Aku tertidur dengan aroma Damien masih tersisa di bantalku, napas hangatnya seolah belum benar-benar pergi. Tapi entah sejak kapan suasana berubah.
Awalnya hanya rasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang tertinggal. Lalu udara di kamar jadi dingin… tapi anehnya, juga terasa sesak. Napasku tersendat, seperti ada beban tak terlihat menekan dadaku.
Aku menggeliat pelan, tubuhku terasa lebih ringan dari seharusnya… dan saat selimutku bergeser, aku tersentak.
Pakaian tidurku terbuka sebagian. Kancing atasnya tak lagi tertutup. Kulitku merinding, bukan karena dingin, tapi karena… sesuatu yang tak bisa kulihat. Sesuatu yang terasa terlalu dekat.
Ada napas.
Dekat.
Hangat.
Dan saat aku membuka mata, dia ada di sana.
Kirigan.
Duduk di tepi tempat tidurku, membungkuk, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku. Matanya yang kelam menatapku seperti bara yang sudah lama tertahan. Nafasnya menyentuh pipiku, bibirnya terlalu dekat—dan tubuhku tak bisa bergerak.
“Akhirnya,” bisiknya, rendah dan nyaris serak, “kau terlihat seperti milikku.”
Tangannya—dingin dan kuat—menyentuh pinggir wajahku, turun ke leherku, lalu berhenti di belahan dadaku yang terbuka. Ia tak menyentuh langsung, tapi bayangannya saja sudah membuat jantungku berdetak tak beraturan.
“Apakah dia menyentuhmu di sini juga?” gumamnya, seolah bicara pada dirinya sendiri. “Atau kau menyimpan bagian ini hanya untukku?”
“Apa yang kau lakukan…” bisikku, nyaris tanpa suara.
Kirigan tersenyum miring, gelap dan mengganggu. “Apa yang kau pikirkan sejak malam itu, hm? Saat kau memohon lebih tapi aku meninggalkanmu seperti mainan yang kehabisan baterai.”
Wajahku memanas. Malu. Marah. Bingung. Tapi tubuhku bereaksi dengan cara yang tak bisa kuhentikan.
Kirigan menunduk lebih dekat. Bibirnya menyentuh rahangku, turun ke leherku—hanya menelusuri, seolah menandai wilayahnya. Satu tangannya menahan pergelangan tanganku di atas kepala, sementara tubuhnya menindih ringan tubuhku, seperti ilusi yang nyata.
“Aku tahu kau merindukanku,” bisiknya di telingaku. “Kau boleh berbohong pada semua orang, bahkan pada dirimu sendiri… tapi tubuhmu akan selalu jujur padaku.”
Aku menggigit bibirku, menahan sesuatu—apakah itu rasa takut, atau rasa ingin, aku tak tahu.
Tanganku bergetar, tapi bukan karena mimpi. Ini nyata.
Aku belum sempat mengatur napasku ketika tangan kuat itu mencengkeram pergelangan tanganku dan menahanku di tempat.
Kirigan.
Dia masih di sana.
Tubuhnya menjulang gelap di atas ranjangku, dan mata kelamnya menyala seperti malam yang tak kenal ampun. Napasnya berat. Nafas milik pria yang menahan sesuatu terlalu lama—amarah, cemburu, obsesi.
"Aku baru pergi sebentar," gumamnya, suaranya dalam dan mengancam, "dan kau sudah membiarkan pria lain menyentuhmu?"
“Damien… dia—”
“Diam.” Cengkeramannya menguat di pergelangan tanganku. Tidak sampai menyakitiku… tapi cukup membuatku tahu siapa yang berkuasa.
“Kau pikir dia bisa melindungimu dariku?” lirihnya, kini bibirnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan napas hangatnya menyapu wajahku. “Aku tak suka berbagi, Aerith. Dan kau, sejak malam itu… sudah menjadi milikku.”
Aku menoleh, menolak menatapnya. Tapi dia memaksaku kembali menatap wajahnya dengan mencengkeram halus daguku.
