Langkah itu…
Semakin dekat. Semakin banyak.
Aku bisa mendengar suara sepatu menghantam tanah dengan kasar, bercampur suara logam yang diseret, derit papan tua yang diinjak, serta tawa rendah yang mengalun seperti racun. Tawa yang tidak mengandung keceriaan, melainkan nafsu berburu.
"Katamu tadi ke arah sini?"
"Ya. Aku lihat bayangan putih. Masuk rumah boneka."
"Kelinci kecil itu tidak akan jauh..."
Aku ingin mundur. Aku ingin lari. Tapi kakiku seperti terpaku. Nafasku tercekik di tenggorokan. Tanganku terulur sedikit ke arah bawah meja—aku hampir bersembunyi. Hanya tinggal beberapa langkah.
Namun pintu itu…
CREEEAAK.
Terbuka.
Cahaya dari luar langsung menerpa wajahku. Aku berdiri membatu, seolah tubuhku kehilangan kemampuan untuk bergerak. Lalu suara-suara itu pecah di udara—tawa keras, siulan, dan langkah-langkah bergegas masuk.
"Apa itu?"
"Ah—lihat! Ada yang berdiri!"
"Manis sekali…"
Ada tujuh dari mereka. Mungkin delapan. Aku tidak sempat menghitung pasti.
Topeng-topeng mengerikan menghiasi wajah mereka—ada yang mengenakan topeng badut dengan cat retak dan senyum lebar, ada yang memakai topeng porselen putih polos tanpa mata, dan satu lagi bertopeng kulit berlumur coretan merah seperti darah. Masing-masing membawa sesuatu: tongkat logam, rantai, bahkan satu orang menggenggam tombak pendek dari kayu berkarat.
Aku dikelilingi. Nafasku sesak. Dunia terasa berputar perlahan.
"Kau tidak lari?" tanya salah satu dari mereka, suaranya berat dan sengaja diturunkan, seolah ingin terdengar seperti makhluk dari mimpi buruk.
"Atau kau terlalu manis untuk berlari?"
"Kau tahu, kelinci yang diam seperti ini biasanya paling cepat gemetar."
Aku mundur satu langkah. Tapi itu percuma.
Mereka mengepungku.
Udara di sekeliling terasa tipis. Cahaya dari obor kecil di tangan salah satu pemburu bergetar, menciptakan bayangan panjang di dinding rumah boneka. Aku bisa melihat refleksi diriku di kaca retak di belakang mereka—mata terbuka lebar, wajah pucat, tubuh gemetar dalam balutan kostum putih kelinci yang kini tampak seperti umpan empuk.
"Apa kita tangkap sekarang?" tanya si badut, menggoyangkan tongkatnya pelan.
Yang bertopeng polos menggeleng. "Belum. Kita nikmati dulu ketakutannya."
Langkah mereka mendekat serentak, seperti koreografi yang telah dilatih.
Aku mendongak, mataku bertemu lubang hitam di balik topeng mereka.
"Jangan," bisikku. Suaraku nyaris tak terdengar.
Tapi mereka semua mendengar. Dan mereka tertawa. Lagi.
"Dia berbicara," kata satu di antara mereka, pura-pura terkejut.
"Ah, suara yang lembut sekali. Seperti… kelinci menangis."
Tanganku meremas ujung rok kostumku. Kakiku terasa lemas.
Aku tahu… malam baru saja dimulai.
Dan aku adalah mangsanya.
Mereka melangkah lebih dekat. Derap kaki menghantam lantai kayu tua yang berdebu, menciptakan gema menakutkan dalam ruangan sempit itu. Tanpa sadar aku mundur lagi, hingga punggungku menyentuh dinding. Mereka menyebar—melingkari aku seperti sekawanan serigala mengelilingi mangsa yang terjebak.
Cahaya temaram dari lampu gantung yang berkedip-kedip menciptakan bayangan panjang yang mengerikan di dinding.
Jantungku berdetak kencang—terlalu kencang. Tanganku gemetar dan dadaku naik-turun tak beraturan. Aku tidak tahu siapa di antara mereka yang akan menyentuhku lebih dulu… atau apakah aku akan bisa melarikan diri.
Aku mencoba menatap wajah mereka satu per satu, berharap mengenali sedikit rasa manusia. Tapi tidak ada. Hanya kegembiraan sadis yang terpancar dari postur dan suara mereka.
Yang berdiri di depanku memakai topeng separuh wajah, dihiasi ukiran hitam menyerupai retakan. Jasnya lusuh, tapi tetap rapi, seolah ia datang ke pesta kematian. Ia menggenggam tongkat kayu yang ujungnya dipaku.
Di sebelahnya, pria bertubuh tinggi besar dengan topeng badut menganga. Baju pelawak compang-camping nya penuh noda yang tampak seperti darah kering. Ia terus tertawa pelan, senyumnya—meski tak terlihat—terdengar dari nada suaranya.
Yang lain lebih ramping, mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Wajahnya tersembunyi di balik topeng kulit yang dijahit, dan ia memainkan pisau kecil di jemarinya seperti sedang menyusun melodi.
Ada pula yang mengenakan topeng rubah hitam, dengan tali rantai bergelayut dari bahunya. Dia hanya berdiri diam, memiringkan kepalanya ke arahku—diam-diam seperti menilai harga.
"Aku rasa… kelinci yang satu ini terlalu manis untuk dibunuh sekarang," ucap pria bermantel, nada suaranya terdengar ringan tapi mengandung ancaman.
"Jangan egois," sahut si badut. "Kalau kau duluan, yang lain cuma dapat sisanya."
Satu lagi tertawa, suara beratnya menggelegar. “Bagaimana kalau kita… membaginya saja?”
Tubuhku langsung menegang.
Bibirku bergetar, dan meski aku ingin berkata sesuatu—apa pun—tak ada suara yang keluar. Tenggorokanku terasa tercekat.
"Bagi hasil?" bisikku, akhirnya, lirih. Kata-kata itu menampar kesadaranku sendiri.
Mereka mengangguk, seperti setuju atas lelucon gelap itu. Si topeng porselen mengangkat tongkatnya, menunjuk ke arahku.
"Apa menurut kalian dia akan lari kalau diberi lima detik?"
"Atau justru jatuh pingsan sebelum sempat berlari?"
"Atau menangis?"
"Atau... berlutut?"
Aku menggeleng cepat. Nafasku memburu, dan air mata hampir pecah dari ujung mataku. Aku tahu ini hanya permainan bagi mereka, tapi bagiku… ini nyata. Terlalu nyata.
Aku tidak ingin mati malam ini. Aku tidak ingin menjadi bagian dari ‘hasil buruan’ mereka. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana harus melarikan diri saat semua jalan telah tertutup.
Dan saat mereka melangkah satu langkah lebih dekat—
Aku tahu waktuku hampir habis.