Tangan besar itu masih terulur, menunggu. Seperti sebuah jebakan yang setia menanti mangsanya. Aku menelan ludah, mencoba mengatur napas, tapi rasa takut yang mendalam mulai merayapi setiap pori-pori kulitku. Aku merasa seolah-olah semua yang ada di sekitarku memudar, kecuali dia. Hanya dia. Sang predator yang tak pernah melepaskanku dari pandangannya.
Hatiku berdebar kencang. Aku bisa mendengar detakan jantungku yang terlalu keras, seolah dunia bisa mendengarnya. Pikiranku berkelana—mencoba mencari alasan untuk menolak, mencoba melawan tawaran mengerikan itu. Tapi, semakin aku berusaha berpikir, semakin berat pula dunia yang menekan tubuhku. Seakan dunia ini sudah terikat oleh kekuatan yang lebih besar, lebih kuat, dan aku hanyalah bagian dari sebuah permainan yang tak bisa aku hindari.
Aku tahu, tak ada pilihan lain.
“Apakah kau bersedia untuk menyerahkan hidupmu?” suaranya kembali menyentuhku, kali ini lebih lembut, seperti angin malam yang mengelus pipiku. Ia menggenggam daguku dengan tangan besar, memaksaku untuk menatapnya. Aku bisa merasakan setiap detik yang berlalu, berat, penuh beban.
Aku ingin berteriak, ingin lari, tetapi tidak bisa. Keterikatanku padanya—entah apa yang membuatku begitu rapuh—telah merasuk ke dalam darahku, ke dalam jiwaku. Tidak ada lagi yang tersisa selainnya. Aku menutup mata, berusaha melawan kenyataan ini, tapi aku tahu bahwa sekali aku mengalihkan pandanganku, sekali saja, semuanya akan berakhir. Dan saat itu, aku akan menjadi bagian dari dunia yang tak akan pernah bisa kembali.
“Apa yang terjadi setelah aku memberimu hatiku? Setelah aku menyerahkan semuanya padamu?” tanyaku, suaraku terdengar serak, tak lebih dari bisikan.
Ia tersenyum. Tapi senyuman itu bukanlah senyuman yang menyenangkan. Senyuman itu seperti senyuman seorang pemangsa yang sedang menunggu mangsanya menjadi lemah, menunggu saat yang tepat untuk menelan segala yang ada.
“Setelah itu, Aerith... hidupmu akan terikat padaku. Tak ada lagi yang bisa memisahkan kita, tidak waktu, tidak kematian. Semua yang kau miliki, semua yang kau rasakan, akan menjadi milikku. Dan begitu pula sebaliknya. Kau akan menjadi bagian dari aku, dan aku bagian dari dirimu. Seperti api yang tak bisa dipadamkan.”
Aku merasa tubuhku makin rapuh. Jiwaku bergetar, terasa kosong, seperti ada bagian dari diriku yang hilang. Tangan kecilku yang tadi menggenggam erat kini terasa lemah, tak berdaya. Aku terjatuh ke lutut, tubuhku menggigil. Ini bukan hanya tentang menyerahkan hidupku. Ini lebih dari itu. Ini tentang menyerahkan keberadaanku, segala yang ada dalam diriku, untuk dilumat dalam bayang-bayang yang tak pernah aku pahami sepenuhnya.
Setiap kata yang diucapkannya meresap ke dalam tubuhku, seperti aliran darah yang mengalir di bawah kulit. Rasa takut itu berubah menjadi kerinduan yang aneh, sulit dijelaskan. Sebuah keinginan untuk menyerahkan segalanya pada sosok ini, pada dia yang meskipun begitu menakutkan, namun juga memiliki daya tarik yang tak terelakkan. Hanya dengan satu kata, ia bisa memilikiku selamanya.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan gemuruh di d**a. Mataku tetap terkunci pada matanya, meski aku ingin sekali melepaskan pandanganku. Aku ingin berlari, melawan, melupakan semua yang ia katakan. Tapi tidak ada jalan lain. Seperti seorang b***k yang dilahirkan untuk mengabdi, aku tahu tak ada yang bisa menyelamatkanku dari takdir ini.
“Apakah aku benar-benar punya pilihan?” tanyaku lagi, suaraku bergetar, namun kali ini lebih pasti. Aku ingin mendengar jawabannya. Aku ingin tahu apakah ada sedikit saja peluang untuk melawan, untuk bebas.
Ia menatapku, lalu mengangguk perlahan.
“Kau selalu punya pilihan, Aerith. Tapi satu hal yang harus kau pahami—keputusan ini akan mengikatmu. Kau tak akan bisa lari. Tidak sekarang, tidak nanti.”
Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah meresapi kata-katanya. Ini bukan hanya tentang fisikku. Ini tentang jiwa dan hatiku. Aku tahu, setelah ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku tidak akan menjadi aku yang dulu. Aku akan menjadi bagian dari dunia yang tak bisa dimengerti oleh orang biasa. Dunia yang penuh bayang-bayang, penuh janji yang tak pernah bisa ditepati.
Dan dengan kata-kata itu, aku merasa seluruh duniaku runtuh.
“Jika aku menolak… apa yang akan terjadi?”