“Dia menyentuhmu, ya?” bisiknya pelan, nyaris terdengar seperti racun manis. “Apa dia melihatmu seperti ini?” Ia menurunkan pandangannya ke dadaku yang terbuka sebagian, lalu tangannya—masih mengenakan sarung tangan kulit hitam—menelusuri sisi wajahku, turun perlahan ke leher, lalu berhenti di tulang selangka. “Apa dia menyentuh bagian ini… yang seharusnya hanya untukku?”
Aku tak menjawab. Tapi itu tidak menghentikannya.
Ia menunduk. Hidungnya menyusuri sisi pipiku, turun ke leher, napasnya hangat dan membakar. Sentuhan lembut dari bibirnya mengikuti jejaknya. Bukan ciuman. Tapi klaim.
“Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu segalanya, Aerith. Termasuk setiap kali dia menatapmu seperti kau miliknya.” Cengkeraman tangannya di tengkukku menguat. “Tapi kau bukan miliknya.”
Aku mencoba mendorongnya, tapi tubuhku gemetar… bukan hanya karena takut. Ada sesuatu dalam suaranya, tatapannya, yang menusuk terlalu dalam.
Kirigan menatapku lama, lalu matanya turun ke bibirku yang terbuka sedikit karena panik.
“Aku akan beri dia pelajaran,” katanya dingin. “Agar dia tahu siapa yang menyentuh milikku.”
“Jangan—jangan sakiti dia—” bisikku, suara ku terdengar rapuh, tercekik.
Seketika cengkeramannya berpindah ke leherku. Ia menekan ringan, cukup untuk membuat napasku melambat.
“Kau minta aku tidak menyakitinya… setelah kau biarkan dia memandangi tubuh ini?”
Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku, bisikannya gelap dan meresap seperti malam paling kelam.
“Aku seharusnya menghukummu, Aerith.”
Dan kemudian bibirnya menyusuri rahangku, turun ke leher, pelan… lambat… penuh klaim yang menyiksa. Ia berhenti di tulang d**a, napasnya membakar kulitku.
"Aku akan mengingatkanmu siapa aku."
Kirigan menarik napas panjang, lalu menatapku dalam-dalam seolah mencari jawaban yang bahkan aku sendiri tak tahu.
“Kau ingin aku pergi, Aerith?” tanyanya pelan. “Kalau iya, bilang sekarang.”
Aku menggigit bibir. Aku tak bisa menjawab. Bukan karena tak bisa, tapi karena aku tak tahu jawaban yang jujur.
Ia menunduk sekali lagi, jemarinya menyusuri tengkukku hingga ke punggung. “Kau tak bilang apa-apa… jadi aku anggap kau setuju.”
Seketika tubuhku dibalik dengan satu tarikan cepat. Kini aku berbaring tengkurap, wajahku menyamping di atas bantal, napasku tersengal karena keterkejutan dan campuran emosi yang berputar di dadaku.
“Aku harus menghapus jejak pria lain dari tubuhmu,” gumamnya tajam di telingaku. “Kau harus ingat siapa yang menandaimu duluan.”
Tangan Kirigan mencengkeram kedua pergelangan tanganku di atas kepala, menahanku di tempat. Ia duduk di atas punggungku, berat tubuhnya menindih dengan cara yang tak menyakitkan, tapi membuatku sepenuhnya tak berdaya.
“Aku akan menghukummu karena membuatku cemburu,” bisiknya. “Dan karena kau membuatku kehilangan kendali malam ini.”
Hidungnya menelusuri tengkukku, lalu bibirnya menempelkan ciuman lembut yang kontras dengan cengkeraman di tanganku. Kulitku merinding. Panas dan dingin bercampur di bawah sentuhannya.
“Setiap inci dari tubuh ini…” ia menyentuh tulang belikatku, lalu turun perlahan ke punggung bawah. “...punya memori. Dan sekarang, aku akan mengukir ulang semuanya dengan namaku.”
