Aku terbangun dengan rasa haus yang menyiksa. Tenggorokanku kering, seperti ada pasir menempel di dindingnya. Kulirik jam di meja kecil sebelah ranjang—02:08. Aku mengerang pelan sambil memijat pelipis. Mataku berat, tapi rasa tidak nyaman itu terlalu kuat untuk diabaikan. Aku duduk perlahan, menghindari suara berlebih. Di sisi ranjang, Lana masih tertidur. Nafasnya tenang, selimutnya setengah menutupi wajahnya. Dia pasti capek banget.
Kepalaku menoleh otomatis ke meja kecil tempat biasanya aku naruh botol air. Kosong. Tentu saja. Aku mendesah, lalu bangkit berdiri.
Udara dingin langsung menyergap tubuhku. Gaun tidurku terasa terlalu tipis malam ini—berwarna gading pucat, lembut dan panjang hingga mata kaki. Bahannya tipis dan lembut seperti kabut. Bagian atasnya terbuka lebar, memperlihatkan bagian atas dadaku. Tapi aku terlalu ngantuk dan malas untuk ganti. Lagipula aku cuma ke dapur.
Aku membuka pintu kamar perlahan, dan lorong rumah langsung menyambutku dengan keheningan total. Semua lampu utama sudah dimatikan. Hanya cahaya temaram dari lampu gantung kecil di ujung koridor yang memberi penerangan samar.
Langkahku menuruni tangga pelan-pelan. Rumah ini terlalu sunyi. Biasanya aku suka ketenangan rumah besar kami—langit-langit tinggi, lantai kayu mengkilap, dan jendela-jendela besar dengan tirai tipis yang menjuntai seperti kabut. Tapi malam ini, keheningan itu terasa… berbeda. Dingin. Terlalu diam.
Saat sampai di tengah tangga, aku berhenti. Mataku langsung tertuju pada jendela besar di ruang tengah. Tirainya bergerak, ditiup angin malam. Jendelanya… terbuka?
Aku merasakan jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Siapa yang buka jendela itu?
Aku turun satu-dua anak tangga lagi, lebih lambat dari sebelumnya. Angin malam bertiup dari arah jendela, membawa bau embun dan sesuatu yang samar—bau asap rokok.
Aku membeku. Ada yang berdiri di luar sana.
Dari balik tirai yang bergoyang lembut, aku bisa melihatnya. Sosok tinggi, berdiri di bawah pohon tua di halaman belakang. Ia berdiri di tengah bayangan, wajahnya tak terlihat, tapi aku bisa melihat bara rokoknya menyala di antara jari-jarinya. Asepnya membentuk lingkaran pelan, naik ke udara malam.
Aku tahu aku harus mundur. Aku tahu harus menutup jendela dan lari balik ke atas, membangunkan Lana, menelepon seseorang, apa pun—tapi kakiku malah melangkah ke arah jendela. Seolah tubuhku digerakkan oleh rasa ingin tahu yang konyol.
Aku berdiri di depan jendela. Tirainya menyibak perlahan, menyentuh kulitku yang dingin. Sosok itu masih berdiri di tempat yang sama, tak bergerak, tak berkata apa pun. Tapi aku tahu… dia menatapku.
Lalu, tanpa pikir panjang, aku melangkah keluar. Kaki telanjangku menyentuh lantai batu beranda yang dingin. Angin malam menyapu kulitku yang hanya tertutup gaun tipis ini, membuatku menggigil.
Aku ingin memastikan… siapa dia. Dan… kenapa dia ada di sini.
Aku menggigil, tapi bukan cuma karena angin malam yang menusuk tulang. Sosok itu masih berdiri di tempatnya—tenang, santai, seolah ia memang punya hak untuk ada di sana. Bara rokoknya menyala lagi, sebentar, lalu asapnya melingkar naik ke udara.
"Apa kau?!" suaraku terdengar kaku, tapi lebih keras dari yang kuperkirakan. "Kau si predator itu, bukan?! Mimpi burukku?!"
Ada getaran samar dalam suaraku, tapi aku tetap berdiri tegak. Aku tak tahu dari mana datangnya keberanian ini—mungkin dari rasa marah, atau ketakutan yang berubah bentuk. Atau mungkin karena aku muak merasa seperti boneka yang tak tahu apa-apa.
Tapi dia diam saja. Tak menjawab. Hanya terus mengisap rokoknya dengan tenang, seolah-olah kalimatku barusan tak lebih dari angin lewat.
Aku merasakan darahku mendidih.
"Aku tanya kau siapa!" ulangku, lebih keras, melangkah maju ke halaman. Kaki telanjangku menginjak rumput yang basah embun. Gaun tidurku menempel di kulitku, tipis dan dingin. Tapi aku tak peduli. Mataku hanya tertuju padanya—sosok tinggi dalam bayangan pohon tua itu.
Sekarang aku ada di tengah halaman. Di antara rumah dan dia. Terlalu jauh untuk lari kembali tanpa kehilangan harga diri. Tapi juga terlalu dekat untuk pura-pura tidak ada apa-apa.
Jantungku berdetak begitu keras hingga terasa sampai ke telingaku. Tapi aku tetap menatapnya, menunggu. Apakah dia akan maju? Apakah dia akan bicara?
Tapi dia hanya berdiri di sana… mengisap rokoknya… dan tersenyum samar.
Tak lama kemudian membuang rokoknya ke tanah. Puntung itu jatuh tanpa suara, disusul bunyi lembut ketika sepatunya—sepatu hitam mengkilap yang tak cocok dengan halaman rumputku—menginjak bara terakhir dari api kecil itu. Satu hentakan, dan gelap total.
