Aku menatap mata abu-abu itu—tatapan yang terasa seperti kabut dingin di tulang punggungku—dan saat itulah dunia mulai bergeser. Bukan karena dia menyentuhku. Bukan karena dia bicara. Tapi karena… potongan ingatan itu mulai kembali.
Semua yang selama ini kabur, samar, seperti mimpi buruk yang terlalu nyata—kini datang menghantamku dengan kejelasan yang menyakitkan.
Taman hiburan itu… tempat semuanya terjadi. Reruntuhan wahana, lampu-lampu rusak yang menggantung seperti hantu, dan api unggun besar di tengah area terbuka yang lapuk. Sekelilingnya penuh oleh orang-orang bertopeng. Mereka semua pemburu.
Aku… salah satu dari dua puluh gadis yang mengenakan kostum kelinci. Kami disebut "kelinci", target dalam perburuan itu. Aku ingat suara speaker, tanda dimulainya permainan. Aku ingat teriakan gadis lain. Langkah-langkah berat yang mengejar. Aku ingat bagaimana satu per satu dari mereka tertangkap… dan tiba-tiba wajah mereka berubah kosong. Tidak sadar. Seperti boneka.
Aku juga ingat saat aku hampir tertangkap. Nafasku tercekat, tubuhku gemetar, dan aku merasa semuanya sudah berakhir. Tapi kemudian aku bertemu dengannya. Bukan untuk menangkapku, setidaknya itu yang ku pikirkan pada awalnya. Saat dia memilih mengabaikanku ketika dia menemukanku, hingga akhirnya aku tanpa sengaja menabraknya.
Dia berdiri di depan api unggun, tinggi, gelap, dan penuh misteri. Semua pemburu lain—yang bahkan tak pernah menanggalkan topeng mereka—berlutut. Mereka membungkuk… padanya.
Dan aku? Aku melangkah mendekat. Bergerak dengan sendiri tanpa dia memintanya. Itu semua ku lakukan untuk menyelamatkan teman temanku, untuk Claire, Blair dan Lana, serta semua gadis yang tidak ku kenal.
Di sana, dia menawarkan perjanjian itu. Perjanjian yang membuatku terikat pada sesuatu, seseorang yang tidak pernah aku tahu seperti apa rupanya. Aku menyerahkan hidupku, kematianku padanya. Seluruh nafasku, pada seseorang yang aku tidak tahu siapa namanya hingga saat ini.
Tapi...
Tato di tangan ku, di titik nadiku adalah bukti dari ucapannya. Kami kini terikat, lebih tepatnya.. Aku terikat padanya. Seolah ada benang merah tak kasat mata yang mengikat diantara kedua lengan kami kini. Seandainya aku melihat benang itu, aku akan mengambil gunting dan memutuskan ikatan itu.
Sekali lagi aku menatapnya—menembus mata abu-abu itu yang sejak awal membuatku jengkel. Tatapan yang tidak seharusnya aku ingat, tapi entah kenapa terpatri begitu jelas dalam ingatan. Semua omong kosong yang dulu kupikir hanya bagian dari mimpi buruk kini berdiri di hadapanku sebagai kenyataan yang menjijikkan. Ini nyata. Terlalu nyata. Dan aku muak.
“Siapa kau sebenarnya?! Apa namamu?!”
Suara serakku terdengar lebih lantang dari yang ku maksudkan, seperti ledakan ketakutan yang tersamar dalam kemarahan. Aku mencengkeram rumput di bawahku, jari-jariku menggali tanah basah saat aku berusaha menahan tubuhku yang masih tergeletak. Pinggulku terasa nyeri—kerasnya tanah saat aku terjatuh tadi masih menyisakan sengatan tajam di tulang belakangku. Malu. Sakit. Dan terjebak di antara keduanya.
Aku tak bisa berdiri, belum. Tapi aku juga terlalu keras kepala untuk menunjukkan kalau aku takut. Jadi aku menatapnya dari bawah, menolak untuk memalingkan wajah.
Dia tidak menjawab. Hanya berdiri di sana, sebagian tubuhnya masih terselubung bayangan pohon tua. Rokok yang tadi dihisapnya sudah ia injak mati, dan kini hanya ada kesunyian, dipecahkan oleh nafasku yang terengah-engah.
Lalu ia maju selangkah—pelan, seperti bayangan yang tak terburu-buru memburu cahaya. Bibirnya melengkung, sebuah senyum kecil yang tidak ramah, tidak hangat—hanya mengancam.
“Kau ingin tahu siapa aku? Sekarang?” katanya rendah, suara itu dalam dan dingin seperti udara dini hari.
Tangannya terulur.
Aku menahan napas saat jari-jari itu menyentuh pipiku. Lembut… terlalu lembut untuk seseorang yang begitu berbahaya. Ia menyusuri lekuk wajahku, turun ke rahangku, lalu menyentuh bagian bawah daguku, mengangkatnya sedikit. Sentuhan itu seakan menuntutku menatapnya—seolah aku adalah boneka yang bisa ia mainkan sesuka hati.
"Beautiful," bisiknya nyaris tak terdengar, lebih kepada dirinya sendiri.
Lalu jemarinya berpindah ke leherku—menelusuri sisi kulitku dengan perlahan. Tubuhku bergetar, bukan karena dingin, tapi karena rasa takut yang mulai mencengkeram dari dalam.
Dan saat jarinya akhirnya menyentuh bibir bawahku, aku tak berpikir panjang.
Aku menggigitnya. Keras.
Aku terus menggigit ibu jarinya.
