Langkah kaki Lana terdengar semakin dekat. Aku masih terduduk di atas tanah, gaunku kotor, rambutku berantakan, dan tubuhku gemetar seperti daun di ujung musim gugur.
"Aerith?!"
Suara Lana penuh kepanikan. Dia muncul dari balik pintu belakang rumah dan segera berlari menghampiriku begitu melihatku terduduk di tengah halaman.
"Apa yang terjadi? Kamu kenapa?"
Aku tak sanggup menjawab. Bibirku masih terasa kebas, bekas dinginnya logam itu seperti tertinggal di sana… seperti hantu yang tak mau pergi.
Lana berlutut di depanku, wajahnya langsung berubah pucat melihat mataku yang sembab. Tanpa bicara lagi, dia langsung menarikku ke pelukannya.
Aku mencoba menahan tangis itu—tapi tubuhku lebih jujur dari mulutku. Frustasi, takut, marah, semuanya pecah bersamaan dalam isak yang tak bisa lagi kutahan.
Tubuhku terguncang dalam pelukannya. Tanganku mencengkeram bahunya seperti orang tenggelam yang menemukan sesuatu untuk bertahan. Tapi aku tetap diam. Tak ada kata keluar dari mulutku. Hanya tangis yang tercekik dan rasa perih yang menyesakkan d**a.
Lana mengusap punggungku pelan. “Kamu aman sekarang. Udah nggak apa-apa. Aku di sini…”
Tapi kami sama-sama tahu… itu bohong. Kirigan mungkin sudah pergi. Tapi dia masih ada—di udara yang kutarik napasnya, di jejak dingin di mulutku, dan dalam getaran samar benang tak kasat mata di pergelangan tanganku.
Aku tak bisa bicara.
Belum.
Dan malam itu aku tidak tidur.
Lana menemaniku di kamar, duduk diam di sisi ranjang tanpa banyak bicara. Sesekali dia menatapku, tapi tidak menuntut penjelasan. Seolah tahu… bahwa apa pun yang terjadi di luar sana, telah mengubah sesuatu dalam diriku secara permanen.
Aku hanya memeluk lututku sendiri, menatap ke luar jendela yang kini sudah tertutup rapat. Tapi bayangan itu… sosok itu… masih ada di balik kelopak mataku setiap kali aku memejamkan mata.
Kirigan Morozov.
Nama itu membekas seperti luka bakar.
Pagi datang tanpa suara. Dan seperti disiram kenyataan, suara mesin mobil orang tuaku menyentakku kembali pada dunia.
Aku mendengar suara langkah kaki, tawa pelan… dan suara yang sudah lama tidak kudengar.
“Ashpen?”
Begitu kakakku membuka pintu dan melihatku, senyum kecilnya langsung runtuh. Dia tahu ada yang salah hanya dari tatapan kosongku.
“Aerith?” tanya Ashpen pelan, mendekat.
Aku langsung memeluknya—lebih erat dari yang pernah kulakukan selama ini. Tangisku pecah kembali, kali ini di pelukan kakakku. Semua yang kutahan akhirnya runtuh.
Di ruang tamu, aku menceritakan semuanya. Dengan suara yang bergetar, tubuh yang masih lelah, dan hati yang compang-camping. Tentang malam itu, tentang perburuan, tentang benang tak kasat mata yang mengikatku dengan Kirigan, tentang ancaman dan tanda yang hilang dari pergelangan tanganku.
Saat aku selesai, ayahku berdiri. Wajahnya pucat, dan ada rasa bersalah dalam matanya.
“James… apa maksud semua ini?” tanya ibuku pelan.
Ayah menarik napas dalam, menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kutemui sebelumnya—penuh rasa takut.
“Dia datang untuk menagih. Ini… ini semua salahku,” gumamnya. “Aku tahu siapa dia. Aku tahu dari mana dia berasal.”
Aku menatapnya dengan mata lelah. “Kau kenal dia?”
