Jarak di antara kami sudah tak berarti lagi. Aku bisa mencium aroma kulitnya—maskulin, tajam, sedikit asap dan hujan. Jaket kulit yang melekat di tubuhnya masih dingin, tapi napasnya di wajahku justru terasa membakar.
“Aku seharusnya pergi,” bisikku, meski aku sendiri tak percaya kata-kataku.
Kirigan tidak menjawab. Ia hanya menatapku dalam-dalam, seolah berusaha membaca pikiran terdalam yang bahkan aku sendiri tak berani akui. Tangannya bergerak perlahan, menyelip ke bawah daguku, mengangkat wajahku supaya menatap langsung ke arahnya.
“Kau bisa berlari ke ujung dunia, Aerith,” katanya, suaranya rendah, nyaris seperti gumaman. “Tapi tubuhmu akan selalu mengingatku.”
Kata-katanya seperti racun manis yang meresap ke tulangku. Aku benci betapa benar kedengarannya.
“Aku tidak—” Suaraku terputus ketika ibu jarinya menyapu lembut bibir bawahku. Gerakan kecil itu menyulut api di dalam diriku, membuat pikiranku semakin kacau. Aku harus melawan. Aku tahu aku harus melawan.
Tapi yang kulakukan malah... diam. Terus menatapnya. Terus membiarkan dia menyentuhku.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku akhirnya, suaraku nyaris tidak terdengar.
Kirigan tersenyum kecil. “Karena kau milikku. Bahkan jika kau belum mau mengakuinya.”
Tangannya turun ke tenggorokanku, tidak mencekik—hanya sekadar menyentuh, merasakan denyut nadi yang berlari di bawah kulit. Dia tahu aku takut. Dia tahu aku terguncang. Tapi dia juga tahu, ada bagian dariku… yang menyerah.
Tubuhku bergidik ketika dia perlahan menunduk, bibirnya menyentuh pipiku, begitu dekat, begitu panas. “Kau memanggil namaku sambil menyentuh dirimu sendiri,” bisiknya. “Apa kau tahu betapa indahnya itu terdengar di telingaku?”
Aku memejamkan mata. Rasa malu, ketakutan, dan sesuatu yang lebih kelam dari itu semua menyelimuti tubuhku. Tapi yang paling mengerikan adalah: aku menginginkan dia. Bukan hanya dalam mimpi. Tapi sekarang. Di sini.
Dan aku benci diriku karena itu.
Kirigan tidak bergerak menjauh.
Sebaliknya, dia menurunkan tangannya—perlahan, penuh kendali, sampai jemarinya menggenggam pergelangan tanganku yang masih gemetar. Jemari yang beberapa menit lalu kupakai menyentuh diriku sendiri, menyebut namanya di antara napas yang terputus-putus.
“Apa kau tahu,” suaranya serak, penuh nada mengejek yang nyaris seperti pujian, “betapa indahnya tangan ini ketika kau menggunakannya untuk berdosa?”
Aku menggigit bibir bawahku, malu, marah, takut… dan tetap tak mampu bergerak.
Kirigan membalikkan telapak tanganku, menatapnya seolah ia sedang mengagumi karya seni. Lalu, dengan perlahan, dia mengangkatnya ke bibirnya. Lidahnya menyentuh kulitku, menjilat dari pergelangan hingga ke ujung jemari—panas, basah, sensual.
“Pahit rasa takutmu,” bisiknya di sela-sela ciuman kecil pada jari tengahku. “Tapi di bawahnya, ada sesuatu yang jauh lebih jujur. Rasa ingin.”
Tubuhku menegang, napasku tercekat. Aku harus mendorongnya. Aku harus menamparnya, menjerit, lari. Tapi aku malah hanya berdiri di sana, membiarkan jemariku dijilat seolah aku adalah miliknya—miliknya yang tak bisa lari ke mana pun.
“Sialan kau,” desahku, suaraku pecah, tidak tahu apakah itu umpatan atau ratapan.
Dia tersenyum. “Ah, suara yang manis.”
Kirigan masih menggenggam tanganku saat dia mendekat lagi, jaket kulitnya menyentuh gaunku, dingin tapi membuat tubuhku semakin panas. Bibirnya berhenti tepat di telingaku, berbisik, “Kau tak akan pernah benar-benar bisa lari dariku, Aerith. Tubuhmu sendiri yang akan selalu memanggilku kembali.”
"Kau tidak akan pernah bisa lari dariku," ucapnya pelan, tapi tegas, seolah mengucapkan kutukan yang ditulis di tulang dan darahku sendiri.
Tubuhku membeku. Tapi bukan karena takut—bukan hanya karena itu. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sensasi familiar yang berdenyut pelan di dalam diriku, muncul bersamaan dengan desiran napasnya di pipiku.
