Kirigan Morozov duduk dengan anggun di kursi kepala meja batu panjang yang dingin dan berlumut. Tubuhnya tinggi dan tegap, dibalut mantel hitam panjang dari wol halus yang membingkai siluetnya seperti bayangan malam. Rambut gelapnya terurai rapi hingga leher, kontras dengan kulit pucat yang nyaris seperti marmer. Tatapannya tajam, namun tak terbaca—sepasang mata abu-abu yang dinginnya seperti badai salju, tenang di permukaan tapi menyimpan bahaya di dalamnya.
Di tangan kirinya, ia memegang sebuah piala kristal antik. Cairan di dalamnya gelap dan kental, lebih pekat dari wine biasa, mengeluarkan aroma rempah-rempah dan sesuatu yang… lebih tua dari waktu itu sendiri. Kirigan mengangkat piala itu ke bibirnya dan menyeruputnya pelan, seolah sedang menikmati kenangan berdarah yang mengendap di dasar gelasnya.
Ruangannya remang, hanya diterangi oleh lilin-lilin tinggi yang membakar lambat di sudut-sudut ruangan batu itu. Asap dupa naik ke langit-langit lengkung, menciptakan ilusi bayangan yang menari-nari di dinding. Di sekelilingnya, lima tetua berjubah gelap duduk dalam diam, hanya suara lembaran kulit gulungan tua yang terbuka memecah keheningan.
"James Cosser, putra keturunan kelima dari darah pengkhianat, telah diberikan berkah keberuntungan dalam dunia fana, dengan syarat satu: ketika matahari menyentuh angka dua puluh dua, ia akan menyerahkan darah dari rahimnya sendiri sebagai persembahan bagi dewa yang terbangun pada malam kejatuhan tirai."
Kirigan tak berbicara. Ia hanya mencondongkan tubuh sedikit ketika salah satu tetua mengeluarkan dua foto dari dalam map tua. Kertasnya sudah menguning, namun gambar di atasnya masih jelas. Dua perempuan muda—satu mengenakan gaun pertunangan, satunya lagi dengan seragam universitas dan senyum yang tampak tulus.
"Ashpen Cosser, usia dua puluh tujuh. Akan menikah bulan depan," kata tetua itu, menatap tajam ke arah Kirigan. "Dan ini, Aerith Cosser. Dua puluh dua. Ia yang lebih sesuai."
"James melarikan diri dari sumpahnya," bisik salah satu tetua lain. "Kini saatnya membayar lunas dengan apa yang dijanjikan. Anak darahnya akan menjadi persembahan tahun ini. Tidak ada yang lebih pantas dari putri bungsunya."
Kirigan menatap foto Aerith lebih lama. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu yang berbeda. Bukan sekadar ketakutan yang akan datang, tetapi cahaya samar yang seperti menantang kegelapan. Ia menarik napas pelan.
Dia menyandarkan diri ke kursinya, memutar perlahan piala di tangannya. Ia menatap foto itu dalam diam, membiarkan ketenangan palsu menyelimuti dirinya sebelum ia akhirnya berbicara—nada suaranya dalam dan penuh kepastian.
"Maka, Aerith yang akan dibawa. Aku sendiri yang akan memimpin malam ini."
Bisik-bisik di antara para tetua langsung terhenti. Mata mereka melebar sedikit. Jika Kirigan turun langsung, itu bukan sekadar ritual tahunan—itu pertanda bahwa dewa mereka telah menunjukkan minat secara pribadi.
Dan Kirigan Morozov, sang pewaris kegelapan, tidak pernah turun tangan… kecuali untuk sesuatu yang benar-benar berharga.
-------
Siang itu, matahari bersinar hangat tapi tak menyentuh hatinya yang dingin.
Kirigan berdiri di seberang jalan, bersandar di dekat bangunan tua, membaur sempurna dalam keramaian kota kecil itu. Rambutnya yang gelap tertiup angin pelan, mata abu-abunya tersembunyi di balik kacamata hitam, tapi fokusnya hanya pada satu hal—gadis itu.
Aerith Cosser.
Langkah gadis itu ringan, nyaris seperti melayang. Dia berjalan sambil sesekali tertawa kecil bersama dua temannya, Claire dan Blair, serta satu gadis lain yang lebih berisik—Lana. Mereka tak menyadari bahwa sejak mereka keluar dari kafe pagi tadi, Kirigan sudah mengikuti.
Tak pernah sedekat ini, pikirnya.
Waktu memperhatikannya dari jauh tidak pernah cukup. Hari ini dia ingin tahu seperti apa suara tawanya, cara dia menyibak rambut peraknya yang panjang, caranya menatap langit seperti sedang bicara diam-diam dengan dunia.
“Aku ingin tahu apa yang membuatmu begitu... hidup,” gumamnya pelan sambil menarik napas panjang, membiarkan aroma wine pekat di mulutnya bercampur dengan udara siang yang hangat.
Tanpa menimbulkan kecurigaan, Kirigan menurunkan topinya sedikit, lalu berjalan ke arah pasar tempat gadis-gadis itu berhenti. Dia menyisipkan selembar kertas kecil di papan pengumuman: selebaran berwarna merah gelap dengan gambar siluet kelinci dan tulisan "The Hunt Begins – One Night Only."
Tak butuh waktu lama sebelum Lana, si gadis yang paling penasaran, melihatnya.
"Eh liat deh!" serunya sambil mencabut selebaran itu dan menunjukkannya ke teman-temannya.
