Aku terus berdoa dalam diam. Kalimat-kalimat tanpa suara berputar dalam kepalaku, nyaris seperti nyanyian yang menenangkan diri sendiri. Aku merapatkan lutut, memeluknya lebih erat, menutup rapat mulutku agar tidak terdengar napas yang mulai tidak teratur.
Lalu—
Dentuman.
Suara keras yang tiba-tiba memecah udara malam, menggema melalui speaker tua yang retak.
“Selamat untuk Pemburu Nomor 011. Kelinci kedua telah ditangkap. Nama peserta: Livia Marsh.”
Jantungku nyaris berhenti.
Dua orang telah tertangkap. Dua dari dua puluh. Dalam waktu kurang dari satu jam.
Aku menahan napas begitu lama hingga paru-paruku terasa panas. Suara siulan tadi berhenti. Tapi langkah itu belum. Aku tahu ia ada di luar pintu. Dan aku tahu… ia tahu.
Ceklek.
Bunyi gagang pintu diputar. Perlahan. Sangat perlahan. Lalu engselnya berderit saat pintu kayu itu terbuka lebar.
Cahaya redup dari luar menerobos masuk, menyinari bagian dalam ruangan kecil ini. Aku tidak bisa menoleh, hanya bisa membeku. Nafasku tercekat.
Tap. Tap.
Langkah sepatu bot pria itu memasuki rumah mainan. Sepatu kulit hitam, kokoh, dengan noda lumpur kering di sisinya. Langkahnya ringan, tidak terburu-buru. Ia berjalan seolah tahu tepat ke mana harus menuju.
Satu, dua, tiga langkah. Semakin dekat.
Suara meja reyot yang kutumpangi mengeluarkan derit pelan saat ia berhenti tepat di depannya.
Aku menggigit bibir, berusaha tidak membuat suara sedikit pun. Detak jantungku begitu keras hingga aku takut ia bisa mendengarnya dari luar. Tangan dan kakiku telah mati rasa. Tubuhku tidak lagi milikku.
Dan kemudian—
Ia berlutut.
Perlahan, kepalanya menunduk, dan wajahnya muncul di bawah meja.
Mataku membelalak. Napasku tercekat. Waktu seakan berhenti.
Topeng hitam menutupi wajahnya, hanya menyisakan dua lubang mata. Tapi aku bisa merasakan tatapannya menusuk masuk ke dalam diriku. Ia tidak berkata sepatah kata pun. Hanya menatap.
Aku tak bisa bergerak.
Seolah tubuhku membatu oleh ketakutan.
Lalu ia tersenyum. Bukan senyuman di wajah—karena topeng itu tidak punya ekspresi. Tapi aku bisa melihat sudut matanya yang sedikit menyipit, seperti sedang menikmati pemandangan yang ia temukan.
Aku telah ditemukan.
Aku tak mampu berkata apa-apa. Bahkan sekadar menarik napas pun terasa mustahil.
Ia menatapku dari balik topeng hitam itu, diam, tak bergerak. Hanya suara napas kami yang bersahutan dalam keheningan yang mencekam. Aku bisa melihat matanya dari celah sempit di topeng itu—gelap, tak terbaca. Tak ada kemarahan, tak ada kejutan. Hanya… kekosongan yang menelan.
Kami terdiam dalam waktu yang terasa begitu panjang, seakan dunia membeku hanya untuk kami berdua.
Lalu perlahan, ia berdiri.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa gerakan tiba-tiba.
Aku tetap mematung di bawah meja reyot ini, nyaris tak percaya dengan apa yang kulihat.
Ia membalikkan badan, berjalan ke arah pintu. Setiap langkahnya terdengar begitu jelas. Dan ketika ia mencapai ambang pintu, ia berhenti.
Tangannya terangkat ke gagang pintu.
Dan sebelum ia menutupnya, ia berkata—suara itu dalam dan tenang, namun seperti menggores kulitku:
"Kau tidak ada di sini."
Lalu—
Clack.
Pintu tertutup.
Aku tetap terdiam. Nafasku terputus-putus. Seluruh tubuhku bergetar hebat.
Ia membiarkanku…?
Tidak. Bukan karena ia tidak melihatku. Ia melihatku.
Dan justru itu yang membuatku lebih takut dari sebelumnya.
Karena seorang pemburu… tidak akan melepaskan buruannya tanpa alasan.