Telepon itu datang saat sore hampir tenggelam di balik pegunungan Portland. Aku sedang duduk di beranda belakang rumah Paman Sasha, jari-jari tangan terlipat di atas mug teh hangat yang sudah setengah dingin. Angin membawa aroma hutan, kayu pinus, dan dedaunan basah.
Getaran dari ponselku membuatku sedikit terlonjak. Nama Mom muncul di layar, dan untuk beberapa detik, aku hanya menatapnya. Aku tahu, jika aku menjawab, akan ada sesuatu yang berubah.
"Hello?" suaraku nyaris ragu.
"Aerith." Suara ibuku—tegas tapi lelah. “Ashpen’s wedding is next week. You should come home.”
Home.
Aku nyaris tertawa kecil. Apakah tempat itu masih rumah bagiku? Setelah semua yang terjadi?
Aku tidak langsung menjawab. Ibuku tahu aku bimbang. Dan seperti biasa, dia tak memberi ruang untuk perdebatan.
“She wants you there,” lanjutnya. “We all do.”
Lalu telepon terputus begitu saja.
Aku menunduk menatap cangkir tehku yang sekarang benar-benar dingin. Paman Sasha duduk tak jauh dariku, mengasah pisau berburu dengan santai. Damien baru saja kembali dari hutan, membawa kayu bakar di bahunya.
“You okay?” Damien bertanya begitu melihat ekspresiku.
“Ashpen’s getting married,” aku menjawab pelan. “I have to go back.”
Dia menaruh kayu dan mendekat. “Then we go.”
Aku menatapnya. “We?”
Dia hanya mengangguk. “You’re not going back there alone.”
Dan begitulah, seminggu kemudian kami kembali ke tempat itu. Ke kota tua yang selalu terasa dingin bahkan saat musim semi. Ke rumah besar keluarga Cosser yang menyimpan lebih banyak rahasia daripada tawa.
---
Kota itu masih sama. Dingin, megah, dan menatapku dengan rahasia yang tak pernah benar-benar hilang dari bayangannya.
Aku menatap keluar jendela mobil, menyaksikan kabut tipis menyelimuti pohon-pohon tua di sepanjang jalan menuju Beldam Heights. Sudah berapa lama aku meninggalkannya? Rasanya seperti satu kehidupan yang lalu. Tapi aroma laut asin, langit kelabu, dan siluet rumah-rumah batu tua itu langsung menyeretku kembali ke malam itu. Malam ketika segalanya berubah.
Damien duduk di sampingku di kursi belakang, tubuhnya hangat dan nyaman, seperti jangkar yang membantuku tetap tenang. Sementara Paman Sasha menyetir dengan tatapan tajam khas militer, tangannya mantap di kemudi, seperti tahu betul jalanan ini meski bertahun-tahun menjauh darinya.
"Are you okay?" Damien berbisik pelan di telingaku, suaranya lembut.
Aku menoleh dan tersenyum kecil. "I don’t know. Being back here… it’s strange."
Dia menggenggam tanganku. "You don’t have to be afraid. I’m here."
Aku mengangguk, meskipun bagian terdalam dari diriku tahu bahwa ketakutan yang satu ini bukan sesuatu yang bisa dia pahami. Beldam Heights bukan hanya kota bagiku. Ia adalah kutukan, teka-teki berdarah yang belum selesai.
Kami tiba menjelang sore. Langit menggantung rendah, awan menggumpal di atas langit abu-abu. Rumah besar keluarga Cosser berdiri megah di kejauhan, lebih mirip kastil daripada rumah. Butuh sejenak untuk aku berani melangkah turun dari mobil.
“Welcome home, kiddo,” ucap Paman Sasha sambil menepuk punggungku.
Rumah ini menyimpan kenangan. Tawa ibuku. Tatapan dingin Ayah. Suara langkah kaki di malam hari. Aku menelan ludah dan melangkah masuk. Aroma kayu tua dan parfum mawar tua langsung menyambutku.
Ashpen langsung memelukku begitu aku masuk. Gaun pre-wedding-nya masih separuh dikenakan, rambutnya diatur rapi dengan bunga putih kecil di sela-selanya.
“Kamu datang,” ucapnya dengan mata berkaca.
“Tentu saja aku datang,” jawabku sambil membalas pelukannya. “You’re my sister.”
Ruangan dipenuhi keramaian—dekorasi pernikahan, keluarga jauh, suara tawa. Tapi semuanya terasa seperti kabut. Aku merasa seperti arwah yang berjalan di antara manusia.
Damien membaur dengan mudah, bahkan ikut membantu membawa kotak-kotak bunga. Dia bicara sopan dengan keluarga kami, mencairkan suasana dengan caranya yang tenang. Dan untuk sesaat, aku merasa… normal.
Tapi saat malam turun dan semua orang mulai beristirahat, aku berdiri di balkon kamarku yang menghadap ke taman belakang. Di sanalah aku melihatnya dulu. Sosok bertopeng hitam di balik kabut.
Aku menarik napas dalam-dalam. Ini hanya satu akhir pekan, pikirku. Satu pernikahan, lalu aku akan pergi lagi. Tapi bagian kecil dalam diriku tahu—kembali ke sini bukan hanya tentang Ashpen.
It’s about the past.
It’s about what still lives in the dark corners of this city.
And maybe… about who still watches from the shadows.
Seminggu terakhir rasanya berjalan seperti mimpi yang terlalu cepat—atau mungkin terlalu pelan, tergantung dari sisi mana aku melihatnya.
Setelah panggilan singkat dari Mama minggu lalu, aku akhirnya memutuskan pulang ke Beldam Heights. Ashpen, kakakku, akan menikah. Itu hal besar—dan, tentu saja, aku harus ada di sana. Meski pada awalnya, aku sempat ragu untuk kembali. Tapi dengan paman Sasha dan Damien yang ikut menemaniku, segala ketegangan itu terasa lebih ringan.
Hari-hari di rumah keluarga kembali penuh. Orang-orang datang dari luar kota, tawa dan obrolan memenuhi ruang-ruang yang biasanya sunyi. Aku ikut sibuk membantu Mama dan beberapa sepupu mengatur dekorasi, memilih bunga, dan mencocokkan warna serbet dengan gaun pengiring pengantin. Damien pun tak banyak mengeluh. Dia membantu mengangkat kotak-kotak, memperbaiki lampu taman, dan bahkan jadi supir sementara untuk antar-jemput keluarga dari hotel.
Semua orang tampak menyukai Damien.
Bibi-bibi dan tanteku tersenyum simpul setiap kali dia lewat. Sepupu-sepupuku menggoda dengan terang-terangan. Beberapa bahkan bertanya, “Kalian pacaran, ya?” dengan nada yang terlalu antusias. Aku hanya bisa tersenyum canggung dan bilang tidak. Tapi kata-kataku seolah tak cukup kuat menutupi kenyataan bahwa Damien memang terlihat sempurna di sampingku. Dia selalu sopan, perhatian, dan tenang. Terlalu tenang.