Aku tak tahu kapan air mataku mulai jatuh. Mungkin sejak rasa dingin dari logam itu mengisi mulutku. Atau sejak lidahnya menyentuh kulitku dan membuatku menggigil bukan hanya karena takut... tapi karena sesuatu yang lebih mengerikan lagi: aku tidak menolaknya. Aku hanya... pasrah.
Tanganku mencengkeram tanah yang basah, berusaha bertahan. Tapi sia-sia.
Pistol itu berat, dingin, dan asing di dalam mulutku. Nafasku tercekat, aku hanya bisa menangis tanpa suara. Bahkan tangisanku terdengar lebih lemah dari desir angin malam. Tubuhku menegang, dan Kirigan... dia malah terlihat menikmati semuanya.
Dengan santai dia mengusap air mata di pipiku, seolah itu cuma embun pagi. Lalu dia menepuk pipiku pelan dua kali, ringan tapi menyakitkan—bukan karena kekuatan, tapi karena penghinaan.
“Shhh... tak apa, zaychik,” bisiknya lembut tapi mengancam. “Kamu akan terbiasa...”
Aku menutup mataku rapat saat ia menunduk lebih dekat lagi, napasnya menyentuh bibirku yang masih menyangkutkan logam itu di antara giginya. “Akan ada hal yang jauh lebih buruk dari ini. Tapi kau akan melewatinya. Karena aku akan ada di setiap sisinya. Di setiap rasa sakit. Di setiap air matamu. Sampai kamu tunduk.”
Tanganku mengepal, aku ingin melawannya—tapi aku tahu aku tak bisa. Dia terlalu kuat. Dan aku... aku mulai takut dengan diriku sendiri, dengan seberapa jauh aku membiarkannya menyentuhku, menyakitiku, dan... mengisi pikiranku.
“Kalau menyakitimu bisa membuatmu tunduk,” lanjutnya, nada suaranya berubah lebih rendah, hampir seperti rayuan iblis, “aku tak keberatan membuatmu menangis setiap malam. Aku akan membawamu ke neraka yang paling dalam... sampai kamu tak bisa lagi membedakan sakit dan nikmat.”
Tangannya menyusuri rambutku, menenangkan seolah aku miliknya, bonekanya, mainannya. “Tapi setelah itu... setelah kamu terbakar habis... aku akan membawamu terbang. Ke tempat yang tak pernah kau impikan. Ke surga... dengan seribu sayap yang kubuatkan hanya untukmu.”
Aku menangis lebih keras, masih tanpa suara. Mulutku terlalu penuh dengan ancaman dan dosa. Aku ingin berteriak, ingin lari, ingin kembali jadi Aerith yang dulu. Tapi aku tahu... aku tak bisa kembali. Karena saat itu, di malam sebelum Halloween, aku sudah membuat kesepakatan dengan iblis. Dan kini... aku hanya bisa menatap matanya yang kelam itu, sambil perlahan membiarkan jiwaku jatuh.
Dan dia tahu itu. Dia tahu aku miliknya.
Lalu cahaya.
Cahaya pertama yang kulihat setelah tenggelam dalam gelapnya malam dan kabut ancaman yang mengelilingiku. Lampu rumahku menyala tiba-tiba, terang, menusuk mataku yang basah air mata. Suara Lana menyusul beberapa detik kemudian, menggema dari balik jendela terbuka.
"Aerith? Hei! Kamu di luar?"
Seketika tubuhku menegang.
Kirigan membeku. Bukan karena panik. Tapi karena pertunjukannya terganggu. Perlahan, dia menarik pistol itu keluar dari mulutku, meninggalkan jejak air liur dan rasa malu yang membekas sampai ke tenggorokanku.
Aku terbatuk pelan, tubuhku gemetar. Tapi dia hanya menatapku sebentar, sebelum bibirnya melengkung membentuk senyum yang membuat perutku mual. Bukan senyum lembut. Tapi senyum lapar.
Dengan tenang, ia mengangkat pistol yang kini basah oleh air liurku… lalu menjilat sisi logamnya, tepat di bagian yang menyentuh lidahku. Matanya menutup sesaat, seolah menikmati rasa yang baru saja ia cicipi.
"Manis," bisiknya. "Aku tidak sabar mencicipinya langsung... dari sumbernya."
Tubuhku kembali menegang, dadaku naik turun, otakku berteriak menyuruhku untuk lari—tapi aku masih terduduk, lumpuh oleh rasa takut dan kebingungan yang menghantam berlapis-lapis.
Kirigan berdiri perlahan, membiarkan jaket hitamnya bergerak pelan mengikuti tubuhnya yang tegap. Dia membalikkan badannya… dan menatap ke arah rumahku, tepat ke jendela yang terbuka di lantai atas. Lampu di baliknya masih menyala, dan aku tahu… Lana sedang mencariku.
Namun Kirigan tidak tergesa.
Dia tidak pergi, tidak bersembunyi. Dia hanya berdiri di sana, seperti bayangan panjang yang tak bisa disingkirkan, menanti. Menunggu.
“Untuk malam ini... cukup,” katanya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Lalu dia menoleh ke arahku, menunduk sedikit, dan menatapku seperti seorang kekasih yang menjanjikan malam yang lebih panas dari neraka.
“Aku ingin kau berpikir bahwa kau aman. Itu bagian terbaiknya.”
Aku menahan napas, tak berani bergerak, saat dia berjalan mundur ke dalam bayangan. Perlahan… lalu lenyap.
Suara langkah Lana semakin dekat. Tapi satu-satunya hal yang bisa kurasakan... adalah panas aneh di bibirku yang dingin, dan dingin senyumannya yang masih menempel di otakku.
Dan aku tahu—ini baru awal.