Gedung tua bergaya kolonial itu berubah drastis dalam hitungan hari. Lantai marmernya kembali mengilap seperti cermin, langit-langit berdekor emas dipoles ulang, dan aroma bunga segar dari buket-buket peony serta mawar putih menguar dari tiap sudut ruangan.
Pernikahan Ashpen akan digelar dalam tiga hari, dan seluruh keluarga besar sudah berkumpul di mansion kami di Beldam Heights. Koki-koki terbaik dari New York dan Florence sudah diimpor sejak kemarin, desainer interior berlalu-lalang dengan lembaran blueprint dekorasi, dan wedding planner yang terkenal temperamental itu nyaris tidak berhenti berteriak ke asisten-asistennya sejak pukul enam pagi.
Aku tidak banyak ikut campur, tapi kehadiranku seperti simbol penting—putri bungsu dari keluarga Cosser yang akhirnya muncul kembali dari 'pelarian' di Portland. Setiap tatapan yang mengarah padaku selalu penuh rasa ingin tahu.
Dan entah bagaimana, Damien berada tepat di sampingku.
Ia berjalan dengan langkah tenang, mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku, dengan rambut agak berantakan dan senyum yang terlalu lembut untuk dunia kami yang penuh intrik. Banyak yang salah paham, tentu saja. Mereka mengira kami berpacaran. Bahkan Ibu sempat menatap kami berdua dari ujung meja makan dengan ekspresi haru yang... aneh. Seolah beliau akhirnya melihat aku "kembali normal".
Damien menemaniku ke sesi pengepasan gaun. Dia bantu membawakan beberapa box hadiah dari tamu-tamu luar negeri. Dia bahkan duduk di ruang keluarga bersama Paman Sasha dan calon suami Ashpen sambil mendiskusikan whisky mahal dan koleksi senapan antik—sesuatu yang sama sekali bukan dunianya, tapi dia tetap bisa masuk ke dalamnya, tanpa pretensi.
Dan aku merasa... nyaman. Terlalu nyaman, mungkin.
Tapi malam tetap menjadi wilayah milik Kirigan.
Karena saat lampu-lampu chandelier dipadamkan, dan gemerlap pernikahan tertelan sepi, pikiranku kembali pada pria itu. Pada malam itu. Pada sentuhan yang terlalu membekas.
Aku belum bisa melupakannya. Bahkan saat Damien menggenggam jemariku di sela persiapan, atau ketika dia menatapku seolah aku satu-satunya hal yang penting di ruangan itu—aku tetap merasa ada bagian dari diriku yang masih... kosong.
Bagian yang cuma bisa disentuh oleh kegelapan.
Bagian yang, hingga kini, masih menunggu Kirigan.
Dan itu membuatku muak pada diriku sendiri.
Tapi... aku juga tidak bisa berhenti.
Tok. Tok.
Ketukan pelan di pintu membuatku menoleh dari jendela. Tirai tipis bergerak lembut oleh angin malam, membawa masuk aroma bunga peony dari taman bawah. Aku baru saja berganti baju—kaus longgar dan celana satin—saat suara itu kembali terdengar, kali ini disertai panggilan yang terlalu akrab untuk tidak dikenali.
"Hei, kamu masih bangun?"
Aku membuka pintu perlahan. Damien berdiri di depan sana, mengenakan sweater tipis warna charcoal dan membawa dua gelas kristal serta sebotol wine berlabel asing.
“Aku ‘nyolong’ ini dari meja ruang makan,” katanya, menampilkan senyum bersalah. “Pikir-pikir, kamu pasti butuh yang lebih dari teh kamomil malam ini.”
Aku tidak menjawab. Hanya memiringkan kepala, lalu membuka pintu lebih lebar sebagai isyarat diam.
Kami duduk di lantai kamar, bersandar di ranjang. Cahaya kuning redup dari lampu meja menciptakan bayangan lembut di wajah Damien. Kami tidak langsung bicara. Hanya bunyi kaca bersentuhan, dan tegukan pelan yang terasa sedikit terlalu kuat di tenggorokan.
“Tempat ini...” Damien bersuara lebih dulu. “...ngingetin aku sama rumah lama ibuku di Naples. Tapi lebih... sepi.”
