POV Kirigan
Langkahku ringan saat menjauh dari rumah itu, meski sebenarnya yang terasa hanyalah berat. Hujan belum turun, tapi aroma tanah basah Portland sudah lebih dulu menyusup ke dalam jaket kulitku. Hutan mengelilingiku dengan sunyi yang tidak asing—aku lebih nyaman di dalam bayang-bayang seperti ini. Di tempat di mana semua orang bisa aku lihat, tapi mereka tak bisa menyentuhku.
Tapi dia menyentuhku.
Aerith Cosser.
Perempuan dengan darah perjanjian, wajah malaikat, dan tatapan yang terlalu jujur untuk dunia sepertiku.
Aku tak pernah mengira dia akan memanggil namaku seperti tadi. Dengan suara pecah, penuh rasa ingin, dan sedikit... putus asa. Itu bukan sekadar godaan. Itu suara seseorang yang mulai menyerah.
Dan itu berbahaya.
Untuknya... dan untukku.
Aku menoleh sekali ke arah jendela yang baru saja kulewati. Dia masih di sana, lampu tetap mati, hanya bayangan tubuhnya yang samar terlihat di balik tirai tipis. Masih hangat, masih gelisah, dan masih milikku.
Aku bisa saja kembali masuk. Bisa dengan mudah membuatnya mohon lebih dari sekadar ciuman.
Tapi aku tidak mau membuatnya terlalu cepat jatuh, terlalu cepat menyadari bahwa seluruh dunia ini sudah tertulis untuk menghancurkannya. Aku ingin dia berjuang sedikit lebih lama. Aku ingin dia memilihku... bahkan saat dia tahu aku adalah kehancurannya.
Bukan karena dia tidak bisa lari dariku. Tapi karena dia tidak ingin.
Tanganku mengepal di saku jaket, menahan keinginan untuk kembali dan menyentuh pipinya sekali lagi. Menyium lehernya sampai dia gemetar. Tapi tidak malam ini.
Malam ini, aku ingin dia tahu: aku nyata. Aku hadir. Tapi aku tidak bisa dimiliki.
Belum.
Aku berjalan lebih dalam ke hutan, membiarkan bayangan menelanku kembali. Langkah kakiku ringan, tapi pikiranku... terisi oleh suara desahannya, cara dia menyebut namaku, dan bagaimana dia menahan tanganku—seolah kehadiranku satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya dari dirinya sendiri.
Dia tidak sadar. Tapi aku sudah memilihnya bahkan sebelum dia tahu siapa aku.
Dan satu hal yang pasti...
Aerith Cosser tidak akan pernah bebas dariku.
Lampu kecil dari sedan hitam itu menyala samar di kejauhan, membelah kabut tipis Portland yang menggantung rendah di udara. Viktor sudah menunggu seperti biasa. Waktu seakan tak pernah menjadi masalah baginya—selama aku yang memintanya.
Langkahku melambat ketika aku mendekat. Aku bisa lihat pantulan bayanganku di permukaan mobil yang mengilap, seolah mengingatkanku siapa aku di mata dunia: Kirigan Morozov, sang predator, pemimpin keluarga yang bahkan iblis pun segan menyebut namanya.
Viktor membukakan pintu tanpa suara.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya pelan, seolah tahu bahwa suasana masih tebal dengan sesuatu yang belum selesai.
Aku tidak langsung menjawab. Kukeluarkan sarung tangan kulit dari saku jaket, menyelipkannya perlahan ke jari-jari yang masih menyimpan jejak kulit Aerith. Aroma dari rumah kayu itu masih tertinggal samar di bajuku—wangi bunga, embun... dan godaan.
"Dia mulai tahu," ucapku akhirnya. Sederhana. Dingin. Tapi Viktor tahu maknanya jauh lebih dalam dari itu.
Dia menoleh sedikit. "Lalu apa perintah selanjutnya, Tuan?"
