Malam turun pelan-pelan seperti kabut tebal yang menyelimuti pepohonan di luar jendela. Rumah Paman Sasha terasa lebih besar saat kosong. Ia pergi ke kota, meninggalkan catatan kecil di meja dapur:
"Aku akan pulang besok pagi. Sistem keamanan aktif, jadi kau aman. Jangan khawatir, Aerith."
Tentu saja, kata-kata itu tak menghapus kegelisahan dalam dadaku.
Aku menyalakan lampu kamar, memeriksa sekali lagi jendela dan kunci pintu. Kamera pengawas menyala, layar kecil di ruang tengah memperlihatkan halaman dari berbagai sudut. Aman, katanya.
Tapi aku tahu lebih baik.
Tak ada kamera yang bisa menangkap Kirigan.
Tak ada kunci yang bisa menghentikan pria seperti dia.
Malam itu, aku tidur dengan selimut ditarik tinggi sampai ke dagu, tubuhku gemetar meski pemanas menyala. Tapi akhirnya, rasa lelah mengalahkan rasa takut, dan aku tertidur—jatuh dalam bayangan yang lebih gelap dari malam itu sendiri.
Dalam mimpi itu, aku berdiri di tengah hutan berkabut. Udara menusuk kulitku, tapi entah kenapa gaun tidur tipis yang melekat di tubuhku justru terasa terlalu panas, terlalu ketat. Kaki telanjangku menyentuh dedaunan basah, dan setiap langkah terasa seperti seruan dari tanah itu sendiri—memanggilku untuk tetap di sana.
Lalu aku mendengarnya.
Langkah sepatu berat di antara ranting. Bukan langkah tergesa-gesa. Langkah milik seseorang yang tahu persis ke mana dia akan pergi. Dan untuk siapa.
Dari balik kabut, dia muncul—tinggi, berbahaya, seperti dosa yang berjalan dalam bentuk manusia. Kirigan. Rambutnya acak sedikit basah, kulitnya pucat diterpa remang bulan, dan tubuhnya dibalut jaket kulit hitam yang menempel erat di bahunya, memperlihatkan d**a dan perutnya yang terbungkus kaus gelap tipis.
Matanya menatapku tanpa berkedip.
"Jadi ke sinilah kau bersembunyi, little bunny," bisiknya, suaranya serak dan dalam, seperti deru malam itu sendiri.
Aku ingin berlari, sungguh. Tapi tubuhku tak mau bergerak. Aku beku di tempat, dadaku naik turun, jantungku menjerit entah karena takut atau karena sesuatu yang lebih memalukan dari itu.
Kirigan mendekat perlahan. Ketika akhirnya dia cukup dekat, jari-jari gloved-nya menyentuh daguku dan mengangkat wajahku.
“Kau pikir bisa lolos dariku?” desisnya. "Tapi bahkan dalam mimpi pun kau memanggilku."
Bibirnya menyentuhku—lembut di awal, seperti jebakan yang dilapisi madu. Tapi begitu aku mengerang pelan, ciuman itu berubah. Lebih dalam. Lebih kasar. Jaket kulitnya dingin menyentuh lenganku yang telanjang saat ia mendekapku, mencengkeram pinggangku erat seolah aku adalah miliknya sejak awal waktu.
Tangannya menyusup masuk di balik kain tipis gaunku. Aku menggeliat tapi bukan untuk menolak—aku bahkan tak tahu kenapa aku membiarkannya menyentuhku seperti itu.
"Aku akan merusakmu," katanya pelan di antara ciuman yang basah dan penuh lidah. "Kusobek semua nafas manismu, kubuat kau memohon... sampai kau tak bisa mengingat siapa dirimu sebelum aku."
Aku menggigit bibirku sendiri, tubuhku bergetar saat ia mengangkatku dan menyandarkan punggungku ke batang pohon dingin. Kaki-kakiku melingkar otomatis di pinggangnya. Aku merasakan resleting jaket kulitnya menggesek kulitku, dan itu terasa—astaga—terlalu nyata. Terlalu nikmat untuk mimpi.
“Lihat?” dia mencibir, menempelkan dahinya ke punyaku. “Kau bilang membenciku. Tapi tubuhmu bicara lain.”
Dan saat itu, dia menarik kain di bahuku ke bawah, membiarkannya jatuh hingga d**a dan punggungku terpapar udara malam. Aku menangis dalam mimpi itu—bukan karena ketakutan semata, tapi karena kebingungan. Karena ketertarikan yang membuatku muak pada diriku sendiri.
