Sementara itu di ujung koridor lantai atas. Seseorang berdiri memperhatikan lift yang baru saja turun.
Riffat Herlambang.
Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya tetap dingin dan tenang.
Tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun ketika angka pada layar lift terus bergerak turun menuju lantai dasar,
sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia ternyum tipis namun cukup untuk menunjukkan kepuasan.
Akhirnya setelah lima belas tahun berlalu ia bisa melihat wajah Aminuddin lagi.
Wajah jahat dan dingin yang tega memfitnah kedua orang tuanya hingga menemui ajal dengan cara yang sangat tragis.
Tidak satu hari pun sejak kejadian itu, ia bisa melupakan wajah kedua orang tuanya saat ajal menjemput.
Takdir kini memberinya kesempatan untuk membalas semuanya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.
Ponselnya bergetar. Salah seorang anak buahnya mengirim beberapa foto.
Foto Aminuddin yang menyeret Tia keluar kamar hotel. Foto wartawan yang mengerubungi mereka. Foto Tia yang masih terlihat linglung dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Riffat melihat satu per satu foto itu. Lalu mengunci layar ponselnya. Ini adalah awal kehancuran keluarga Aminuddin Rahmadsyah.
Apa yang terjadi malam ini hanyalah retakan pertama.
Bukan kehancuran. Namun retakan kecil selalu menjadi awal dari runtuhnya sebuah bangunan bukan?
Dan dia adalah orang yang akan memastikan retakan itu terus membesar. Sampai semuanya runtuh dan tidak ada yang tersisa.
Riffat menatap ke arah jendela besar di ujung koridor. Lampu-lampu kota berkilauan di tengah malam. Indah namun dingin. Sama dinginnya dengan tatapannya saat ini.
"Ini baru permulaan, Pak Aminuddin," gumamnya pelan.
"Aku sudah menunggu terlalu lama untuk malam ini."
***
Lima belas tahun yang lalu.
Hujan akan segera turun. Langit sore berwarna kelabu saat sebuah keluarga kecil berjalan tergesa di pinggir jalan.
Seorang pria kurus memanggul karung goni besar di punggungnya. Di sampingnya berjalan sang istri, sementara seorang bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun membawa kantong berisi botol-botol plastik bekas hasil memulung seharian.
Mereka lelah dan lapar. Namun wajah mereka tetap menyimpan harapan.
"Sebentar lagi kita sampai rumah," hibur sang ayah.
"Nanti kita makan mie rebus ya, Bu?" tanya bocah itu penuh harap.
Sang ibu tersenyum. "Iya. Hari ini hasilnya lumayan. Jadi kita bisa makan mi rebus dengan telur."
Mendengar itu, langkah bocah kecil tersebut semakin ringan.
Namun saat mereka melewati area parkir pusat perbelanjaan, sang ayah tanpa sengaja menyenggol seorang pria berjas mahal.
"Aduh, maaf, Pak. Saya tidak sengaja." Ayahnya langsung meminta maaf.
Pria berjas itu langsung memelototinya. "Matamu ke mana, hah?!"
"Saya benar-benar minta maaf." Ayahnya membungkuk sedikit.
"Dasar pemulung sialan," maki si pria geram.
Sang istri pria kaya itu buru-buru menarik lengan suaminya. "Sudahlah, Mas. Kita pulang saja. Sudah mau hujan."
Mereka pun berlalu menuju mobil.
Keluarga pemulung itu kembali melanjutkan perjalanan.
Namun belum sampai beberapa meter-
"Copet!"
Teriakan keras menggema. Mereka menoleh kaget. Pria berjas mahal tadi sedang berlari ke arah mereka.
"Copet! Orang itu mencuri dompet saya!"
Warga sekitar langsung menoleh.
"Yang mana, Pak?"
"Itu. Satu keluarga pemulung!" Pria itu menunjuk mereka.
Dalam hitungan detik kerumunan mulai terbentuk.
