Suara dentuman berat kembali menggema dari pengeras suara yang tergantung di beberapa sudut taman hiburan. Aku membeku. Nafasku tercekat di tenggorokan.
“Selamat kepada para pemburu…” suara pria itu terdengar seperti gumaman malaikat maut, “…dua puluh kelinci telah tertangkap. Nama terakhir yang masuk dalam daftar adalah… Emilia Voss.”
Aku mengangkat kepala perlahan, air mata masih membasahi pipiku. Jantungku berdetak tak karuan, tapi kali ini… bukan karena takut.
Aku masih di sini.
Tubuhku masih bebas. Nafasku masih terengah. Aku masih merasakan udara dingin yang menampar wajahku. Tapi nama itu… bukan namaku.
Bukan aku yang disebut terakhir. Bukan aku yang seharusnya sudah tertangkap sejak lima menit lalu. Bukan aku yang seharusnya melengkapi daftar dua puluh nama itu.
Aku berdiri perlahan. Lututku gemetar. Mataku menatap kosong ke arah kabut yang mulai menipis. Suara musik kotak itu masih berdenting di kejauhan—seolah mengejek pikiranku yang kalut.
"Aku masih di sini," bisikku, seolah perlu mengingatkan diriku sendiri bahwa aku nyata.
Dua puluh kelinci. Itu jumlah pastinya. Tidak lebih, tidak kurang. Aku hafal karena kami semua dikumpulkan, diberi nomor, satu per satu. Kami dihitung seperti barang.
Lalu jika aku masih hidup…
Dan jika Emilia adalah nama terakhir…
Ada dua kemungkinan.
Entah mereka keliru menghitung.
Atau… mereka sengaja menyisakanku.
Tubuhku merinding. Angin malam kembali menerpa kulitku, tapi kini yang membuatku menggigil bukan lagi dingin.
Aku menoleh perlahan ke belakang.
Dia masih berdiri di sana.
Sang predator. Diam. Tak bergerak. Seolah memang sedang menungguku menyadari sesuatu.
Pandangan kami bertemu. Mata di balik topeng itu masih menyala dalam bayang. Memandangku… seakan ia tahu segalanya.
Dan mungkin memang begitu.
Aku menelan ludah. Tubuhku kaku. Suara hatiku berdesir pelan:
Kenapa aku… disisakan?
Aku melangkah mendekatinya—bukan karena ingin perlindungan, tapi karena aku marah. Begitu marah hingga tubuhku nyaris tak bisa menampungnya.
“Aku tidak mengerti…!” suaraku pecah di antara isak yang masih tersisa, “Kenapa aku… kenapa aku tidak disebut?! Kenapa aku… tidak dihitung?!”
Ia diam, menatapku dari balik topeng hitam itu. Seolah jawaban bukan hakku.
Amarah membakar dadaku. Aku menggertakkan gigi dan menghantam dadanya dengan kepalan tanganku. Tapi tinjuku… terasa tak berarti. Hanya pantulan dari kelemahan dan putus asa yang menyamar jadi keberanian.
Kukepalkan tangan lagi, kuketuk dadanya dengan lebih keras. “Apa ini semua hanya permainan untukmu?! Apa mereka semua… teman-temanku… hanya hiburan?!”
Tak ada jawaban.
Aku terus memukul, walau tanganku sendiri mulai bergetar. “Kau tahu apa yang terjadi pada mereka! Kau membiarkan semua ini terjadi! Kau—”
Ding…
Jarum jam besar di tengah taman menunjuk tepat pukul 12:00 malam.
Dan tiba-tiba—
BLAAAMM!
Seluruh taman tenggelam dalam kegelapan. Lampu-lampu padam bersamaan. Suara musik kotak berhenti mendadak, menyisakan keheningan yang menakutkan.
Kemudian suara dari speaker kembali terdengar. Suara itu tak lagi menggoda atau mencemooh seperti sebelumnya. Kali ini… dingin. Resmi. Seolah memanggil tentara yang telah menyelesaikan misinya.
“Permainan telah usai. Semua peserta, kembali ke titik tengah. Semua unit… berkumpul sekarang.”
Langkah-langkah mulai terdengar. Dari arah kiri, kanan, segala penjuru taman. Satu demi satu pemburu muncul dari kegelapan, senyap… namun pasti. Masing-masing mengenakan masker berbeda—serigala, burung, topeng putih tanpa ekspresi. Mereka berjalan lurus, tanpa bicara.
Aku berdiri mematung. Tapi yang membuatku benar-benar menggigil bukan langkah-langkah itu—melainkan kenyataan bahwa tak satu pun dari mereka menoleh padaku.
Mereka… melewatiku begitu saja.
Seolah aku tidak ada.
Tidak, bukan seolah. Mereka sadar aku ada. Aku tahu itu dari cara mereka melirik sekilas… lalu segera menunduk saat menatap pria di depanku.
Satu per satu mereka membungkuk, menundukkan kepala mereka di hadapan sang predator.
Bukan padaku.
Padanya.
Sang predator tidak bergerak sedikit pun. Tapi wibawanya menghantam seluruh udara seperti lonceng perang. Ia tidak perlu bicara. Tidak perlu memberi perintah.
Mereka… tahu siapa dia.
Dan saat aku melihat itu, untuk pertama kalinya malam ini, ketakutanku berubah menjadi sesuatu yang lain:
Kebingungan.
Dan sedikit—sangat sedikit—perasaan… tidak sendiri.