Begitu suara langkah itu benar-benar hilang di kejauhan, aku masih tetap tak beranjak. Tubuhku seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak. Tapi paru-paruku memaksa—meminta udara, meminta aku untuk hidup.
Perlahan, aku membuka pelukan dari lututku. Tangan-tanganku gemetar ketika aku meraih pinggiran meja reyot itu untuk berdiri. Kakiku terasa mati rasa, seperti bukan milikku sendiri. Tapi aku berhasil berdiri—meski goyah, meski dadaku masih naik-turun tak teratur.
Aku menatap pintu yang kini telah tertutup rapat. Masih tak percaya. Masih mencoba memproses kenyataan bahwa aku… dibiarkan hidup.
Kenapa?
Kenapa aku tidak ditangkap?
Kenapa ia hanya berkata "Kau tidak ada di sini"…?
Aku mengerjapkan mata, lalu memejamkannya sejenak, menarik napas dalam-dalam—untuk pertama kalinya sejak tadi. Udara yang masuk terasa lembap dan dingin, bercampur aroma kayu tua dan karat yang memuakkan. Tapi aku membiarkan paru-paruku dipenuhi olehnya, karena itu lebih baik daripada tidak bernapas sama sekali.
Aku melangkah perlahan dari bawah meja. Setiap derit lantai di bawah kakiku membuat jantungku melompat.
Kepalaku menoleh ke segala arah, memastikan tak ada suara, tak ada gerakan, tak ada bayangan hitam yang kembali muncul di ambang pintu. Dan setelah memastikan segalanya benar-benar senyap, aku bersandar pada dinding kayu yang lembab, memejamkan mata sekali lagi.
Dentuman.
Aku terlonjak.
Dentuman keras itu datang lagi—dari speaker tua yang menggantung di langit-langit rumah boneka ini. Suara retaknya nyaring dan kasar, memaksa telinga untuk mendengar.
"Laporan pertengahan permainan: sepuluh kelinci telah ditangkap."
"Ulangi—sepuluh dari dua puluh telah tertangkap."
"Waktu tersisa: lima puluh dua menit."
Aku menatap ke langit-langit, mendengar tiap kata dengan mata membelalak. Sepuluh? Sudah sepuluh?
Tanganku terangkat perlahan menutup mulut.
Separuh dari kami sudah tertangkap.
Dalam waktu kurang dari satu jam… mereka semua hilang.
Entah bagaimana, suara itu terasa lebih menusuk dibanding suara langkah pemburu tadi. Karena kali ini bukan hanya satu orang. Bukan hanya satu yang hilang.
Aku mencoba membayangkan—bagaimana rupa teman-teman yang lain sekarang. Apakah mereka berhasil bersembunyi? Apakah Blair masih sempat melontarkan lelucon pahitnya? Apakah Claire masih sempat membetulkan maskaranya? Apakah Lana masih punya keberanian seperti tadi saat menggandeng tanganku?
Atau…
Aku menggeleng pelan. Tidak. Aku tidak boleh berpikir ke sana. Tidak sekarang.
Aku harus bertahan.
Setidaknya… sampai jam dua belas.
Tanganku merogoh ke dalam saku kecil di sisi rok kelinci putihku. Jemariku menyentuh ponsel yang sejak tadi nyaris kulupakan. Masih hidup. Layar kecil itu menyala redup saat kuketuk.
Dan untuk sesaat, aku menatap pantulan wajahku sendiri di layar itu. Wajahku pucat, mataku merah, rambutku acak-acakan. Aku tampak seperti boneka porselen yang baru saja dibuang.
Aku menarik napas sekali lagi. Lalu kubuka aplikasi pesan.
Aku harus tahu mereka masih hidup. Aku harus tahu aku tidak sendirian.
Jari-jariku mulai mengetik, perlahan, satu demi satu. Pesan untuk mereka—untuk Blair, Claire, dan Lana.
"Kalian di mana? Tolong jawab. Tolong bilang kalau kalian baik-baik saja…"
Dan sebelum kukirim, aku mendengar sesuatu.
Jauh di luar rumah boneka ini…
Ada suara lain.
Suara langkah yang baru. Cepat. Berat. Lebih dari satu.
Permainan belum berakhir. Tapi separuh dari kami… sudah punah.