Aku menarik napas pelan, d**a terasa berat. Suara detak jantungku masih belum tenang sepenuhnya sejak pengejaran tadi. Tapi kini, duduk di ruangan gelap bersama pria bertopeng ini, ketakutanku berubah bentuk—bukan lagi tentang pelarian, tapi tentang pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantui benakku sejak permainan ini dimulai.
Aku memberanikan diri. Suaraku lirih, hampir bergetar.
“Permainan ini… apa ini hanya permainan semata? Atau… semua kelinci benar-benar akan dibunuh?”
Dia tak langsung menjawab. Justru diamnya yang membuatku lebih takut.
“Aku sudah melihat dua temanku ditangkap,” lanjutku, lebih cepat. “Claire… Blair. Tidak ada kabar setelah nama mereka diumumkan. Tidak ada tanda apakah mereka dibawa keluar… atau—” Aku menelan ludah. “—dibunuh.”
Dia bersandar ke dinding, tangan bersilang di d**a. Topeng hitamnya menyembunyikan ekspresi, tapi matanya mengamati tajam.
“Mereka yang tertangkap tidak selalu mati,” katanya akhirnya. “Beberapa dijadikan tontonan. Beberapa… dijual. Sisanya tidak beruntung.”
Aku menegang. “Dijual?” bisikku, ngeri.
“Permainan ini bukan hanya hiburan untuk para pria yang memburu,” lanjutnya datar. “Ada taruhan. Uang. Kekuasaan. Dan beberapa... hanya ingin kelinci yang bisa mereka miliki secara eksklusif.”
Perutku mual. Dunia di sekitarku terasa semakin miring.
“Siapa kau… sebenarnya?” tanyaku, menatapnya tanpa bisa menyembunyikan gemetar di mataku. “Mengapa kau ada di sini? Mengapa kau tidak menangkapku saat bisa?”
Dia diam lama. Lama sekali. Sampai aku nyaris menyesal telah bertanya.
“Aku bagian dari permainan ini… tapi tidak sama seperti mereka,” jawabnya akhirnya. “Aku dipanggil setiap tahun, tapi aku jarang berburu. Aku lebih suka menonton. Menilai. Melihat siapa yang layak bertahan.”
“Layak… untuk apa?”
Dia mendekat perlahan, satu langkah ke arahku.
“Mungkin… untuk sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bertahan hidup.”
Aku menggeleng pelan. “Kau bicara seolah nyawa manusia bukan apa-apa.”
“Di tempat ini, memang bukan.” Suaranya rendah. “Tapi kau bukan hanya ‘manusia’ biasa, bukan?”
Aku terdiam. Tak tahu apa yang ia maksud.
“Kenapa kau mengikutiku, kelinci kecil?” bisiknya, nyaris seperti ejekan lembut. “Karena aku tidak menarik pelatuk?”
“Karena... meski aku tak tahu siapa kau, aku merasa… kau satu-satunya yang tidak ingin menyakitiku,” jawabku jujur. Suaraku gemetar. “Setidaknya belum.”
Ia menunduk sedikit, seolah menyelidik wajahku dari balik bayangan topeng.
“Mungkin,” katanya pelan. “Atau mungkin… aku hanya menunggu waktu yang tepat.”
Kata-katanya menggema di kepalaku.
Dijadikan tontonan. Dijual. Tidak selalu mati.
Aku memejamkan mata. Nafasku sesak. Tubuhku dingin. Dunia seperti berputar. Semua rasa takut yang selama ini kutahan, perlahan berubah bentuk—menjadi amarah… dan keputusasaan.
Aku menatapnya sekali lagi, mata kami bertemu, tapi aku tak sanggup berkata apa-apa. Rasanya aku ingin berteriak, memukul, mengguncangnya dan memaksanya untuk menjawab kenapa ini semua bisa terjadi.
Tapi aku tidak melakukannya.
Sebaliknya, aku berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Kakiku seperti bergerak sendiri. Langkahku makin cepat, hingga menjadi lari. Aku melewati koridor sempit dan gelap, hingga akhirnya menembus ke tengah jalanan taman hiburan yang terbuka.
Udara malam menusuk kulitku. Kabut menebal. Lampu-lampu kedap-kedip seperti mengejek. Musik kotak dari kejauhan terus berputar—melodi kanak-kanak yang kini terdengar menyeramkan.
Aku berhenti di tengah jalan.
Lalu aku berteriak.
“Claire!”
Suaraku memantul, menggema ke segala arah. Tak ada jawaban. Hanya suara angin dan putaran roda ferris tua yang berdecit dari kejauhan.
“Blair! Lana! Aku di sini! Tolong jawab aku!!”
Tanganku mengepal di sisi tubuh. “Claire! Lana! Blair!” Teriakku lagi, lebih keras. Suaraku pecah.
“Jawab aku… tolong… jawab aku…”
Air mataku menetes satu per satu. Aku jatuh berlutut di tanah berpasir, telapak tanganku menutup wajah. Tubuhku gemetar. Aku tidak peduli lagi siapa yang melihatku. Tidak peduli jika para pemburu mendengarku. Biarlah. Jika mereka ingin menangkapku, ambil saja. Aku tidak sanggup lagi.
Aku hanya ingin tahu kalau teman-temanku masih hidup.
Langkah kaki pelan terdengar di belakangku. Aku tahu itu dia. Sang predator. Aku tidak perlu menoleh.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya berdiri di sana. Mengamatiku.
Aku menarik napas yang tak stabil. “Kenapa…” gumamku pelan. “Kenapa harus kami? Kenapa harus seperti ini?”
Tangisku pecah, tak tertahan. Isakanku mengisi malam.
Aku menangis untuk Claire yang keras kepala tapi hangat. Untuk Blair yang penuh nyali dan sarkasme. Untuk Lana yang selalu mencoba membuatku tenang meski dirinya sendiri takut.
Aku menangis… karena aku merasa sendirian sekarang.
Dan di balik semua itu, ada rasa lain yang mulai tumbuh—takut… bahwa aku akan menjadi satu-satunya yang tersisa.