Lalu dia mulai berjalan.
Langkahnya lambat… sangat lambat. Tapi justru itu yang membuatku panik.
Langkah yang terlalu tenang, terlalu percaya diri, seolah dia tahu aku tak akan ke mana-mana. Seolah dia yakin aku akan tetap berdiri di sini dan menunggu dia datang padaku.
Dan—aku membenci ini—dia benar.
Kakiku tak bergerak sedikit pun. Bukan karena berani. Tapi karena takut.
Karena sesuatu dalam diriku berteriak, lari! Tapi harga diriku—sialnya—terlalu besar untuk membiarkan tubuhku mundur. Jadi aku berdiri kaku di tengah halaman, seperti gadis t***l dalam cerita horor yang selalu membuat keputusan terburuk.
Langkahnya bergema samar di malam yang terlalu hening.
Dan perlahan… bayangan pun mulai terurai. Wajahnya—yang selama ini cuma muncul dalam mimpiku, dalam fragmen-fragmen mengerikan yang kupaksa untuk kulupakan—akhirnya terlihat jelas.
Cahaya bulan menyentuhnya sedikit demi sedikit, seolah membuka tirai mimpi yang selama ini menyembunyikannya.
Pakaian serba hitam. Jaket panjang hingga lutut, pas di tubuhnya. Di tangannya—sarung tangan karet hitam yang ketat, berkilat tipis seperti plastik. Tak ada perhiasan, tak ada simbol. Hanya bayangan.
Mata itu—Tuhan—mata abu-abunya begitu terang di antara semua kegelapan. Tajam. Membelahku seperti kaca retak. Tatapannya tak berkedip, dan aku tahu, dia melihat semua: ketakutanku, kebodohanku, kebingunganku.
Kulitnya pucat, nyaris putih di bawah cahaya bulan. Dan rambutnya… gelap, jatuh rapi di dahinya. Sedikit acak-acakan, tapi justru itu yang membuatnya terlihat seperti pria yang tahu dia bisa mengacaukan segalanya—termasuk pikiranku—dan tetap tampak tak bersalah.
Dia tampan.
Untuk sesaat, aku membeku karena hal itu saja.
Bukan karena ketakutan. Tapi karena kenyataan mengganggu bahwa mimpi burukku… memiliki wajah setampan itu.
Dan itu membuat semuanya terasa jauh lebih berbahaya.
Aku tersadar.
Entah karena angin dingin yang menyusup lewat baju tidurku yang terbuka, atau karena firasat buruk yang membuat dadaku terasa sesak. Tapi tubuhku diam, kaku, menyatu dengan tanah dingin di bawahku. Jantungku berdetak cepat, seperti genderang perang di telingaku.
Aku masih di halaman belakang. Rumput yang sedikit basah menyentuh kulit kakiku yang telanjang, dan malam masih pekat menutup langit.
Beberapa detik sebelumnya, aku berani—atau berpura-pura berani—berdiri di tengah halaman rumahku sendiri, menatap sosok misterius yang bersembunyi di bawah pohon tua. Sosok yang hanya terlihat karena bara rokoknya yang menyala redup. Sosok yang diam, tapi rasanya seperti menertawakanku.
Dan sekarang, dia bergerak.
Bukan berjalan, tapi berlari—secepat bayangan yang meluncur dari balik pintu yang terbuka. Seperti binatang buas yang tak sabar mencabik mangsanya. Tubuhku berteriak ingin lari, tapi sudah terlambat. Jantungku seolah meledak saat dia menerjang ke arahku.
Tubuhku refleks mundur. Tapi terlalu cepat. Ujung gaun tidurku yang panjang mengikat pergelangan kakiku, dan aku kehilangan keseimbangan.
“Agh—!” ujarku panik, kakiku menyangkut di ujung gaun tidurku sendiri.
Kainnya menyentak pergelangan kakiku, dan aku tersandung.
Tubuhku jatuh. Tapi aku sempat menahan diri—telapak tangan dan sikuku menghantam tanah lebih dulu, menyelamatkan punggungku dari benturan. Napasku tercekat. Dingin malam dan rerumputan basah langsung menyentuh kulitku.
Saat aku menegakkan wajah, dia sudah di sana.
Hanya beberapa langkah dariku—lalu dia jongkok perlahan di depanku. Gerakannya tenang, seolah tak tergesa. Matanya menatapku dari atas. Sorotnya seperti pemburu yang melihat mangsa yang terpojok. Dan senyum itu…
Senyum miring yang mengejek. Santai. Nyaris malas. Tapi membuat bulu kudukku berdiri.
“Sudah cukup main-mainnya, Bunny,” katanya pelan. Suaranya rendah. Dalam. Seolah mendesis langsung ke dalam telingaku.
"Aku belum menyentuhmu... tapi kau sudah ketakutan."
Dia menyandarkan satu siku di lututnya, masih memandangiku seperti aku ini teka-teki menarik yang akan ia pecahkan pelan-pelan. Tangannya yang bersarung menyentuh rerumputan, nyaris menyentuh jemariku yang masih gemetar.
“Aku suka ekspresi wajahmu,” lanjutnya, suara itu tetap tenang, nyaris halus. “Campuran antara ingin kabur… dan ingin tahu.”
Dia menunduk sedikit, mendekat. Nafasnya nyaris menyentuh kulit wajahku. “ Waktumu sudah habis, Aerith.. Seperti yang ku katakan saat itu, aku akan datang menjemputmu saat tato itu menghilang dari titik nadi di tanganmu "