Tia baru saja turun dari mobil saat suara riuh rendah menyambutnya dari arah gerbang sekolah.
"Woho! Keren banget lo, Tia. Ratu sekolah kita sudah datangbteman-teman ayo beri jalan... beri jalan!"
Tia mengangkat sebelah alisnya.
Di belakang gerbang, belasan siswa sudah berkumpul seperti sedang menunggu artis besar.
Clara dan Desy bahkan berdiri paling depan.
Begitu melihat Tia, keduanya langsung mengacungkan dua jempol tinggi-tinggi.
"Gokil lo, Tia!" teriak Clara. "Nggak kaleng-kaleng!" sambung Desy heboh. "Habis teler langsung check in hotel! Lo emang cegil sejati. Ratu dugem se-Harapan Bangsa!"
Tepuk tangan semakin riuh. Teman-teman yang lain ikut bersorak. Beberapa orang membuat gerakan menyembah ala tren media sosial yang sedang viral.
"Hormat kepada Ratu Sky Light!"
"Salam kepada Penguasa Hotel Paramount!"
"Hidup Justitia Rahmadsyah!"
Tia meringis. Pasti foto-fotonya sudah tersebar di dunia maya. Namun ia tak menganggap itu masalah. Dengan santai ia tersenyum jumawa dan melambai-lambaikan tangan ke kanan dan kiri ala miss universe.
"Terima kasih, rakyatku." Tia melemparkan ciuman ke udara.
Sorakan makin pecah.
"Astaga dia sombong banget tapi gue suka!"
"Ratu cegil emang beda!"
"Kepada kalian para rakyatku. Istirahat nanti silakan ke kantin. Gue traktir makan siang kalian semua!"
"Asikkk. Ratu sudah bersabda! Kita semua bakalan makan enak!"
Suasana semakin riuh. Tak lama, suara tegas seorang guru terdengar dari belakang.
"Masuk kelas semuanya. Jangan membuat keributan!"
Kerumunan langsung buyar. Para siswa berlarian menuju gedung kelas sebelum terkena hukuman.
Tia masih sempat melambaikan tangan sekali lagi sebelum melangkah masuk.
Begitu membuka pintu kelas, suara tepuk tangan langsung menyambutnya.
"Selamat datang!"
Tony yang duduk di bangku belakang berdiri paling cepat.
"Selamat datang ratu hatiku. Mari kita tos!" Tony mengajak Tia tos high five. Tia melayaninya asal-asalan. Tony tampak sangat bersemangat.
"Gue akuin. Level kenakalan lo naik satu tingkat lagi."
Ia meletakkan tangan di d**a.
Tia menjatuhkan tasnya ke meja.
"Oh ya? Kenapa gitu?"
Tony merangkapkan tangan ke d**a.
"Karena dulu lo cuma ratu tawuran dan ratu rokok. Tapi sekarang," Tony menunjuk Tia penuh hormat.
"Lo nambah gelar jadi Ratu Dugem Harapan Bangsa."
Satu kelas langsung tertawa.
Tony kemudian menurunkan tubuhnya dan membuat gerakan menyembah berlebihan.
"Hamba bersujud pada Yang Mulia Ratu."
Anak-anak lain ikut-ikutan.
"Yang Mulia Ratu Dugem!"
"Penguasa Dance Floor Club Sky Light!"
Tia meringis. Pasti teman-temannya sudah melihat foto-fotonya di dunia maya.
Tony lalu mendekat dan berbisik genit.
"By the way, lo mau check in sama gue nggak?"
Tony mengedipkan sebelah matanya. Beberapa anak laki-laki langsung bersiul.
Tia menatapnya datar.
"Lihat nanti."
Mata Tony langsung berbinar.
"Serius?"
"Iya. Kalo kencing lo udah lurus."
Tawa seisi kelas meledak.
"Hahahaha!"
"Anjir!"
"Mampus lo, Ton!"
Tony sendiri malah tertawa paling keras.
"Tenang aja!"
Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Gue rela melakukan apa pun demi cinta. Kencing lurus juga gue usahain."
Gelak tawa kembali memenuhi kelas. Anak-anak laki-laki memang menyukai Tia. Bukan karena cantiknya saja. Tetapi karena keberaniannya yang tidak dimiliki kebanyakan siswi lainnya.
Masih tersenyum tipis, Tia akhirnya duduk di bangkunya.
Namun senyum itu perlahan menghilang.
