Udara malam kini berbau hangus dan logam. Aku mengikuti langkah para pemburu—masih menggigil karena kebingungan dan kecemasan yang belum sempat reda.
Mereka membentuk lingkaran sempurna di tengah-tengah taman, seperti ritual kuno yang sudah mereka hafal di luar kepala. Di pusat lingkaran itu… berdiri api unggun yang menjilat langit, tinggi dan panas, menyinari wajah mereka yang tersembunyi di balik topeng.
Cahayanya berpendar ke segala arah, memperlihatkan dua puluh sosok di sekeliling api itu. Tubuh-tubuh yang kukenal. Postur yang tak asing.
Teman-temanku.
Lana… Claire… Blair…
Tapi mereka bukan lagi seperti yang kuingat.
Mereka semua telanjang. Kulit pucat mereka tampak dingin di bawah cahaya merah-oranye api. Rambut mereka terurai, mata mereka menatap kosong ke arah kobaran itu, seolah tak bisa melihat apa pun selain nyala itu. Bibir mereka tertutup rapat. Tubuh mereka… diam. Tegak. Tidak bernyawa—tapi tetap bernapas.
“Tidak…” aku berbisik, sebelum akhirnya melangkah cepat, menerobos kerumunan para pemburu yang tak mencegahku. Langkahku mengguncang kerikil dan debu, hingga aku mencapai tengah lingkaran.
“Lana…!” Aku menyentuh lengannya. Kulitnya dingin, namun ia tidak bergeming. Matanya tetap menatap api, kosong.
“Claire… Blair! Ini aku… ini aku, Aerith! Lihat aku! Jawab aku!”
Tanganku gemetar saat mengguncang bahu mereka satu per satu. Tapi tidak ada reaksi. Tidak ada suara. Tidak ada kehidupan dalam tatapan mereka.
Aku bersimpuh di tanah, memeluk kaki Claire dan mengguncangnya dengan panik.
“Mereka kenapa?!” aku menoleh pada para pemburu yang hanya diam memperhatikanku dari balik topeng. Suara api unggun bergemuruh, tapi selain itu… hanya kesunyian yang menjawab.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA MEREKA?!”
Napas mulai sesak, tenggorokanku tercekat oleh ketakutan yang menjelma menjadi amarah dan ketidakberdayaan.
Kupandangi wajah mereka… tak ada luka, tak ada darah, tak ada jejak kekerasan—tapi mereka seperti telah diambil jiwanya. Seperti patung-patung yang diletakkan untuk menyambut malam.
Aku berbalik mencari satu-satunya yang mungkin tahu jawaban.
Dia berdiri di belakang kerumunan, tidak masuk dalam lingkaran. Topeng hitam itu masih menyembunyikan wajahnya. Jaket kulitnya berkilat terkena cahaya api.
“Kau tahu apa yang terjadi, kan?” tanyaku, suaraku parau. “Jawab aku… tolong jawab aku…”
Seratus pemburu itu, semuanya hadir. Wajah-wajah asing yang tadi tertawa, mencemooh, dan memburuku… kini berlutut dalam diam. Kepala mereka tertunduk, satu tangan diletakkan di d**a, yang lain di tanah. Namun satu orang tetap berdiri—dia. Sang predator. Sosok bertopeng hitam itu memancarkan kekuasaan yang tak seorang pun berani lawan.
“Ada apa dengan kalian…” bisikku pelan. Langkahku maju sendiri, tubuhku bergerak tanpa sadar. Aku tak sanggup berdiri diam.
“Lana… Claire… Blair…” Aku menyebut nama-nama itu, suaraku pecah, gemetar. “Bangun… Ini aku… A-Aku di sini…”
Tak ada jawaban. Tak satu pun dari mereka yang berkedip.
Aku menoleh ke sekeliling, berharap seseorang—siapa pun—akan menghentikanku, menjelaskannya, atau… memulihkannya. Tapi para pemburu tetap diam, membatu dalam posisi tunduk.
“Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian manusia?!” Aku menjerit. “Kenapa mereka seperti ini?!”
Aku mengguncang bahunya lana, meraih wajahnya dengan kedua tanganku.
“Lana, lihat aku! Ini aku!” Tapi tatapannya… kosong.
Aku beralih ke Claire, lalu Blair. Aku menangis, memohon, mencengkeram tubuh-tubuh mereka yang dingin dan tak menjawab.
“Kalian jahat… kalian semua…!” Aku menoleh pada sang predator, yang masih berdiri di luar lingkaran api, mengamatiku dalam diam. Dia tak bergerak. Hanya menatap dari balik topeng hitamnya.
Aku jatuh berlutut, memeluk lututku sendiri di tengah lingkaran itu. Panas dari api unggun menyengat kulitku, tapi aku tak perduli.
"Kenapa mereka seperti ini…?" bisikku lemah.
Dan saat itulah—satu suara terdengar dari atas, dari speaker retak yang sebelumnya mengumumkan nama demi nama.
"Ritus Ignis Animarum... telah dimulai."
"Persembahan malam ini… lengkap."
"Api menanti… dan arwah mereka akan dibebaskan."