Langkah-langkah mereka… mulai bergerak.
Satu per satu, kaki telanjang para gadis itu melangkah perlahan ke arah api yang menganga, seolah-olah dipanggil oleh sesuatu yang tak bisa kulihat, tak bisa kudengar. Tapi mereka bisa. Jiwa mereka... menjawabnya.
“Tidak… Tidak!!” jeritku panik.
Aku bangkit berdiri, tubuhku limbung, tapi aku memaksakan kakiku berlari. Bukan ke arah api—bukan ke arah mereka. Tapi ke satu-satunya sosok yang belum tunduk, yang masih berdiri tegak bagaikan raja di tengah altar sesat ini.
Dia.
Sang predator.
Aku jatuh berlutut di hadapannya, napasku tercekat, air mataku tak bisa lagi kubendung.
“Tolong…” bisikku lirih. “Kau bisa menghentikan ini, bukan? Kau bisa menyelamatkan mereka…”
Dia hanya menatapku. Diam. Bayangan dari topeng hitamnya membungkus wajahku seperti malam itu sendiri.
“Aku mohon…” Aku memeluk kakinya, menggigil. “Lana… Claire… Blair… Mereka tak pantas berakhir seperti ini. Aku akan melakukan apapun… apapun yang kau mau… asal mereka jangan dibakar…”
Ia tetap tak bicara.
Tapi perlahan, tangan kirinya terangkat.
Gerakannya hening… namun begitu pasti.
Dan seketika itu juga, dua puluh gadis yang telah setengah jalan menuju api… berhenti. Seluruh tubuh mereka membeku. Tak ada yang melangkah lagi.
Aku memandang mereka, lalu kembali menengadah ke arah pria itu.
Apa yang baru saja terjadi?
Ketika aku masih berusaha bernapas dan mencerna segalanya, dia mendekat. Hanya satu langkah. Tapi cukup untuk membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.
Tangan kanan bertopeng itu terangkat perlahan, lalu menyentuh pelipisku. Jemarinya kasar tapi hangat. Ia menyelipkan helai rambut perakku ke belakang telinga, lalu menelusuri garis wajahku dengan lembut… seolah aku sesuatu yang berharga.
Aku menahan napas saat ia menyentuh rahangku. Mendorongnya sedikit ke atas agar aku menatapnya. Bola mataku menangkap pantulan cahaya api di matanya yang tersembunyi—atau mungkin hanya bayanganku saja.
“Kenapa…” bisikku. “Kenapa aku… tidak seperti mereka?”
Dia masih tak menjawab.
Tapi sentuhannya berkata lebih dari apapun.
Seolah tubuhku milik dunia ini… tapi aku miliknya.
Dan entah kenapa… itu jauh lebih menakutkan daripada api, atau kematian.
“Apa kau sungguh bersedia melakukan apa pun… demi menyelamatkan mereka semua?”
Pertanyaan itu keluar pelan, tapi rasanya seperti petir yang menyambar tepat di tengah dadaku. Aku menatapnya dengan mata sembab, penuh luka dan harap yang berserakan.
“Iya…” jawabku, tanpa ragu. Suaraku bergetar, tapi hatiku tidak. “Aku akan melakukannya. Apa pun.”
Tangannya—dingin, kasar, namun terasa anehnya menenangkan—mengangkat wajahku. Ia menatapku dari balik topeng gelapnya. Aku tak bisa melihat matanya, tapi aku merasa seolah aku sedang ditelanjangi. Dilihat sampai ke dalam lubuk jiwa. Aku tidak tahu apa yang ia cari… atau apa yang ia temukan di sana.
“Kalau begitu,” bisiknya, napasnya menyentuh kulitku, membuatku menggigil—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang tak kumengerti, “korbankan dirimu… dengan cara yang berbeda.”
Jantungku mencelus. “Caranya bagaimana…?” tanyaku pelan.
"Berikan hatimu, Aerith. Berikan jiwamu, kehidupanmu, setiap hembus nafasmu akan menjadi milikku. Kau akan terikat padaku, hingga bahkan kematianpun tidak akan memisahkan kita " gumamnya.
Dan seketika, dunia berhenti.
Angin membeku. Cahaya api seolah melambat, nyalanya bergerak seperti tarian dalam air. Dua puluh gadis yang tadi melangkah menuju api… kini diam. Kaku. Mata mereka tetap menatap kobaran itu dengan pandangan kosong. Para pemburu di sekeliling berlutut lebih dalam, wajah mereka tertunduk hingga menyentuh tanah, seolah tak sanggup menatap sosok pria yang berdiri di tengah.
Aku perlahan berdiri. Mataku terfokus pada para gadis itu—Claire, Blair… wajah-wajah yang kutahu. Yang kucinta. Yang ingin kuselamatkan.
“Apa maksudmu…?” tanyaku, kali ini dengan suara yang hampir tak terdengar.
Ia kembali mendekat. Jemarinya menyelip di antara helai rambutku, membelainya pelan seperti seseorang yang membelai porselen rapuh yang hendak pecah. Lalu tangannya turun ke rahangku, mengangkat wajahku agar menatapnya.
Lalu aku kembali menoleh padanya.
“Berikan aku hatimu, Aerith,” bisiknya sekali lagi. Tapi kali ini, kata-katanya beresonansi di dalam dadaku seperti mantra terkutuk. Ia mendekat. Terlalu dekat. “Bukan sekadar cinta yang fana… aku ingin jiwamu. Hidupmu. Segala sesuatu yang membentuk siapa dirimu.”
Aku menatapnya, menahan napas.
“Setiap detak jantungmu akan menjadi milikku,” lanjutnya. Suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang mengintai di balik nada itu—sesuatu yang kelam dan haus. “Setiap hembusan nafasmu, setiap langkah, setiap pikiran… semuanya akan tertambat padaku. Bahkan kematian tidak akan mampu memisahkan kita.”
Darahku seolah berhenti mengalir. Tubuhku mematung, dingin menjalar hingga ke tulang. Aku merasa seperti sedang berdiri di ujung jurang yang tak terlihat dasarnya—dan di hadapanku, bukan sekadar manusia yang berburu… tapi makhluk yang mungkin bukan dari dunia ini.
“Jadi ini harganya…?” bisikku, nyaris tak berani mendengar jawabannya sendiri. “Aku harus menyerahkan seluruh diriku padamu… seumur hidupku?”
Ia mengangguk, pelan. “Dan seumur kematianmu juga.”
Aku mundur selangkah. d**a terasa sesak. Rasanya seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Tapi tatapannya—meski tersembunyi di balik topeng itu—memanggilku. Memaksa jiwaku menjawab pertanyaan yang belum selesai.
Aku menunduk, tangan mengepal. Perutku terasa mual. Nafasku tak teratur. Ini bukan cinta. Ini… penaklukan.
Aku sedang membuat kesepakatan dengan iblis.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tak yakin apakah aku sanggup membayar harga yang diminta.