Pandangannya tertuju pada dua meja di dekat jendela.
Kosong. Meja Airin dan meja Amira tidak ada pemiliknya.
Tia menyipitkan mata. Tumben.
Biasanya dua sahabatnya itu datang paling pagi. Mereka selalu punya bahan gosip baru setiap hari. Hari ini justru menghilang.
Tia menyandarkan tubuhnya. Ia makin yakin. Mereka takut bertemu dengannya.
Bagus. Dengan begitu mereka dengan sendirinya mengaku bersalah.
Tepat saat sedang berpikir demikian, sebuah buku tiba-tiba muncul di depan wajahnya.
Tia mendongak.
Azzam.
Si kutu buku berkacamata tebal.
Ketua kelas yang selalu terlihat seperti guru magang.
"Ini."
Tia melirik buku itu.
"Apa?"
"Catatan pelajaran kemarin."
Tia mengernyit.
"Ngapain lo ngasih gue catatan lo?"
"Karena lo nggak masuk kemarin."
Azzam mendorong bukunya lebih dekat pada Tia.
"Lo bisa nyalin dari catatan gue."
Tia menatap Azzam datar.
"Ngapain lo ngurusin gue?"
Azzam terlihat sedikit gugup.
Namun tetap menjawab.
"Biar lo nggak ketinggalan pelajaran."
Tia menopang dagu. Menatap Azzam lurus-lurus.
"Kenapa lo peduli?"
Azzam terdiam sesaat. Lalu menjawab serius.
"Gue nggak mau ada anak bodoh di kelas yang gue pimpin."
Hening.
Tony yang sejak tadi mendengar langsung berdiri.
"Apa lo bilang?"
Kursinya berdecit keras.
"Lo mau bilang kalau Tia bodoh?"
Tony menggulung lengan seragamnya. Siap menghajar sang ketua kelas yang culun.
Azzam mundur satu langkah.
Namun tetap berdiri tegak.
"Gue cuma bilang—"
"Lo cari mati, heh!"
Tony melangkah maju.
Namun Tia langsung menarik lengan Tony.
"Duduk, Ton."
"Tapi dia—" Tony menunjuk Azzam geram.
"Duduk gue bilang!" bentak Tia keras.
Tony akhirnya mendengus kesal lalu kembali ke tempatnya.
Tia menoleh pada Azzam.
"Terima kasih."
Azzam tampak sedikit terkejut.
"Tapi lain kali nggak usah ngurusin gue."
Tia menyodorkan kembali buku itu.
"Lo cuma ketua kelas. Bukan orang tua gue. Kenali kapasitas lo."
Azzam menerima bukunya kembali. Wajahnya tetap datar.
"Gue emang bukan orang tua lo. Gue cuma menjalankan tugas."
Jawaban itu membuat Tia mendecak. Dasar manusia aneh.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Azzam berbalik lalu kembali ke mejanya.
Beberapa saat kemudian bel pelajaran berbunyi. Kelas pun mulai belajar seperti biasa.
Sekitar satu jam berlalu. Pak Aziz, guru BP yang terkenal galak, tiba-tiba muncul di depan kelas.
Semua siswa langsung diam.
Pak Aziz menyapu ruangan dengan pandangan tajam.
Lalu berhenti tepat pada Tia.
"Justitia Rahmadsyah."
Tia yang sedang menulis mengangkat kepala.
"Ya, Pak?"
"Ikut saya ke ruang BP."
Satu kelas langsung heboh.
"Waduh."
"Mampus."
"Pasti soal hotel."
Tony menatap Tia khawatir. Tia sendiri hanya mengangkat bahu. Semakin banyak masalah, semakin sering ia bertemu dengan orang tuanya. Dan itu yang ia idam-idamkan.
Ia pun berdiri dengan semangat.
Namun saat berjalan melewati barisan bangku belakang, Ronald yang baru masuk setelah izin ke toilet tiba-tiba mencondongkan tubuh. Suaranya sangat pelan.
Hampir seperti bisikan.
"Tia."
"Hm?"
Ronald melirik ke arah Pak Aziz yang sudah menunggu di depan pintu. Lalu kembali menatap Tia.
Wajahnya terlihat tegang.
"Yang mau ketemu lo..."
Tia mengernyit.
"...polisi."
Langkah Tia langsung terhenti.
Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum santainya benar-benar menghilang. Ia paling malas berurusan dengan para polisi.