Dia mengangguk. “Dulu… aku bagian dari kultus yang sama. Kirigan bukan orang biasa. Dia adalah pewaris keluarga paling tua dalam perkumpulan itu. Dan kalau dia sudah memilihmu—itu berarti dia tidak akan berhenti sampai mendapatmu.”
“Jadi… apa yang harus kita lakukan?” tanya Ashpen, matanya tajam.
Ayahku menatapku penuh tekanan. “Kau harus pergi, Aerith. Malam ini juga kalau bisa. Kita akan kirim kau ke Portland, ke rumah pamanmu. Di sana kamu bisa aman, untuk sementara. Ganti penampilanmu, sembunyikan identitasmu. Jangan pernah keluar sendiri. Dan kalau bisa… jangan percaya siapa pun.”
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Hatiku hancur. Tapi aku tahu… ini satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Untuk tetap jadi aku.
Sebelum Kirigan datang dan merenggut semuanya dariku—sekali lagi.
----
Semua terjadi terlalu cepat. Setelah percakapan itu, suasana rumah berubah. Seperti kabut yang turun pelan-pelan tapi meninggalkan hawa dingin yang tak tertahankan.
Aku diberi waktu hanya beberapa jam untuk berkemas. Tak sempat mengucapkan apa-apa pada Claire ataupun Blair. Bahkan sekadar meninggalkan pesan pun rasanya terlalu berisiko—ayah bilang, semakin sedikit orang tahu, semakin kecil kemungkinan Kirigan menemukan jejakku.
Lana tetap tinggal. Dia satu-satunya yang kuizinkan membantu. Satu-satunya yang melihatku pada malam paling gelapku, dan tidak pergi.
“Ambil semuanya yang kamu perlu,” katanya sambil membantuku menyusun pakaian ke dalam koper besar berwarna hitam.
Aku hanya mengangguk, memasukkan gaun-gaun favoritku, beberapa buku, parfum, dan sekotak kecil penuh surat dan foto masa kecil—kenangan terakhir dari rumah ini. Rumah yang tak lagi terasa seperti rumah.
“Kau yakin tidak mau bicara ke Claire atau Blair?” Lana bertanya lagi, suaranya ragu.
Aku menoleh pelan, mataku sembab tapi sudah kering. “Kalau aku bicara sama mereka sekarang, aku nggak akan sanggup pergi.”
Lana diam. Dia mengerti. Lalu dia memelukku dari belakang, dagunya bertumpu pada bahuku.
“Kamu nggak sendiri,” katanya pelan. “Dan kamu akan pulang. Suatu hari nanti.”
Aku mengangguk pelan, tapi dalam hati aku tahu—kalau Kirigan benar-benar menginginkanku, mungkin pulang bukan lagi pilihan. Mungkin… tidak ada yang bisa kembali seperti dulu.
Ketika malam turun, mobil hitam keluarga sudah terparkir di luar. Ayah berdiri di depan pintu, bersama sopir kepercayaan kami yang akan membawaku ke stasiun kereta untuk menuju Portland malam ini juga.
Aku mengenakan hoodie besar warna kelabu dan celana panjang hitam. Rambutku diikat ke belakang, wajahku tanpa riasan. Aku nyaris tak mengenali diriku sendiri di pantulan kaca ruang tamu.
Satu langkah keluar dari rumah terasa seperti langkah keluar dari hidupku yang lama.
Saat pintu mobil terbuka, aku menoleh sekali lagi ke arah Lana.
Dia menggenggam tanganku erat, lalu menyelipkan sesuatu ke sakuku. Sebuah liontin kecil berbentuk tetesan air—punya ibunya katanya, untuk melindungi dari orang jahat.
Aku tidak bisa bicara. Jadi aku hanya memeluknya erat sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil, dan pintu itu tertutup.
Lalu aku pergi.
Meninggalkan segalanya.
Termasuk separuh jiwaku yang masih tertinggal di taman belakang, tempat Kirigan menyentuhku untuk pertama kalinya—dan mengubah segalanya selamanya.