Aku memutar kepala, memandang keluar jendela. Pepohonan menjulang, diam dan tak menghakimi. Sama seperti Viktor.
"Tidak ada yang berubah. Awasi dari jauh. Jangan ganggu dia, jangan dekati dia—belum."
Viktor mengangguk. "Apakah dia... menunjukkan perlawanan?"
Aku mengulas senyum kecil, lebih kepada diri sendiri. "Dia memohon padaku malam ini, Viktor."
Viktor menunduk sopan, tapi aku tahu dia menyadari sesuatu berubah dalam nada suaraku. Mungkin terlalu lunak. Terlalu... pribadi.
Aku menoleh padanya. Tatapanku mengeras. “Dia tetap target. Jangan pernah lupakan itu.”
"Ya, Tuan."
Mesin mobil menyala tanpa suara. Kami meninggalkan hutan, meninggalkan Aerith, tapi jejaknya masih menempel di kulitku, di pikiranku, seperti mantra yang tak bisa kuhindari.
Dia adalah obsesi dan peringatan dalam satu bentuk tubuh yang rapuh. Tapi dalam kerentanan itu, ada sesuatu yang lebih berbahaya: kekuatan untuk menjatuhkanku.
Dan aku belum memutuskan apakah aku akan membiarkannya.
----
Beberapa hari terakhir berlalu dalam rutinitas yang padat dan membosankan—rapat keluarga, pertemuan dengan petinggi bisnis, urusan dengan kultus lama yang terus menuntut perhatian. Semuanya berjalan seperti biasa. Tertib. Efisien.
Tapi kepalaku tidak.
Tidak ada satu malam pun aku bisa tidur tanpa pikiranku kembali ke malam itu. Ke tubuh mungil Aerith yang menggeliat di bawah bayang-bayang, ke matanya yang bergetar di ambang kenikmatan dan ketakutan, ke bibirnya yang menyebut namaku seolah itu satu-satunya yang nyata dalam dirinya.
Sial.
“Ada laporan baru, Tuan,” ujar Viktor saat kami memasuki ruang belakang kediaman keluarga. Pria itu seperti bayangan—selalu tahu kapan harus muncul.
Aku duduk di kursi kulit tua, menyalakan rokok tanpa melihatnya. “Bicara.”
“Seperti biasa, dia tidak kemana-mana selain ke kota kecil terdekat bersama pamannya. Kemarin... dia ikut berburu.”
Aku menoleh, alis terangkat sedikit. “Berburu?”
“Ya, Tuan. Mereka masuk ke hutan. Pamannya tampaknya membawanya untuk hiburan, mungkin agar dia merasa normal. Dia menggunakan senapan kecil, tidak terlalu jauh dari rumah. Tidak ada yang mencurigakan.”
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan asap rokok perlahan ke udara yang sunyi.
Berburu.
Ada sesuatu yang... ironis dalam laporan itu. Aerith, gadis yang seharusnya menjadi mangsa, kini memegang senapan dan melangkah ke dalam hutan seolah-olah dia tidak lagi takut.
Apakah dia mulai merasa aman?
Tersenyum tipis, aku menutup mata sejenak. Tapi yang kulihat hanya wajahnya saat dia menahan pergelangan tanganku. Saat dia memohon agar aku tidak pergi.
Dan sekarang dia berburu. Dengan orang lain. Bukan aku.
“Tetap awasi,” gumamku, lebih pada diriku sendiri daripada pada Viktor. “Tapi jangan mendekat. Belum.”
“Ya, Tuan.”
Aku berdiri dan berjalan ke jendela, memandangi langit Portland yang kelabu. Sisa kabut masih menggantung di udara, mengingatkanku pada kelembutan kulitnya, dan dinginnya malam saat dia mengucapkan namaku di antara bisikan.
Dia milikku.
Tapi biarkan dia bermain sebentar. Biarkan dia merasa bebas.
Agar saat aku datang kembali…
Dia tahu bahwa dia tidak pernah benar-benar bisa lari.