Darahnya menetes, mengalir dari sudut bibirku, tapi aku tidak peduli. Aku menatapnya—menatap pria itu dengan amarah yang membuncah dalam d**a. Sorot mataku menyala, penuh dendam, tapi ia tidak terintimidasi. Tidak sedikit pun.
Sebaliknya… ia tampak semakin tertarik.
Senyum tipis kembali terbentuk di bibirnya saat ia berbisik pelan, "Kirigan Morozov."
Suaranya dalam, nyaris seperti mantra. "Itu namaku. Ucapkan, Aerith," bisiknya lagi, napasnya menyentuh wajahku.
Satu tangannya masih berada di wajahku, tapi yang satunya lagi bergerak cepat—membenamkan jemarinya ke rambutku dan menariknya ke belakang. Kasar. Seketika aku meringis, gigitan terlepas dari jariku yang berdarah, kepalaku terdongak paksa.
Sakit. Tapi bukan itu yang membuatku gemetar.
"Ucapkan," katanya pelan. Penuh tekanan. Matanya menelanjangiku, seolah ia tahu… bahwa di dalam hati, aku memang menyebut namanya. Bahwa ada bagian dari diriku yang menginginkannya, sebenci apapun aku mencoba menyangkalnya.
"Pergi…" bisikku pelan, nyaris tak terdengar.
Dia tertawa. Rendah. Berbahaya.
"Jangan menantangku, zaychik. Aku tahu kamu mau menyebutnya," katanya sambil mendekat, napasnya menyapu kulitku. "Cepat sebut namaku… atau mulut cantikmu itu akan menggigit hal lain…" Dia menunduk, suaranya berubah lebih kelam, lebih erotis.
"…yang jauh lebih keras… sampai gigimu bisa rontok."
Jantungku berdetak kencang. Tapi tubuhku tidak bergerak. Mulutku terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya desakan panas yang semakin dalam—antara takut dan sesuatu yang bahkan tak berani kuakui pada diriku sendiri.
Alih-alih menyebut namanya, aku mendesis kasar dalam bahasa yang seolah tertanam dalam darahku sendiri.
“Ублюдок,” kutatap dia dengan kemarahan membara sebelum kuludahkan darah dari mulutku, tepat ke wajahnya.
Kirigan terdiam sejenak. Darah itu menetes di pipinya, bercampur dengan senyuman tipis yang pelan-pelan menjelma jadi tawa rendah, kelam, mengancam. Tawa yang tak memiliki sedikit pun belas kasihan, tapi… ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang dingin, gelap, dan mengerikan… namun nyaris terdengar menggoda.
“Oh, zaychik… begitu liar, begitu keras kepala.” Suaranya dalam, hampir seperti bisikan yang mematikan. “Aku lupa… kau punya darah Volkov mengalir dalam tubuhmu. No wonder you're such a little fighter.”
Cekalan tangannya di rambutku semakin kuat, menyakitkan, membuat leherku tertarik ke belakang. Aku terengah—antara rasa takut dan adrenalin yang kacau balau di dadaku.
Dia mencium bau ketakutanku dan malah tampak menikmatinya. Dengan tenang, ia mengeluarkan pistol dari balik mantelnya yang gelap, logam dinginnya berkilau di bawah sinar bulan.
“Kalau kau keras kepala seperti ini, sayang… maka aku harus memberimu pelajaran.” ujarnya, nadanya datar, mematikan, tapi bibirnya nyaris menyentuh telingaku saat berbisik, “Sebut namaku sekarang… atau mulut cantikmu itu akan kupaksa mencicipi sesuatu yang jauh lebih keras daripada jariku. Dan kali ini, gigimu tidak akan selamat.”
Aku menggertakkan gigiku, darah masih mengalir dari sudut bibirku. Mataku menatap tajam, meski air mata mulai menggenang tanpa aku sadari. Nafasku memburu, tetapi mulutku tetap terkunci rapat.
Kirigan menyeringai.
"Masih keras kepala?" bisiknya rendah, menggelitik kulit leherku. "Kau benar-benar ingin aku kehilanganan kesabaran, ya, zaychik?"
Bukannya tunduk, aku justru meludah lagi ke tanah, dia mendekatkan wajahnya dan aku seolah menantang maut. "Пошёл ты, ублюдок." (Go to hell, bastard.)
Kilat gelap melintas di mata abu-abu itu. Dalam satu gerakan secepat kilat, Kirigan menekan logam dingin pistol ke bibirku. Suaranya menukik rendah dan mengancam, tapi senyumnya tak pernah pudar.
"Kalau mulut kecilmu tak bisa berhenti bicara kotor, mungkin aku harus cari cara lain untuk membuatnya berguna."
Aku tersentak, tubuhku menegang. Aku mencoba menggeleng, panik, tapi Kirigan hanya menatapku dalam-dalam. Sejenak, dia membiarkan ketegangan menggantung—lalu menunduk, bibirnya menyentuh leherku, menggigit kulit tipis itu hingga meninggalkan jejak merah.
Aku terisak pelan, tubuhku gemetar. Pistol itu masih menekan bibirku, dingin dan mengancam. Lidah Kirigan menjilat bekas gigitan itu perlahan, dan rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku, bercampur takut dan rasa yang tak bisa aku jelaskan.
Begitu mulutku terbuka karena desah pelan, Kirigan mendorong pistol itu masuk ke mulutku—cukup untuk membuatku menahan nafas.
Dia berbisik di telinga, lembut tapi sadis, "Buka mulutmu, atau aku akan membuatmu melakukannya dengan cara yang jauh lebih menyenangkan untukku, dan jauh lebih menyakitkan untukmu."