Ternyata apa yang dikatakan Ronald benar. Begitu sampai di ruang guru, Tia langsung melihat dua pria yang duduk di kursi tamu dekat meja Pak Aziz.
Keduanya mengenakan pakaian sipil biasa.
Tidak ada seragam polisi mau pun atribut kepolisian. Namun Tia langsung tahu kalau mereka bukan orang biasa. Postur dan bahasa tubuh keduanya yang kaku dengan rambut dipotong cepak, sudah mendeskripsikan profesi mereka.
Saat Tia masuk, salah satu pria berdiri.
"Selamat pagi, Justitia Rahmadsyah?" tanyanya.
Tia mengangguk. Pria itu mengeluarkan kartu identitas.
"Saya IPTU Ridwan."
Pria di sampingnya ikut berdiri.
"IPDA Gultom."
Pak Aziz yang sejak tadi mendampingi segera mempersilakan Tia duduk.
"Duduk, Tia. Pak polisi ini hanya ingin menanyakan beberapa hal," kata Pak Aziz menenangkan.
Tia menarik kursi lalu duduk.
Meski wajahnya terlihat santai, dalam hati ia sedikit gugup.
Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya ia dimintai keterangan oleh polisi.
IPTU Ridwan membuka buku catatannya.
"Jangan takut. Kami tidak mengambil keterangan resmi Anda di sini. Kami hanya ingin memastikan beberapa informasi yang sudah kami dapatkan dari para tersangka."
Tia mengangguk kaku.
"Untuk pemeriksaan resmi sebagai saksi sekaligus korban, nanti kami akan mengirim surat panggilan kepada orang tua Anda."
Tia kembali mengangguk. Ternyata permasalahannya tidak sesederhana itu.
"Bisa kita mulai sekarang, Tia?" Kali ini IPDA Gultom yang bertanya.
"Bisa, Pak," jawab Tia tegas.
"Baik. Kami akan mencocokkan beberapa informasi terkait kejadian di Club Sky Light dan Hotel Paramount."
IPDA Gultom mulai bertanya satu per satu. Tentang jam berapa ia datang ke klub. Dengan siapa ia datang. Dan apa yang ia lakukan malam itu.
Tia menjawab semuanya apa adanya. Tidak ditambah. Tidak juga dikurangi. Saat sampai pada bagian Airin dan Amira, wajahnya mulai mengeras.
"Mereka meminta saya turun dari dance floor untuk istirahat."
IPDA Gultom mencatat.
"Lalu?"
"Airin dan Amira memberi saya air mineral."
"Kemudian?" Alis IPDA Gulton berjungkit ke atas.
"Karena haus, saya pun minum. Awal saya minum, saya merasa aneh," ucap Tia sambil mengingat kejadian kemarin.
Kedua polisi itu saling pandang.
"Aneh? Seperti apa rasanya?"
"Pahit." Tia mengernyit mengingatnya. "Seperti ada obatnya. Lalu saya bilang ke mereka kalau rasa airnya aneh."
"Terus?" IPDA Gultom terus mencatat.
"Amira bilang mungkin saya kebanyakan joget."
IPTU Ridwan ikut mencatat di bukunya.
"Kapan Anda mulai kehilangan kesadaran?"
"Beberapa menit setelah saya minum."
Tia terus mengingat-ingat.
"Kepala saya pusing dan pandangan mulai kabur," imbuh Tia lagi.
"Saya ingat ada dua laki-laki yang sebelumnya mengobrol dengan Airin dan Amira."
IPTU Ridwan mengangguk.
"Jason dan Alvin."
"Saya tidak tahu nama mereka," pungkas Tia. "Yang saya ingat walau samar, sepertinya salah satu dari mereka menggendong atau memapah saya keluar dari klub. Itu ingatan terakhir saya."
Ruangan sejenak hening.