“Milikku,” bisiknya tepat di telingaku, sebelum menjilat kulitku pelan, menelusuri jejak air mata yang mengalir di pipiku.
Aku membuka mata, tapi bayangannya masih menempel di kelopak mataku yang berat—seperti sisa-sisa mimpi yang enggan pergi. Selimut terasa terlalu panas, tapi kulitku menggigil. Nafasku masih tersengal, jantung berdegup kencang, seolah memprotes apa yang baru saja kulakukan.
Dia ada di sana—di dalam kepalaku—dengan senyum nakal itu, dengan tatapan yang membuat perutku bergetar. Aku mencoba mengusirnya, tapi semakin kularikan, semakin jelas bayangannya: tangan hangatnya yang pernah bersentuhan singkat dengan lenganku, suaranya yang rendah saat berbisik, tatapan tajamnya yang mengejek.
Dan sekarang, di kegelapan kamarku, bayangan itu berubah.
Aku menekan bibirku rapat, mencoba menahannya, tapi tubuhku sudah bergerak sendiri. Jari-jariku menyentuh kulit perut yang menggigil, perlahan, terlalu sadar akan setiap sentuhan. Aku mencoba membayangkan sesuatu yang lain—apa saja—tapi pikiranku terus kembali padanya.
Tidak.
Tapi tangan ku sudah meluncur lebih rendah, menyelinap ke balik celana dalam berendaku gemetar, seperti ditarik oleh magnet yang tak bisa kutolak. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam fantasi yang seharusnya tak pernah kubiarkan muncul.
Jari jariku, menggoda diriku sendiri, membuka setiap lipatan klitorisku yang basah. Menangis karna mimpi yang seharusnya menjadi mimpi burukku. Malah memicu hal lain yang tak pernah ku lakukan sebelumnya. Kedua kakiku semakin tegang, tapi tangan ku tidak berhenti menggali, membuat diriku semakin basah.
Satu tanganku yang bebas terangkat untuk menurunkan tali dari bahuku. Kini kedua payudaraku yang bulat itu terpampang. Aku malu pada diriku sendiri tapi tetap tidak berhenti justru bergerak semakin liar.
Udara di kamar terasa semakin panas, semakin padat. Nafasku memburu, dan aku mendengar suara sendiri—erangan kecil yang memalukan—keluar tanpa kusadari. Nama, dia nyaris terucap, tersangkut di tenggorokan, seperti doa terlarang.
Dan kemudian—
Suara tawa itu meledak begitu saja, rendah dan dalam—memotong kesunyian malam seperti belati dingin menembus kulit.
Aku membeku. Nafasku tercekat di tenggorokan. Suara itu… tidak mungkin.
"Aku harus akui," suaranya terdengar dari balik bayangan jendela yang terbuka sebagian, "pemandangan ini lebih memabukkan daripada mimpi paling liar yang pernah kumiliki."
Aku menoleh dengan cepat, tubuhku gemetar, wajahku memanas karena malu dan panik yang bercampur jadi satu. Di sana, berdiri di sisi luar jendela, setengah tubuhnya terbungkus gelap—dan jaket kulit hitamnya menyatu dengan malam. Matanya berkilat seperti bara yang baru saja ditiup api.
Kirigan.
Dia melihatku seolah aku adalah rahasia tergelapnya yang akhirnya terbuka.
"Kau merindukanku sampai seperti itu, Zaychik?" tanyanya dengan nada mengejek, tapi matanya bicara lain—penuh obsesi, penuh kelaparan.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan napas pun terasa menghianati tubuhku.
Kirigan mendekat, tangannya menyentuh ambang jendela. "Tidakkah kubilang," bisiknya lembut namun mengancam, "aku akan selalu menemukanmu... bahkan dalam gelap."
Aku membeku. Napasku masih belum stabil, tubuhku masih panas dan lembap karena dosa yang baru saja kulakukan—tapi tawa itu…
Tawa rendah itu membelah malam. Berat, malas, nyaris mengejek. Aku reflek menarik selimut ke atas tubuhku, tapi terlambat. Mataku bertemu dengan bayangan tinggi di sudut jendela yang kini terbuka setengah. Kirigan berdiri di sana, bersandar santai seolah tak baru saja menyaksikan aku... menyebut namanya sambil menyentuh diriku sendiri.
