Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat.
Aku tetap bersembunyi di bawah meja main kayu yang reyot. Nafasku masih kutahan-hanakan, meski paru-paruku mulai menjerit minta diisi udara lebih banyak. Tapi aku tak berani bergerak. Setiap suara kecil di luar terasa seperti gemuruh petir di telingaku. Daun jatuh, ranting patah, suara rantai ayunan berdecit… semuanya terdengar seperti langkah seseorang.
Jam tanganku menunjukkan pukul 22.36.
Sudah lewat tiga puluh menit sejak permainan dimulai.
Dan aku masih aman.
Kupikirkan Lana. Claire. Blair. Apakah mereka juga sembunyi seperti ini? Apakah mereka berhasil menemukan tempat yang cukup tersembunyi? Aku berharap iya. Aku berharap mereka tidak sendirian seperti aku sekarang.
Tiba-tiba—
DUAAR!!
Suara dentuman keras menggema dari arah tengah taman, diikuti suara speaker retak yang menyala lagi.
“Selamat untuk Pemburu Nomor 027. Kelinci pertama telah ditemukan. Nama peserta: CASSIDY RAIN.”
Aku membeku.
Bukan... bukan salah satu dari kami.
Tapi itu bukan membuatku lega. Justru sebaliknya. Rasanya seperti alarm kematian yang baru saja dipasang di dalam kepalaku. Mereka sudah berhasil menangkap satu. Itu berarti mereka makin dekat. Dan yang lainnya… bisa jadi berikutnya.
Tangan gemetar, aku mengeluarkan ponsel dari saku kecil di rok kostumku. Layarnya terlalu terang, jadi cepat-cepat aku redupkan. Untungnya sinyal masih ada—mungkin karena panitia memang mengizinkan ponsel tetap menyala selama permainan. Entah untuk apa. Dokumentasi? Hiburan? Atau hanya sebagai pengingat kalau kita tetap bisa merasa dekat, padahal sebenarnya sangat sendirian.
Kubuka grup kecil kami—aku, Lana, Claire, dan Blair.
[22:37] Aku:
Masih aman. Kalian?
[22:37] Blair:
Sial. Aku sembunyi di lemari boneka. Ga berani nafas.
[22:37] Claire:
Baru liat satu pemburu lewat. Ganteng sih… tapi serem. Dia bawa topeng. Aku ngendap di balik kaca retak.
[22:38] Lana:
Rollercoaster zone serem banget. Sumpah. Kayak ada yang ngikutin aku tapi tiap aku nengok, ga ada siapa2.
[22:38] Aku:
Tadi denger pengumuman. Cassidy Rain...
[22:38] Blair:
Aku ga kenal. Tapi berarti mereka beneran main serius.
[22:38] Claire:
Kita juga harus serius. Jangan konyol. Jangan keluar sebelum jam 12. Titik.
[22:39] Aku:
Aku takut.
[22:39] Lana:
Aku juga. Tapi kita bisa. Kita bareng, meski pisah. Stay alive, Bunny.
Aku menutup layar pelan-pelan. Tidak mematikan, hanya menekan tombol agar cahayanya hilang.
Lalu aku bersandar kembali ke dinding rumah kayu, menarik napas dalam-dalam meski udara di sini terasa berat.
Dua jam lagi.
Dan baru satu yang tumbang.
Artinya malam ini… masih panjang.
Kata-kata mereka membuat hatiku sedikit tenang, meski ketakutan masih mencekam.
Aku menyandarkan kepala ke dinding kayu di belakangku, menarik napas dalam-dalam. Aku harus bertahan. Aku harus tetap di sini. Aku tidak boleh tergoda untuk keluar, tidak peduli betapa kosongnya malam ini terasa.
Di luar, suara langkah samar terdengar. Pelan. Menyusuri kerikil.
Aku menutup mata.
Masih ada satu jam lima puluh sembilan menit. Dan aku berdoa dalam hati—semoga malam ini cepat berakhir.
Tepat ketika aku mulai menenangkan diri, ketika aku berharap bisa bertahan beberapa menit lagi tanpa gangguan—
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah itu terdengar. Pelan, tapi pasti.
Irama langkah seseorang yang tidak terburu-buru, seolah menikmati waktu yang ia miliki. Setiap hentakan kakinya di atas kerikil terasa begitu jelas, menusuk masuk ke tulang belakangku.
Aku menahan napas. Tubuhku menegang.
Srrrkk—Sreeet.
Sesuatu yang tajam sedang digoreskan ke permukaan logam. Bunyinya kasar dan menusuk telinga, seperti kuku digesekkan ke papan tulis, hanya lebih berat… lebih lambat… lebih mengancam. Aku bisa membayangkan benda itu—sebuah pisau besar, mungkin—ditarik pelan-pelan di sepanjang pagar besi, atau sisi dinding.
Lalu…
Brakk!
Sesuatu terjatuh. Entah apa, entah di mana tepatnya. Tapi bunyinya cukup keras hingga membuatku refleks menutup mulut dengan kedua tangan. Aku harus menahan diriku agar tidak menjerit. Aku bisa merasakan jantungku memukul dadaku begitu kuat hingga terasa sakit.
Clink... clang... thump.
Barang-barang lain ikut jatuh, seperti ditendang atau dijatuhkan dengan sengaja. Apakah dia tahu aku di sini? Atau hanya mencoba menakut-nakuti siapa pun yang bersembunyi?
Lalu, yang paling membuat bulu kudukku meremang—
Siul.
Nada rendah dan santai. Lirih, tapi jelas.
Melodi pendek, dinyanyikan oleh bibir yang tidak tergesa-gesa.
Nada yang terdengar seperti ejekan. Seolah-olah dia sedang berkata, Aku tahu kau ada di sini. Aku akan menemukannya. Pelan-pelan saja.
Siulannya mengalun di antara kabut dan dinding kayu. Dan semakin lama, nadanya semakin dekat.
Tanganku mencengkeram ujung meja reyot ini. Lututku gemetar. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri memekakkan telinga. Keringat dingin mulai membasahi tengkukku meskipun udara malam terasa dingin menggigit.
Aku tidak tahu siapa dia. Pemburu nomor berapa. Tapi aku tahu satu hal—
Dia menikmati ini.
Dan aku tak bisa lari. Aku bahkan tak bisa bergerak. Aku hanya bisa bertahan. Diam. Menunggu. Berdoa.
Tolong…
Jangan sampai dia membuka pintu rumah ini.
Jangan sampai dia melihat ke bawah meja.
Jangan sampai ia menemukan aku.