Langit Portland masih mendung, seperti biasanya. Sore menjalar pelan di balik pepohonan tinggi di luar jendela, membawa hawa lembap dan wangi tanah basah masuk ke dalam rumah. Aku duduk di kursi kayu dekat perapian yang belum dinyalakan, menggenggam secangkir cokelat panas yang baru saja dibuatkan oleh pamanku. Di seberangku, seorang pria duduk—Damien. Ia bersandar santai, sikapnya tenang dan sopan, tapi sorot matanya cukup dalam untuk membuatku sedikit gelisah.
Rumah ini sunyi, hanya ada detak jam dan denting kecil sendok yang membentur dinding cangkir. Kami sudah diam cukup lama sebelum akhirnya dia membuka suara.
“Kamu kelihatan lebih tenang daripada cerita-cerita yang kudengar,” katanya, matanya menatapku penuh rasa ingin tahu.
Aku mengangkat alis pelan dan tersenyum. “Cerita dari paman pasti ada bumbu dramanya.”
Dia tertawa kecil. “Mungkin. Tapi satu hal yang jelas, dia sangat melindungimu.”
Aku menunduk, jari-jariku melingkar di pinggir cangkir. “Dia satu-satunya orang yang bisa aku percaya sekarang.”
Damien mengangguk pelan. “Kalau begitu, sekarang kamu bisa nambah satu orang lagi ke daftar itu.”
Aku menoleh, sedikit terkejut dengan ucapan itu. Mata kami bertemu, dan untuk sesaat aku mencoba mencari sesuatu yang tersembunyi dalam sorot matanya. Tapi tidak ada. Tak seperti... dia.
“Aku bukan orang yang gampang percaya,” ucapku jujur.
“Dan aku bukan orang yang gampang nyerah,” balasnya.
Senyumku terbit pelan, tapi cepat menghilang. Ada sesuatu yang terasa mengganggu dari dalam diriku—sebuah tarikan yang familiar. Sentuhan. Desahan. Tangan yang menekan pinggangku. Napas panas di telingaku...
Aku menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan itu dari kepalaku. Berhenti. Tapi bahkan saat aku kembali menatap Damien, rasa bersalah langsung menyusup.
Dia nggak tahu. Dia bukan bagian dari dunia yang sudah menelanku hidup-hidup. Dia terlalu baik.
“Kamu terlalu baik, Damien,” gumamku. “Mungkin terlalu baik untukku.”
Dia tersenyum lembut. “Kamu belum kenal aku sepenuhnya, Aerith.”
Aku tertawa kecil, tapi jantungku justru berdetak makin cepat. Damien terasa seperti tempat perlindungan, tapi... kenapa pikiranku tetap kembali ke malam itu?
Tawa gelap di dekat jendela. Bisikan di antara hembusan napas. Bibir yang nyaris merenggutku utuh.
Aku memejamkan mata. Aku pikir aku bisa lepas. Tapi bahkan di sini—dengan pria baru yang baik dan normal—bayangannya masih hidup. Masih ada. Masih membakar.
Kenapa kamu belum muncul lagi, Kirigan?
-----
Hari-hari di Portland terasa seperti dunia yang berbeda—udara bersih, sunyi yang menenangkan, dan kehangatan yang perlahan menyusup ke hatiku. Aku mulai bangun lebih pagi, membuat sarapan sendiri, bahkan sesekali membantu Damien menyiapkan kayu bakar untuk perapian.
Damien… Dia begitu sabar dan lembut, sangat berbeda dari pria yang sebelumnya mengisi pikiranku. Senyumnya hangat seperti matahari musim gugur, dan caranya berbicara selalu pelan seolah takut membuatku takut. Mungkin karena dia tahu, atau setidaknya menebak, bahwa aku pernah melalui sesuatu yang membuatku rapuh.
Hari ini kami bermain baseball di halaman belakang. Damien bilang dia ingin mengajarkanku cara memukul bola seperti profesional. Aku tertawa ketika pertama kali gagal, dan ia dengan sabar membetulkan posisi tanganku.
“Kamu harus lebih rileks. Gini, aku bantu pegangin,” katanya, berdiri di belakangku dan membimbing gerakanku dengan kedua tangannya. Seketika tubuhku menegang. Bukan karena Damien, tapi karena ingatanku melayang ke seseorang lain—seseorang yang juga pernah berdiri di belakangku, terlalu dekat, terlalu kuat.
Kirigan.
Aku menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangannya, dan memukul bola sekuat yang aku bisa. Damien tertawa bangga, memujiku karena berhasil memukul jauh.
Malam harinya, aku duduk di dekat jendela besar di kamarku, memandangi hutan yang samar tertutup kabut. Damien sudah pulang ke rumahnya di bawah bukit. Aku menggenggam mug teh hangat dan membiarkan pikiranku berkelana.
“Apa dia benar-benar pergi?” bisikku sendiri.
Kirigan masih menempati sebagian dari pikiranku. Diam-diam aku menunggunya, setiap malam berharap ia muncul seperti hantu yang menuntut penebusan. Tapi setiap pagi, yang kutemui hanya embun dan keheningan.
Dan saat Damien datang di pagi hari dengan senyum tulusnya, aku tersenyum kembali. Bukan karena aku lupa, tapi karena aku sedang belajar... menerima.