"Ampun, Pak. Saya tidak mencuri." Ayahnya merangkapkan tangan di d**a.
Namun tidak ada yang mau mendengar.
Bogem pertama menghantam wajah sang ayah. Disusul tendangan, pukulan dan makian.
"Mana dompet saya?!" Pria berjas itu berteriak marah.
"Saya tidak mengambilnya!" Ayahnya menggeleng kebingungan.
"Pembohong!"
Pria itu terus menghajar ayahnya. Sementara massa ikut tersulut emosi.
Bocah kecil itu berusaha menarik tubuh ayahnya.
"Jangan pukul Ayah saya! Ayah saya bukan pencuri!"
Namun seseorang mendorongnya hingga jatuh ke aspal.
Sang ibu langsung memeluk suami dan anaknya.
"Tolong! Kami bukan mencuri!" Ibunya berteriak keras. Namun teriakannya tenggelam oleh amukan massa.
Di sisi lain, wanita kaya itu sedang berusaha menenangkan putri kecilnya yang berusia dua tahun.
"Diam dulu ya, Tia." Namun anak kecil itu justru mengoceh sambil menarik sesuatu dari tas ibunya.
"Bu... Bu.. ini..."
Wanita itu menoleh. Lalu membeku. Di tangan putrinya terdapat sebuah dompet kulit hitam. Dompet milik suaminya.
Darah di wajahnya langsung lenyap. Ia ingat tadi suaminya menitipkan dompet padanya.
Berarti keluarga pemulung itu tidak bersalah. Mereka tidak mencuri apa pun. Suaminya salah menuduh orang.
Wanita itu menoleh ke arah kerumunan. Melihat keluarga pemulung yang sudah bersimbah darah, ketakutan menyergapnya. Kalau suaminya ketahuan memfitnah orang, suaminya bisa balik dipukuli. Nama baik mereka juga pasti hancur.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil dompet itu dari tangan putrinya. Lalu diam-diam menyelipkannya ke dalam salah satu karung goni milik keluarga pemulung. Sesaat kemudian ia berteriak.
"Ini dompet suami saya. Ada dikarung mereka!"
Semua orang menoleh.
"Dompetnya ada di sini!"
Ia mengangkat dompet tersebut tinggi-tinggi.
"Barusan saya menemukannya di dalam karung mereka!"
Massa langsung meledak.
"Dasar pencuri tidak mau mengaku. Kita habisi saja mereka. Biar jangan kebiasaan mencopet!"
Pukulan dan tendangan kembali menghujani keluarga kecil itu.
Lebih brutal dan lebih kejam.
Sampai akhirnya ketiganya terkapar tidak bergerak.
Bocah laki-laki itu terbaring di samping ayah dan ibunya.
Wajahnya penuh darah. Namun matanya tetap terbuka. Menatap pasangan kaya yang berdiri tidak jauh darinya.
Menatap pria yang memfitnah keluarganya. Menatap wanita yang berbohong di depan semua orang. Menatap bocah kecil yang tidak mengerti apa pun.
Dan untuk pertama kalinya kebencian tumbuh di dalam hatinya. Kebencian yang tidak pernah hilang hingga lima belas tahun kemudian.
"Pak Riffat?"
Suara seseorang membuyarkan lamunannya.
Riffat Herlambang mengangkat kepala perlahan. Kenangan itu memudar. Digantikan lobi hotel mewah yang terang benderang. Namun rasa sakitnya tetap sama. Seolah kejadian itu baru terjadi kemarin.
"Ya, ada apa?"
"Pak Kahlid menunggu di ruangan. Mau bertemu dengan Bapak katanya," ucap sang staf sopan.
"Baik, saya ke sana." Riffat bergegas menemui ayah angkatnya. Ya, Pak Khalid sebenarnya adalah ayah angkatnya. Beliaulah yang menolongnya sejak berusia 10 tahun hingga sekarang.