"Aku nyaris merasa terhormat, zaychik," katanya sambil melangkah masuk perlahan, jaket kulitnya berderit halus saat bahunya bergerak. "Baru beberapa hari kau jauh dariku, tapi kau sudah merindukan rasanya begitu parah… sampai kau sentuh dirimu sendiri."
Aku mundur ke sandaran tempat tidur. Kaki-kakiku lemas, bukan hanya karena ketakutan, tapi karena sesuatu yang lebih dalam… lebih memalukan. Dia berjalan perlahan, seperti predator yang tahu mangsanya sudah lumpuh.
"Jangan mendekat…" bisikku, tapi suaraku sendiri terdengar lemah dan tak meyakinkan. Aku membenci kenyataan itu.
Kirigan tersenyum miring, matanya kelam menelanjangiku, bukan secara harfiah—tapi lebih menakutkan lagi: dia membaca pikiranku. “Kau pikir aku tak akan tahu? Bahkan dari ratusan mil, aku bisa merasakan saat kau memanggilku,” katanya pelan, seperti mantra yang menjerat. “Kau menyebut namaku… dengan suara yang lebih manis dari doa.”
Tangannya menyentuh tiang ranjang, mengelusnya perlahan seolah itu kulitku. “Dan kau pikir kau aman di sini? Di rumah kayu kecil di tengah hutan? Kau lucu, Aerith. Tapi tidak terlalu pintar.”
Aku menarik napas tajam saat dia mendekat, mengangkat wajahku dengan dua jari di daguku.
"Apakah kau merasa bersalah?" bisiknya, matanya menelusuri wajahku. “Atau justru merasa hidup?”
Aku tak menjawab. Jantungku memukul tulang rusuk, campuran rasa takut, malu, dan... sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam.
Dia menunduk, bibirnya hanya sejengkal dari telingaku. “Katakan padaku, zaychik… kau ingin aku menyentuhmu seperti dalam mimpimu?”
Aku menggigit bibir bawahku, tidak tahu harus berkata apa. Tubuhku menegang di bawah tatapannya, tapi jantungku berdetak seolah sedang berteriak. Kukira aku aman di sini. Kukira... aku bisa bernapas.
Kirigan menunduk lebih dekat, napasnya hangat di kulitku saat dia berbisik tepat di bawah telingaku, “Apa kau ingin aku berhenti, Aerith? Katakan saja.”
Aku tak bisa. Lidahku kelu, tenggorokanku kering. Karena jika aku jujur—aku tak tahu apa yang lebih kutakuti: kehadirannya di kamarku… atau kepergiannya.
Tangannya menyentuh leherku pelan, lalu meluncur turun ke tulang selangka, jari-jarinya dingin dan lambat, nyaris menyiksa. Ia mengusap sisa keringat yang masih menempel di kulitku dengan ibu jarinya, dan aku bisa merasakan tatapannya mengikuti gerakan itu, seperti binatang yang sedang bermain-main dengan buruannya.
“Aku bisa membuatmu lupa siapa dirimu sendiri, Aerith,” katanya pelan, matanya menyala oleh api yang tak bisa dijelaskan. “Tapi aku ingin kau ingat semuanya. Setiap sentuhan. Setiap desahan. Aku ingin kau sadar, bahwa bahkan saat kau lari dariku… tubuhmu tidak pernah ikut pergi.”
Aku menelan ludah, perih. Tubuhku mulai bergetar, bukan hanya karena takut—tapi karena jiwaku sedang terpecah di antara keinginan dan akal sehat. Tanganku meremas sprei tanpa sadar, dan Kirigan melihat itu, senyumnya memudar menjadi ekspresi yang jauh lebih gelap.
Dia duduk di sisi ranjangku, jaraknya terlalu dekat, lalu menyentuh sisi wajahku yang tadi panas karena mimpi. “Kau pikir kau bisa menyentuh dirimu tanpa izinku, zaychik?” bisiknya lembut, tapi ada ancaman tersembunyi dalam nada bicaranya.
Aku ingin menamparnya. Aku ingin memukulnya. Tapi tubuhku tetap diam, seperti tunduk pada kehendaknya tanpa diminta.
Kirigan menunduk, bibirnya melayang hanya beberapa inci dari milikku. “Kau memanggilku dalam tidurmu... Sekarang aku di sini. Siap memenuhi apa pun yang kau bisikkan dalam mimpi.”