Suara itu keluar dari tenggorokanku dengan gemetar, lebih lemah dari yang aku harapkan. Jantungku berdetak tak menentu, begitu keras hingga menggema di telingaku sendiri. Aku menatapnya—sosok bertopeng hitam yang berdiri begitu tenang, seolah dunia tak akan pernah bisa menggoyahkan langkahnya. Tapi bukan itu yang membuatku menggigil. Melainkan ketenangan di balik kebisuannya. Ketidakpastian yang mengancam.
“Apakah ini sungguhan? Apakah ini semua hanya permainan Halloween yang keterlaluan…?” tanyaku lagi, suaraku nyaris tenggelam dalam desir angin malam.
Mataku melirik ke arah api unggun, tempat dua puluh gadis—termasuk Claire dan Blair—berdiri membatu, telanjang, rapuh, seperti boneka rusak yang digerakkan oleh tali tak kasat mata. Tak satu pun dari mereka bergerak. Tak satu pun dari mereka merespon teriakanku sebelumnya. Mereka menatap lurus ke arah api, tanpa ekspresi, seolah jiwanya telah lama meninggalkan tubuhnya.
Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan gemetar. “Kau bercanda… bukan? Ini semua… hanya lelucon jahat, kan? Kalian hanya menakut-nakuti kami.”
Hening.
“Aku bertanya... apa yang terjadi jika aku berkata tidak?” ulangku, sedikit lebih keras, meski tenggorokanku terasa tercekat.
Lalu akhirnya, suaranya terdengar, rendah dan dalam, menembus tulang-tulangku seperti racun yang mengalir pelan namun pasti.
“Kau akan tetap hidup, mungkin. Tapi mereka tidak,” katanya, kepalanya sedikit menoleh ke arah lingkaran gadis-gadis itu.
“Kau bisa berjalan pergi… tapi akan terus membawa suara teriakan mereka dalam tidurmu. Kau akan mendengar nama-nama yang kau cintai terbakar bersama nyala api yang menari malam ini.”
Tubuhku melemas. Aku mundur setengah langkah tanpa sadar, seolah kata-katanya mendorongku lebih kuat dari apapun yang bisa kulawan.
“Dan kau akan tahu… bahwa yang harus kau lakukan hanyalah menyerahkan dirimu.”
Aku terdiam. Udara mendadak terasa terlalu dingin untuk dihirup. Tanganku mengepal, tak ada lagi air mata yang tersisa, hanya tatapan tak percaya.
“Mengapa aku?” bisikku.
Topengnya menoleh padaku, dan aku merasa sorot mata di baliknya—meski tak terlihat—menembus setiap lapisan keraguanku.
“Karna kau satu-satunya yang bersedia bertanya... dan satu-satunya yang cukup kuat untuk memilih.”
“Aku tidak pernah memilih ini!” seruku, lebih keras dari yang kuduga. Suaraku pecah di udara dingin, menggema di antara pepohonan yang membisu. “Aku tidak pernah ingin datang kemari! Mengikuti acara bodoh ini sejak awal!”
Dadaku naik-turun, napas terengah seperti habis berlari jauh. Tanganku mengepal di sisi tubuhku, seluruh tubuh gemetar bukan karena dingin, tapi karena amarah, karena ketakutan yang tak lagi bisa kutahan.
Aku tidak tahu sejak kapan air mata kembali menggenang di pelupuk mataku, tapi aku tidak peduli. Tidak malam ini.
“Apakah kau pikir ini menyenangkan?!” bentakku lagi, suaraku serak, penuh kemarahan dan kesedihan yang menumpuk. “Kau pikir aku ingin berdiri di sini—memohon, merangkak, mendengarkan semua ini seperti mimpi buruk yang tidak berujung?!”
Sang predator masih berdiri diam, tak bergerak, tak bicara. Sikapnya begitu tenang dan datar, justru membuatku merasa lebih marah. Aku ingin ia marah balik, ingin ia menunjukkan bahwa semua ini nyata. Bahwa aku tidak sedang terjebak di antara mimpi buruk dan kenyataan.
Dan tanpa bisa kucegah, keluar pertanyaan paling bodoh dari mulutku. Aku tahu itu konyol, tapi aku terlalu putus asa untuk peduli.
“Kalau ini tentang uang…” ucapku, suaraku melemah namun masih dibalut emosi. “Kalau itu yang kau mau… aku bisa memberikannya! Ayahku cukup kaya. Aku bisa memberimu apa saja—berapa pun yang kau inginkan—asal kau hentikan semua ini…”
Aku tidak tahu siapa dia. Tapi saat itu, yang kupikirkan hanya satu—bahwa mungkin dia hanya pria gila yang butuh uang, dan jika aku bisa menukar kebebasan kami dengan angka, maka itu akan kulakukan tanpa pikir panjang.
Tapi matanya—atau setidaknya sorot tak kasat mata di balik topeng hitam itu—tetap tak bergeming. Dan saat ia bicara, aku tahu betapa bodohnya tawaranku.
“Aku tidak butuh uangmu,” gumamnya pelan, namun jelas.
Suara itu... bukan suara yang lapar akan materi. Bukan suara manusia biasa. Itu suara dari seseorang—or sesuatu—yang menginginkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kekayaan.
Dan saat itulah aku sadar.
Aku bukan sedang berhadapan dengan manusia. Aku sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli. Tidak bisa dinego.
Dan untuk pertama kalinya malam ini, aku benar-benar merasa kecil.