Kirigan berdiri tak jauh di balik tiang, melihat reaksi mereka. Claire dan Blair tertawa, menyebutnya acara bodoh. Tapi Aerith... ia hanya diam. Matanya menatap selebaran itu agak lama, seperti ada sesuatu yang menggelitik naluri dalam dirinya.
Kirigan tersenyum kecil.
Ada bagian dari jiwamu yang sudah memanggilku bahkan sebelum malam dimulai, Aerith...
Aerith akhirnya menyimpan selebaran itu. Tak seperti Claire dan Blair yang sudah lupa, atau Lana yang sibuk mencari tahu soal lokasi acaranya, Aerith memilih diam. Tapi Kirigan tahu... diamnya menyimpan tanda. Gadis itu selalu seperti itu—tak perlu berkata apa-apa untuk bicara lebih dari yang orang kira.
Kirigan kembali ke mobilnya, sebuah sedan hitam tua yang berkilau angkuh di antara kendaraan sederhana lain. Ia duduk di kursi belakang, membuka layar kecil yang terhubung dengan kamera pengawas yang ia pasang di sekitar titik strategis kota. Ia menyentuh layar, membesarkan rekaman dari kamera di toko buku.
Di sana, Aerith berdiri, membolak-balik halaman novel dengan mata yang tenang namun tak fokus.
"Delapan puluh sembilan detak jantung per menit..." bisiknya pelan. "Tapi kau tetap terlihat seperti patung porselen yang tak punya rasa takut."
Di kursi depan, salah satu asistennya duduk diam menunggu perintah.
“Pastikan dia datang malam ini,” ucap Kirigan datar, menuangkan sedikit cairan ke gelas kristalnya. Bukan wine biasa—tapi minuman fermentasi tua yang digunakan dalam ritual malam kelam. "Bukan hanya karena janjinya harus ditepati, tapi karena aku... ingin tahu rasanya memiliki jiwa seindah itu."
"Asalkan dia datang, ritual akan lengkap?" tanya asistennya.
Kirigan mengangguk lambat, matanya tak lepas dari layar. “Ya. Tapi jika dia tidak datang... kita akan menjemputnya. Dengan cara yang lebih gelap.”
Ia menyesap minumannya perlahan, membiarkan rasa pahit pekat menyatu di lidahnya.
Sementara layar di depannya kembali menampilkan wajah Aerith—mata biru, rambut perak, dan ekspresi tenang yang seolah tak tahu takdir gelap sedang mengintainya, hanya dalam hitungan jam.
“Ke rumah pertemuan?” tanya asistennya.
Kirigan hanya mengangguk sekali, pandangannya masih tertuju ke kaca jendela yang buram karena embun siang itu. Dari tempat duduk belakang, ia bisa melihat pantulan toko buku kecil itu untuk beberapa detik terakhir. Ia tahu, Aerith masih di dalam sana—menunduk, membaca. Tidak sadar bahwa hidupnya sudah masuk dalam halaman terakhir yang tak bisa ia balikkan lagi.
“Terus awasi dia,” perintah Kirigan singkat.
“As you wish.”
Mobil melaju perlahan di antara jalanan kota yang mulai dipenuhi selebaran Halloween, namun tidak ada satu pun yang bisa menyamai kegelapan yang akan datang malam nanti.
---
Perjalanan tidak lama. Bangunan tua berarsitektur klasik berdiri kokoh di balik pagar besi tinggi. Dari luar tampak seperti rumah dinas atau kantor tua yang dilupakan waktu, tapi di dalamnya… segalanya hidup.
Para pemburu telah berkumpul. Beberapa berdiri di balkon atas, merokok dengan tatapan kosong. Yang lain duduk di dalam aula utama, bercakap pelan di balik musik klasik yang mengalun lembut dari gramofon tua.
Saat Kirigan masuk, ruangan mendadak sunyi. Semua kepala menunduk sebagai tanda hormat.
Dia tak memberi salam, hanya berjalan lurus menuju meja bundar besar di tengah aula. Di sanalah pertemuan tahunan dimulai. Dindingnya dipenuhi simbol-simbol tua, goresan dari bahasa kuno, peninggalan zaman ketika manusia masih percaya bahwa dewa haus darah dan janji tidak boleh dilanggar.
Asistennya menyerahkan sebuah map hitam. Kirigan membukanya perlahan, memperlihatkan dua foto.
“Ashpen Cosser, 27 tahun. Terlalu stabil, terlalu banyak koneksi. Dia akan merusak alur,” jelas asistennya tenang. Lalu ia menunjuk foto satunya. “Aerith Cosser, 22. Tak banyak teman, lemah secara emosional, dan…”
Kirigan menyela, “Cantik.”
“As you said, sir.”
Kirigan menggeser fotonya lebih dekat. “Darahnya. Janji itu mengikat. James Cosser mungkin sudah kabur dari kultus, tapi janjinya tidak pernah hilang. Dan sekarang… waktunya membayar.”
Ia menyandarkan punggung, menyeruput cairan gelap dari gelas tinggi—lebih pekat dari wine biasa, lebih merah dari darah segar. Rasanya pahit dan hangat, seperti peringatan.
“Noah dan Terrence?” tanyanya singkat.
“Mereka sudah datang. Bersama pemburu lainnya. Seratus total, seperti biasa.”
Kirigan tersenyum tipis. “Bagus. Tapi malam ini bukan ritual biasa.”
Ia berdiri, matanya abu-abu memantulkan cahaya jendela yang jatuh seperti potongan cahaya surga ke dalam ruang penuh kutukan itu.
“Malam ini bukan soal pengorbanan… tapi penyerahan.”