Aku menoleh. “Kamu dari Italia?”
Dia mengangguk. “Setengah. Ibuku dari Naples. Ayahku dari sini, Boston. Aku besar di dua tempat—dua dunia, bisa dibilang.”
Ada jeda, lalu ia menatapku, lebih dalam kali ini.
“Dan dua dunia itu nggak selalu cocok.”
Aku mengangguk pelan. Diam menunggu, tahu ada sesuatu yang lebih dalam yang ingin dia sampaikan.
“Ayahku,” lanjut Damien, “terlibat di urusan yang... kamu nggak akan suka dengar. Mafia, bisnis gelap, segala yang kupelajari sejak kecil untuk kuhindari.”
Aku memiringkan gelas di tanganku. “Dan kamu... berhasil keluar?”
“Belum tentu ‘keluar’. Tapi aku pilih jalan lain. Makanya aku ikut Paman Sasha. Dia orang pertama yang ngajarin aku kalau kekuatan bukan tentang menakut-nakuti orang.”
Aku menatap wajahnya dalam diam. Kata-katanya jujur. Lurus. Dan entah bagaimana, hatiku terasa ringan untuk pertama kalinya sejak malam itu—malam saat Kirigan menarikku ke dalam dunianya yang gelap.
“Aku suka kamu, Aerith,” katanya pelan. “Tapi aku tahu kamu belum sepenuhnya di sini.”
Tenggorokanku tercekat. Aku memalingkan wajah, menatap keluar jendela. Tapi Damien tetap duduk di sana. Tidak mendesak. Tidak menuntut. Hanya menunggu. Dan kehadirannya terasa... aman.
Terlalu aman.
Dan itu menakutkanku dengan cara yang berbeda.
Damien tak bertanya lebih jauh, dan mungkin justru itu yang membuatku ingin bicara. Bukan karena ditekan, tapi karena untuk pertama kalinya, aku merasa bisa bicara tanpa dihakimi.
“Aku takut,” kataku pelan, menatap anggur dalam gelasku. “Kadang-kadang... aku bangun tengah malam dan rasanya seperti ada yang mengawasi dari kegelapan. Tapi saat kulihat ke luar, tak ada siapa-siapa.”
Damien menoleh, tapi tetap diam.
“Aku punya banyak... rahasia. Hal-hal yang bahkan aku sendiri belum bisa pahami. Dan saat kupikir aku mulai memahami, semuanya berubah. Seolah aku ini cuma pion dalam permainan yang bahkan aku tak tahu aturan mainnya.”
Suara Damien rendah. “Kamu nggak sendirian.”
Aku menatapnya. Cahaya lampu membuat mata hazelnya terlihat lebih hangat. “Aku tahu,” kataku pelan. “Kamu ada di sini. Aku tahu itu.”
Dia tersenyum, lalu mengambil gelasku dan menaruhnya di meja kecil. Tindakannya pelan, lembut. Lalu dia mendekat, duduk lebih dekat sampai bahunya menyentuh lenganku.
“Kalau kamu nggak nyaman, aku bisa keluar,” katanya, suaranya nyaris seperti bisikan.
Aku menggeleng. “Nggak... tetaplah di sini.”
Dan untuk beberapa menit, kami hanya duduk. Bahu kami bersentuhan. Napas kami sinkron.
Tiba-tiba, aku ingin menyandarkan kepala di pundaknya.
Jadi aku melakukannya.
Damien tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyelipkan satu tangan ke belakang punggungku dan mengusap pelan punggungku dengan ibu jarinya. Gerakan kecil itu terasa lebih hangat daripada selimut tebal manapun.
“Kamu tahu?” gumamnya. “Dari semua tempat di dunia, aku nggak nyangka kenyamananku bakal kutemukan di kamar gadis yang bahkan belum sepenuhnya kubaca.”
Aku tertawa kecil, lelah. “Aku pun nggak nyangka seseorang bisa membuatku merasa aman hanya dengan diam di sebelahku.”
Dia mencium ubun-ubunku, perlahan dan lembut. Bukan seperti seseorang yang menginginkan tubuhku—tapi seperti seseorang yang menghargai jiwaku.
Dan mungkin, malam itu... untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tertidur tanpa bayangan Kirigan menghantui kepalaku.