Waktu terus berjalan, meski aku merasa dunia seolah berhenti berputar. Tapi detik itu tak pernah benar-benar diam.
Sang predator melirik jam di pergelangan tangannya. Gerakannya lambat, tenang, dan sangat terukur. Seolah semuanya sudah ada dalam kendalinya sejak awal. Tatapannya kembali padaku—tanpa emosi, namun entah kenapa, justru dari situ aku tahu... waktuku hampir habis.
“Sudah hampir tengah malam,” suaranya dalam, berat, mengendap di udara seperti kabut. “Aku butuh jawabanmu, sekarang.”
Aku menelan ludah. Dadaku sesak. Bahkan untuk bernapas pun terasa sulit. Pikiranku kacau, tubuhku terasa kosong, dan hatiku... entah bagaimana, seperti sudah hancur dari lama.
Aku menoleh, sekali lagi, ke arah teman-temanku yang masih berdiri seperti patung di dekat api unggun. Mereka... bukan lagi mereka. Cahaya di mata mereka seolah telah mati. Dan aku tahu, aku tidak punya waktu untuk mencari harapan lain.
Apa aku benar-benar akan menyerahkan segalanya? Pada seseorang yang bahkan wajahnya pun tak kukenal? Pada pria yang mungkin lebih buruk dari monster mana pun dalam dongeng?
Tapi... apa pilihanku?
Dengan suara nyaris tak terdengar, aku membuka mulut. “Baiklah,” bisikku. “Aku... aku setuju.”
Kalimat itu keluar dengan berat, seolah menggerakkan seluruh isi hatiku yang tersisa. Aku tak tahu apakah aku baru saja menandatangani takdirku sendiri... atau membebaskan mereka semua.
“Aku korbankan diriku,” lanjutku pelan. “Seluruhnya. Untuk mereka.”
Sang predator menunduk sedikit, seperti sedang menghargai keputusan itu. Dan saat ia bicara lagi, suaranya terdengar berbeda. Ada sesuatu yang... hangat. Tapi bukan kehangatan yang menenangkan. Ini adalah api—api kecil yang menyala pelan tapi pasti, membakar dari dalam.
“Itu keputusan yang bijak,” ujarnya, langkahnya mendekat perlahan. “Dan mulia.”
Ia berdiri begitu dekat hingga aku bisa merasakan hawa tubuhnya menembus jaket kulit yang ia kenakan. Tangan bersarungnya terangkat, seolah ingin menyentuhku lagi seperti sebelumnya. Tapi kali ini, aku tidak mundur.
Dalam satu kalimat pendek, ia mengakhiri segalanya—atau mungkin justru memulainya.
“Mulai malam ini, kau bukan lagi milik dunia.”
Tanganku masih dalam genggamannya saat ia menatapku—meski wajahnya tertutup topeng hitam itu, aku bisa merasakan sorot matanya menyelami setiap inci ketakutanku.
“Kau bukan lagi kelinci, Aerith,” katanya lirih tapi tegas. “Mulai malam ini, kau adalah milikku.”
Suara itu menggema, menyeruak melalui keheningan malam yang menusuk. Bahkan api unggun pun seolah ikut terdiam.
Ia mengangkat tangannya tinggi, ke arah ratusan pemburu yang masih berlutut mengelilingi kami.
“Sesuai janjiku—ritual dibatalkan. Jiwa-jiwa ini akan diselamatkan.”
Tapi tak ada yang bangun. Para gadis yang berdiri di sekeliling api masih di sana—diam, kosong, seperti patung hidup yang kehilangan kesadarannya. Mereka tak lagi berjalan ke dalam api, namun juga belum benar-benar bebas. Tubuh mereka terdiam, tapi pikiranku berteriak. Aku ingin lari ke mereka, mengguncang bahu mereka satu per satu, namun aku tidak bisa bergerak. Langkahku seakan dipaku oleh satu hal: kehadirannya.
Lalu ia mendekat lagi, mengangkat pergelangan tanganku dengan lembut, seperti sesuatu yang rapuh dan mahal. Untuk sesaat, aku kira ia akan mencium tanganku—tapi tidak. Topeng itu tetap terpasang, tak bergeser satu inci pun.
Sebagai gantinya, ia menyelipkan sesuatu dari balik jaket kulit hitamnya—benda kecil seperti pena atau jarum yang berpendar merah gelap. Ia tak menjelaskan apa pun. Ia hanya menatapku, dan aku tahu... ini bagian dari perjanjiannya.
“Kita terikat sekarang. Kau mungkin tak bisa melihatnya, tapi ada benang merah tak kasat mata yang menyambung tangan kita. Ia akan tetap ada… sampai dunia berhenti berputar.”
Jarum itu menyentuh nadiku, tepat di pergelangan tangan. Rasanya... aneh. Seperti terbakar dari dalam, tapi dingin di permukaannya. Sakitnya bukan seperti tertusuk duri, tapi seperti menyerap seluruh rasaku.
Simbol itu muncul perlahan: bulan sabit terbalik, melingkar dan menyatu dengan sebuah mata terbuka di tengahnya. Gelap. Indah. Mengancam. Tinta itu seolah hidup—bergerak mengikuti detak jantungku.
“Tato ini tak akan bertahan selamanya,” bisiknya. “Tapi ketika ia menghilang dari kulitmu… aku akan datang menjemputmu. Dan saat itu, tak ada jalan pulang.”
Aku ingin berkata sesuatu. Aku ingin berteriak. Tapi kepalaku terasa berat. Pandanganku kabur. Dunia bergoyang. Suara api, suara napasku sendiri... semuanya menjauh.
Yang terakhir kurasakan adalah genggamannya di tanganku—hangat dan dingin sekaligus.
Lalu gelap.