Dia masih menggenggam tanganku, masih meresapi jejak yang kutinggalkan pada kulitku sendiri. Lalu, perlahan, dia menurunkan tangan itu ke dadaku, menekannya di sana. Di atas degup jantungku yang liar, seakan hendak meloncat keluar dari tulang rusukku.
"Rasakan itu?" bisiknya. "Jantungmu mengenal aku lebih dulu sebelum otakmu bisa menyangkalnya."
Aku memejamkan mata, berharap semuanya ini hanya mimpi lain. Tapi sentuhannya terlalu nyata. Nafasnya terlalu dekat. Dan panas tubuhnya yang menempel di hadapanku membuatku sadar bahwa ini lebih dari sekadar mimpi buruk—ini adalah kenyataan yang membakar.
"Aku benci kau," bisikku lemah, tapi bahkan aku sendiri tak yakin apakah itu benar. Kata-kata itu terdengar hampa, kosong dari keyakinan.
Kirigan tersenyum miring, menyentuh daguku lalu mengangkat wajahku agar menatapnya. “Kau boleh membenciku, Aerith. Tapi tubuhmu bicara dengan jujur.”
Pipiku memanas. Aku ingin menolak, memaki, atau lari. Tapi kakinya menjebakku, dan tubuhku tak bergerak. Dan mungkin... mungkin, di bagian terdalam diriku, aku memang tidak ingin pergi.
Tangannya menyusup ke rambutku, menelusuri helaian perak yang basah oleh keringat dan ketegangan. "Aku tidak akan menyakitimu... kecuali kau memintanya."
Tenggorokanku tercekat. Napasku bergetar, dan saat kutatap matanya yang kelam—kelam seperti langit sebelum badai—aku tahu Kirigan tahu segalanya. Bahkan hal-hal yang belum sempat kuakui pada diriku sendiri.
Tangannya yang besar dan hangat masih berada di rambutku, jari-jarinya menyusup pelan, menelusuri kulit kepalaku dengan tekanan ringan yang membingungkan... membuatku gemetar, bukan karena takut, tapi karena rasa yang sulit kujelaskan.
"Kenapa kau selalu datang di saat aku hampir melupakanmu?" bisikku, nyaris tak terdengar.
Kirigan mendekat, napasnya menyentuh bibirku tanpa benar-benar menyentuh. "Karena kau tidak pernah bisa lupa. Aku ada di setiap tarikan napasmu, Aerith. Di setiap malam gelisahmu."
Jantungku berdetak keras. Terlalu keras. Seolah tubuhku ingin memberontak terhadap nalarku sendiri.
Dia memiringkan wajahnya, suaranya berubah menjadi bisikan yang dalam dan rendah. "Apa kau pikir aku tidak melihatnya? Cara kau menyentuh dirimu sendiri sambil menyebut namaku... kau memanggilku seperti seorang pendosa memanggil dewa."
Seketika wajahku memanas, malu membakar pipiku.
Kirigan menelusuri sisi wajahku dengan punggung jarinya. "Aku bisa membuatmu memohon. Tapi aku lebih suka melihatmu bingung... terjebak antara rasa takut dan keinginan."
Tangannya berpindah ke tengkukku, mengusap lembut kulit yang kini terasa begitu sensitif.
"Karena di situlah kau paling indah, Aerith. Di ambang kehancuran," ucapnya nyaris penuh kekaguman.
Aku menggigit bibir bawahku, tubuhku membeku, namun pikiranku berkecamuk. Aku ingin menolak, berteriak, mengatakan bahwa ini salah. Tapi satu-satunya suara yang keluar adalah embusan napas pelan... dan satu kata lirih yang bahkan membuatku sendiri takut:
"Jangan berhenti..."
Kirigan tersenyum kecil. "Aku bahkan belum mulai."
Momen itu terasa terperangkap dalam waktu.
Bibir Kirigan perlahan melekat di bibirku, dengan kehangatan yang sulit kubendung, dengan desahan lembut yang menggoda namun penuh kekuatan. Setiap gerakan, setiap sentuhan terasa penuh makna, seolah-olah dia sedang menggali sesuatu dalam diriku yang bahkan aku sendiri belum aku pahami.
Aku berusaha menahan diri, tapi aku bisa merasakan ketegangan di tubuhku. Bibirnya bergerak perlahan, seolah dia sedang menguji setiap batas yang ada. Tangan Kirigan masih memegang pipiku, lembut tapi tegas, sementara tangan yang satunya lagi bermain dengan ujung rambutku, menariknya pelan, memberi sinyal bahwa dia bisa menguasai apapun yang dia inginkan—termasuk diriku.
"Jangan melawan," bisiknya di antara ciuman kami, suara beratnya menggetarkan. "Kau tahu kau ingin ini, Aerith."
