Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, Tia sudah disambut oleh teriakan ibunya.
"Kamu ini kenapa membuat masalah terus sih, Tia!"
Tia tidak menanggapi omelan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing. Setelah membuka sepatu, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
"Coba lihat ini!" Ibunya terus mengejar, menyodorkan layar tablet ke depan wajahnya.
Ogah-ogahan, Tia melirik. Di sana terpampang beberapa foto yang membuatnya mengernyit.
Foto dirinya di Club Sky Light. Ada foto saat ia sedang menari. Foto ketika berjalan sempoyongan. Dan yang paling parah, foto ketika tubuhnya yang setengah sadar tampak bersandar pada seorang pria asing yang membawanya keluar dari klub.
Berarti inilah pria yang dikatakan ayahnya tadi.
Setelah memperhatikan lebih saksama, Tia yakin pria inilah yang berbicara dengan Airin dan Amira di klub. Sialan memang dua sahabatnya itu.
"Sekarang jelaskan!" bentak ibunya kesal. "Siapa pria ini, Tia?"
Tia mengangkat bahu lalu menguap lebar.
"Tia nggak kenal, Bu," sahutnya pendek. Bu Astri membelalak.
"Nggak kenal, kamu bilang? Kalian berdua masuk ke hotel, tapi kamu bilang tidak kenal?"
Bu Astri menoyor kepala putrinya geram.
Tia diam saja. Tidak ada gunanya ia menyebut soal jebakan Airin dan Amira. Memang dirinya yang bodoh. Lagi pula ada hikmah besar dari kejadian ini.
Kedua orang tuanya jadi lebih memperhatikannya. Ini yang paling penting. Strateginya berhasil.
"Kenapa diam saja, hah? Punya mulut, kan? Jawab!"
Bungkamnya Tia membuat Bu Astri makin emosi.
"Dasar—"
Bu Astri menghentikan kalimatnya. Ponselnya berbunyi. Ia mendesis kesal saat melihat nama yang muncul di layar.
"Lihat ini! Semua teman-teman Ibu menelepon menanyakan kebenaran keonaran yang kamu buat. Apa yang harus Ibu katakan?" amuk Bu Astri lagi.
"Katakan saja kebenarannya. Biar Ibu nggak capek bohong terus," sahut Tia kalem.
Ia sengaja membuat ibunya makin marah.
"Dasar..."
Bu Astri memegangi dahinya frustrasi. Putrinya ini sudah tidak bisa dinasihati.
Sementara itu, Pak Aminuddin yang baru saja selesai berbicara di telepon ikut duduk di samping Tia.
"Kali ini kamu benar-benar membuat masalah besar, Tia."
Tia menghadap ayahnya. Ia siap dimaki-maki, asal ayahnya ada untuknya.
"Anak remaja main ke klub dan hampir saja menjadi korban laki-laki b***t. Untung saja pemilik Hotel Paramount mengetahui kejadian ini dari CCTV hotel dan meminta stafnya menghubungi Ayah. Kalau tidak..." Pak Aminuddin menggeleng. "Entah apa yang akan terjadi padamu."
Tia mengernyit.
"Pemilik hotel? Kurang kerjaan banget dia ngurusin hal remeh-temeh begini. Aneh."
"Aneh apanya?" bentak Pak Aminuddin.
"Ya aneh dong, Yah. Ngapain coba seorang owner tengah malam mantengin CCTV? Kayak dia udah tahu aja bakal ada kejadian ini aja."
"Kamu ini sudah ditolong malah mencurigai orang."
Pak Aminuddin melotot.
"Riffat Herlambang ini orang baik. Buktinya ini." Pak Aminuddin menunjuk ponselnya.
"Dia baru menghubungi Ayah dan bilang kalau laki-laki yang mempedayamu ada dua orang."
Tia menyipitkan mata. Ia jadi penasaran dengan sosok yang ayahnya deskripsikan.
"Dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Lalu melapor ke polisi hingga dua laki-laki itu akhirnya ditangkap."
Tia menyimak tanpa membantah sepatah kata pun.
"Dua orang staf hotel yang membantu juga ikut diamankan."
Pak Aminuddin tiba-tiba menjentikkan jari.
"Dan bukan itu saja. Manajer hotel juga dia pecat karena dianggap lalai mengawasi anak buahnya."
Tia menatap lantai sesaat. Meski tidak mau mengakuinya, ada sedikit rasa lega di dadanya.
Setidaknya orang-orang itu tidak bisa berkeliaran bebas lagi.
Pak Aminuddin mengembuskan napas panjang.
"Ayah terkesan dengan Riffat Herlambang ini."
Tia menoleh. Tumben ayahnya memuji orang.
"Riffat ini masih berusia dua puluh lima tahun. Masih muda, tapi mampu bertindak cepat dan tegas. Kalau dia memilih tutup mata, reputasi hotelnya mungkin aman. Tapi dia memilih untuk menolongmu."
Bu Astri ikut menyetujui.
"Benar. Dia bisa saja menghindari masalah, tapi malah memilih membantu. Dengan begitu nama baik kita tidak terlalu rusak karena kesannya Tia adalah korban."
Tia tidak mengatakan apa-apa.
Entah kenapa ia jadi penasaran.
Siapa sebenarnya pemilik hotel itu? Dan mengapa pria asing ini repot-repot menolongnya?
"Karena kebaikannya, tadi di telepon Ayah mengundangnya ke rumah kita Sabtu besok. Kamu harus mengucapkan terima kasih secara langsung," titah Pak Aminuddin.
"Baik, Yah."
Tia mengangguk cepat. Ia sangat gembira karena itu artinya hari Sabtu nanti ayah dan ibunya ada di rumah. Ia bahagia karena itu, bukan karena ingin menyambut si Riffat-Riffat itu.
"Dan mulai hari ini kamu tidak boleh keluar rumah kecuali ke sekolah," perintah Pak Aminuddin lagi.
Tia kembali mengangguk patuh.
"Iya. Asal Ayah dan Ibu juga segera pulang ke rumah setelah selesai kerja supaya kita punya waktu untuk makan malam bersama. Rima pasti akan sangat senang."
Hening.
Pak Aminuddin dan Bu Astri saling pandang sebelum sama-sama membuang muka.
Apa yang diminta Tia jelas tidak bisa mereka kabulkan.
"Jangan mengatur-atur orang tua. Lagi pula, kamu mau makan apa kalau kami tidak bekerja?" tukas Pak Aminuddin gusar.
"Sana, tidur. Ayah mau bekerja lagi."
Pak Aminuddin bersiap keluar rumah.
"Kerja apa jam empat pagi begini, Mas?" Bu Astri tiba-tiba menyeletuk. "Mengerjai simpanan barumu?"
Pak Aminuddin berbalik.
Ia menatap Bu Astri lama sebelum tersenyum datar.
"Kita sudah membuat kesepakatan sejak lama. Jangan mulai mendrama," tandasnya dingin.
Ia lalu berbalik menuju pintu dan keluar.
Meninggalkan Bu Astri yang menatap hampa ke arah pintu.
"Memangnya ada kesepakatan apa antara Ibu dan Ayah dulu?" tanya Tia penasaran.
Bu Astri mengibaskan kepala setelah terpaku sejenak.
"Bukan urusanmu. Anak-anak mau tahu saja urusan orang tua. Sana istirahat."
Bu Astri berjalan menuju kamarnya. Di dunia ini semua orang punya masalah masing-masing. Ia hanya perlu tetap berpikir logis. Maka semuanya akan baik-baik saja.