanya.
“Ups airnya sudah mendidih.” Dirja mengambil bawang putih, tomat dan sayuran dan memasukkannya ke dalam panci yang berisi air mendidih.
Gendis salah tingkah. “Eh iya. Masak air biar matang.” Sahutnya.
Dirja yang mendengarnya tertawa terpingkal-pingkal lalu berseru, “Eaaaaaa ….”