Aku ingin menanggapi, tapi kata-kata itu seolah terbungkam begitu saja di dalam d**a. Desahan halus keluar dari bibirku, tak bisa kucegah, dan setiap detik yang berlalu, aku merasa semakin terperangkap. Bibirnya menggoda, mengejar dan menyentuh setiap sudut bibirku, menciptakan sensasi yang tak bisa kutangguhkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, tubuhku semakin memberi respon yang tak terkontrol. Aku merasa lemah, tubuhku gemetar, dan semakin tidak bisa menghindar. Aku tahu, aku tak akan bisa bertahan lebih lama.
Di saat yang sama, Kirigan mulai sedikit menarik dirinya mundur, melepaskan ciumannya. Matanya yang abu-abu itu memandangku dengan tatapan yang begitu tajam, hampir seolah dia sedang mengukur setiap inci dari diriku, memahami perasaanku yang bergejolak.
“Apakah kau ingin lebih, Aerith?” tanyanya, suaranya rendah dan penuh godaan.
Aku menatapnya, perasaan terombang-ambing antara kebingungan dan keinginan yang mendalam. Tubuhku meronta ingin lebih, tapi pikiranku berontak. Aku ingin melawan, tapi semakin lama aku semakin merasa tak punya kekuatan untuk itu.
Kirigan tahu itu, dan senyum tipis terbentuk di bibirnya, menggoda. "Jangan khawatir. Kau akan mendapat apa yang kau inginkan—tapi hanya ketika aku memutuskan itu."
Aku menelan ludah, tubuhku masih terengah-engah, dan untuk pertama kalinya, aku merasakan kebingunganku yang mendalam. Semua hal yang kupikirkan tentang diriku, tentang siapa aku, seolah menghilang begitu saja.
Dia mengusap pipiku sekali lagi, jari-jarinya terasa seperti bara api yang menyentuh kulitku. “Jangan khawatir, Aerith. Aku akan membuatmu menginginkannya lebih.”
Dengan itu, Kirigan menarik diri lebih jauh, dan untuk sesaat, aku merasa kosong tanpa hadiran tubuhnya. Aku merasa terperangkap dalam kebingunganku sendiri—antara ingin bertahan dan ingin menyerah. Namun satu hal yang jelas, aku tak akan bisa lari darinya.
Tubuhku masih bergetar, napasku belum teratur saat Kirigan perlahan berdiri, menarik jarak di antara kami. Keheningan yang mengikutinya seperti cambuk dingin yang menyapu kulitku. Ruangan terasa lebih hampa tiba-tiba—lebih dingin. Dia hendak pergi.
Tanpa sadar, tanganku bergerak cepat, menahan pergelangan tangannya.
“Jangan pergi...” suaraku lirih, nyaris seperti bisikan yang tersesat di udara malam. “Apa yang terjadi barusan… itu nggak boleh berakhir di sini, Kirigan.”
Dia membeku sejenak. Lalu menoleh perlahan, sepasang mata abu-abunya menatapku—datar, gelap, dan sulit terbaca.
“Kau yang membuatku seperti ini,” suaraku bergetar, tapi mataku tak melepaskan pandangannya. “Kau datang, menghantui pikiranku… dan saat aku mulai kehilangan kendali, kau justru ingin pergi?”
Kirigan menunduk sedikit, napasnya hangat di wajahku. Dia meraih tanganku yang masih menggenggam dirinya, lalu mengecup punggung tanganku dengan kelembutan yang justru menyakitkan.
“Aku tidak pernah berjanji akan tinggal, Aerith,” bisiknya lembut namun tajam, “dan aku tidak akan pernah jadi pria yang kau bisa kendalikan.”
“Aku nggak butuh mengendalikanmu,” kataku cepat. “Aku hanya—aku butuh tahu kau nyata.”
Dia menatapku dalam-dalam. Hening sesaat. Lalu senyumnya terangkat sedikit—senyum yang begitu menyebalkan, seolah dia tahu betul efeknya padaku dan sengaja membuat semuanya terasa kurang, menggantung, dan menyakitkan.
“Justru karena aku nyata... kau tidak akan bisa melupakanku,” katanya sambil mundur perlahan. “Dan itu jauh lebih kejam daripada sekadar mimpi.”
“Kirigan...” aku memanggil namanya sekali lagi, tapi dia sudah berada di dekat jendela.
“Jangan tunggu aku,” ucapnya ringan, sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam, membiarkan lampu yang mati dan udara dingin Portland jadi satu-satunya saksi dari perasaan yang tak pernah selesai.
Aku duduk diam di ranjang, tubuhku masih merasakan sisa-sisa sentuhannya, sisa ciuman, dan sisa gejolak yang belum tuntas. Hatiku dipenuhi pertanyaan, tubuhku masih bergetar karena dia, dan pikiranku...
...terjebak di antara ingin membenci dan ingin dia kembali.