Pak Aziz yang mendengar cerita itu terlihat terkejut. Ia tidak menyangka anak didiknya ; Amira dan Airin tega menjebak Tia.
IPDA Gultom mengangguk. "Keterangan Anda ini sama dengan keterangan yang diberikan Jason dan Alvin."
Tia menoleh. "Mereka mengaku?"
Gultom mengangguk.
"Iya. Kami sudah memeriksa keduanya kemarin secara marathon," kata IPTU Ridwan seraya menutup buku catatannya.
"Airin dan Amira akan segera kami proses didampingi orang tua masing-masing."
Mata Tia langsung menyipit.
Jadi benar. Ia tidak salah menduga. Kedua sahabatnya memang terlibat.
"Nanti akan ada surat panggilan resmi dari kepolisian untuk Anda. Ayah Anda sudah membuat laporan. Jadi kami akan meminta keterangan resmi Anda sebagai saksi sekaligus korban."
Setelah beberapa pertanyaan tambahan, pemeriksaan singkat itu pun selesai.
IPTU Ridwan berdiri sambil merapikan catatannya.
"Terima kasih atas kerja samanya."
Tia mengangguk.
"Sama-sama, Pak."
IPDA Gultom sempat tersenyum tipis.
"Lain kali jangan pergi ke tempat yang seharusnya belum boleh Anda kunjungi."
Tia terdiam.
"Ah, dan satu lagi, jangan terlalu percaya pada orang lain. Kadang sebutan teman itu hanya kedok."
Kalimat itu membuat Tia tersenyum getir.
"Saya sudah mendapatkan pelajaran berharga itu kemarin, Pak Polisi."
Kedua polisi itu kemudian pamit. Pak Aziz mengantar mereka keluar ruangan.
Sementara Tia berjalan kembali menuju kelas.
Dan selama pelajaran, Tia tidak bisa fokus. Ia terus memikirkan apa motif Amira dan Airin menjebaknya. Mengingat mereka bersahabat sudah cukup lama. Sejak awal masuk SMA hingga sekarang.
Tia masih ingat bagaimana Airin dan Amira berusaha keras mengambil hatinya saat baru berkenalan dulu. Ia memang tidak mudah dekat dengan orang lain. Namun mereka berdua pantang menyerah dan terus mendekatinya selama berbulan-bulan lamanya. Hingga akhirnya ia luluh dan bersedia berteman. Ternyata keduanya adalah musuh dalam selimut.
Tulisan Tia di buku nyaris robek karena ia menekan pena dengan keras. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu muka dengan dua penghianat itu.
Karena terlalu banyak pikiran Tia tidak sadar kalau bell istirahat sudah berbunyi. Tia pun bergegas menuju kantin. Ia tidak mempedulikan panggilan Tony maupun Clara dan Desy. Ia tahu mereka pasti penasaran mengapa ada polisi yang mencarinya.
Tia mempercepat langkah. Perutnya keroncongan. Pagi tadi ia tidak sempat sarapan. Selain karena kesiangan bangun, ia juga harus membujuk Rima agar mau mandi, sarapan, dan berangkat sekolah tepat waktu.
Adiknya itu memang jauh lebih menurut padanya daripada kepada Bu Ambar, ART keluarga mereka.
Sesampainya di kantin, Tia langsung duduk di tempat yang biasa ia duduki bersama Airin dan Amira.
"Mbak Dewi, nasi uduk satu. Porsi besar ya. Laper banget ini," kata Tia pada putri pemilik kantin.
"Siap, Non Tia." Mbak Dewi segera meracik pesanan Tia.
Tia baru saja duduk ketika Bu Narti, Ibu Mbak Dewi sekaligus pemilik kantin tiba-tiba menghampiri. Di tangannya ada segelas es teh. Bu Narti memang sudah tahu minuman kesukaannya.
"Akhirnya Ibu ada kesempatan juga mengobrol berdua dengan Nak Tia."