Beberapa hari berlalu sejak aku tiba di Portland. Rumah Paman Sasha sunyi, tapi dalam diamnya ada rasa tenang yang belum pernah aku rasakan di Beldam Heights. Tak ada suara mobil mewah lalu lalang, tak ada tatapan mencurigakan dari keluarga tua yang mengenalku sejak bayi. Hanya aroma kayu lembap, udara yang hampir selalu mendung, dan burung-burung yang kadang terdengar dari pepohonan tinggi di luar jendela.
Aku mulai menikmati kesendirian ini. Rasanya hampir seperti hidupku normal—seakan semuanya belum pernah terjadi. Seakan aku bukan korban dalam perburuan yang dirancang sejak aku lahir.
Hari ini aku duduk di dekat jendela kamar, kamera ponsel menyala. Aku iseng menelpon Claire dan Blair lewat video call. Sudah beberapa hari aku tak mendengar suara mereka, dan entah kenapa aku merindukan tawa mereka yang dulu begitu akrab di ruang dansa atau perpustakaan rumahku.
"Lama banget nggak ngabarin!" seru Claire begitu wajahku muncul di layar. Dia sedang duduk di sofa, rambut pirangnya diikat cepol asal. Di sampingnya, muncul sosok pria dengan hoodie abu-abu dan senyum lebar. "Oh, ini Terrence. Kamu belum pernah ketemu dia, kan?"
Aku memaksakan senyum. "Belum. Hai."
Terrence melambai. Wajahnya bersih, sorot matanya santai. Tapi entah kenapa, perutku terasa sedikit mual. Ada sesuatu dari senyumnya yang tak kukenal tapi terasa… familiar. Seperti mimpi buruk yang bersembunyi di balik cahaya terang.
"Dan Noah lagi di sini," tambah Blair dari layar lain. "Kita lagi nunggu makanan datang. Mau pesen kopi juga?"
Blair memutar kamera. Di belakangnya duduk seorang pria dengan jaket kulit gelap dan mata yang menusuk. Noah. Dia tidak bicara, hanya mengangguk pelan ke arahku, tapi sorot matanya membuat tanganku menggenggam bantal di pangkuanku lebih erat.
Aku menelan ludah, mencoba bicara normal. "Lana mana?"
"Dia lagi di tempat tato, mau nambah satu lagi katanya," jawab Blair santai. "Kamu sendiri gimana? Portland aman?"
Aku mengangguk. "Aman. Kayaknya. Mungkin."
Tapi kepalaku berdenyut.
Mereka bilang, Noah dan Terrence adalah dua dari pemburu yang menangkap mereka malam itu—malam Halloween. Malam di mana aku ingat segalanya. Dua puluh gadis berdiri telanjang di depan api unggun, mata mereka kosong seolah sedang tidur sambil berdiri. Aku bisa mencium aroma daging hangus, kemenyan, dan darah. Semua pemburu—bertopeng binatang—berlutut di hadapan satu sosok bertopeng hitam. Kirigan.
Dan aku—bodohnya aku—masuk ke perangkap mereka, menyerahkan diri untuk menyelamatkan teman-temanku dan gadis-gadis lain.
Aku masih bisa merasakan tanah dingin malam itu menempel di kulitku, rasa takut dan pasrah ketika topeng itu mendekat dan suara beratnya berkata, "Zaychik. You're mine now."
Aku kembali menatap layar. Noah masih menatapku diam, senyum tipis menghiasi bibirnya. Terlalu tenang. Terlalu… sadar.
Jantungku berdetak lebih cepat. Mereka ini—Noah dan Terrence—mereka bagian dari Kirigan. Aku yakin.
Dan mereka sedang duduk di ruang tamu bersama teman-temanku.
Mengawasi mereka. Lewat mereka… mengawasiku.
Aku mencoba tertawa kecil, pura-pura nyaman di depan layar. Tapi dalam kepalaku, suara-suara lain mulai berbicara.
Claire tahu aku di Portland. Blair juga. Lana bahkan tahu alamat lengkap rumah Paman Sasha. Mereka tahu... dan sekarang pria-pria itu juga tahu.
Aku menatap Terrence yang sedang menggoda Claire soal rambutnya yang berantakan. Lalu beralih ke Noah, yang kini sibuk memainkan cincin di jarinya. Gerakannya tenang, tapi terlatih. Seolah dia sengaja ingin terlihat santai. Seolah dia tahu aku sedang memperhatikan.
Kalau mereka benar pemburu... dan aku yakin mereka bagian dari Kirigan...
Mereka tahu.
Jantungku serasa jatuh ke perut. Wajahku tetap tersenyum, tapi aku tahu. Mereka tahu aku di sini. Mereka tahu aku sembunyi.
Dan jika mereka tahu… maka dia juga tahu.
Kirigan.
Aku teringat kata-katanya malam itu, ketika dia menekan pistol dingin itu ke bibirku.
“You can run, little rabbit. But I always find what belongs to me.”
Tiba-tiba, udara di kamar terasa lebih dingin. Tanganku berkeringat. Aku menoleh perlahan ke jendela besar di samping tempat tidur. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi dalam kabut Portland yang tebal. Di baliknya, entah kenapa aku merasa… sedang diawasi.
Aku buru-buru mematikan kamera. Claire sempat berseru kecil, “Eh, kok mati—”
Tapi aku sudah menekan tombol "end call".
Layar ponsel padam. Dan untuk pertama kalinya sejak aku tiba di rumah ini… aku benar-benar merasa tidak aman.