Kirigan kemudian menegakkan tubuhnya, dan aku bisa mendengar gesekan kulit jaketnya saat ia bergerak. Tangannya—satu yang mengenakan sarung tangan dan satu lagi telanjang—menyusuri pinggangku, menghukum dengan tekanan yang membuatku gemetar, tapi tak pernah benar-benar menyakitiku.
“Aku ingin kau ingat malam ini, Aerith,” katanya, suaranya lebih lembut, tapi penuh kekuasaan. “Setiap kali kau melihat Damien, kau akan tahu… siapa yang benar-benar menyentuhmu paling dalam. Siapa yang membuatmu bergetar hanya dengan bisikan.”
Aku mengepal jemariku. Tubuhku berkeringat dingin, mataku berkaca-kaca, tapi bukan karena takut. Perasaan ini lebih rumit dari itu—aku ingin membencinya… tapi aku tak bisa berpaling.
Dan saat ia menunduk sekali lagi, membisikkan namaku dengan nada penuh klaim dan ancaman lembut, aku tahu…
Aku telah jatuh terlalu dalam.
“Sekarang dengarkan baik-baik,” bisiknya di telingaku, suaranya dalam, nyaris seperti geraman. “Kau tak punya hak membuatku cemburu. Tak ada satu pun yang boleh menyentuhmu. Bahkan kau sendiri.”
Jari-jarinya menyusuri tulang punggungku pelan, mengikuti lekuk tubuhku dengan kejamnya kelembutan. “Apa kau pikir Damien bisa menggantikan tempatku di sisimu? Di tubuhmu?” Ia menunduk, bibirnya menyentuh bahuku, meninggalkan jejak panas dan lembap di sana.
Tubuhku bergetar, bukan hanya karena takut… tapi karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa menolak dia. Bahkan saat dia menghukumku.
Ia menahan kedua tanganku di atas kepala, mencengkeramnya dalam satu genggaman. Nafasnya kini berat, liar, tapi tetap terkendali. Sebuah badai yang sengaja ditahan di ambang ledakan—dan aku, pusat dari kekacauan itu.
“Kau harus diingatkan siapa yang memilikimu, Aerith,” katanya pelan, nyaris menyiksa. “Dan kau akan mengingatnya… malam ini.”
Lalu dia mencium tengkukku—panjang, dalam, dan memilukan.
Aku meringis, bukan karena sakit. Tapi karena rasa bersalah, rasa takut… dan rasa rindu yang tak bisa kukendalikan. Kirigan bukan hanya menghukum tubuhku—dia menyiksa hatiku, pikiranku.
Dan malam itu, tak ada tempat aman lagi bagiku—kecuali di dalam pelukan lelaki yang paling kutakuti.
Dan paling kuinginkan.
Aku menggigit bibir saat napas panasnya menyapu tengkukku.
“Kau ingin tahu rasanya dihukum, Aerith?” bisiknya begitu dekat, suaranya dalam dan lambat, menusuk masuk ke tulang belakangku. “Karena kau membiarkan pria lain menyentuh apa yang jadi milikku.”
Cengkramannya mengencang. Aku ingin menolak—seharusnya menolak—tapi tubuhku lebih jujur dari mulutku. Aku menggeliat di bawahnya, jantungku berdetak begitu keras hingga rasanya akan pecah.
Lidahnya menyentuh lekuk leherku… turun perlahan ke bahuku, lalu ke punggungku. Basah, panas, dan menyiksa. Ia menciumiku seolah sedang meninggalkan jejak kepemilikan, seperti tanda yang tak bisa hilang.
“Kau manis sekali saat ketakutan,” katanya, lalu mencakar pelan kulit pinggangku, seolah ingin melihat reaksiku. “Tapi lebih manis saat kau pasrah.”
Aku menahan napas ketika satu tangannya menyelip di bawah tubuhku, menyentuh bagian tengah perutku, menarik tubuhku naik sedikit ke arah dirinya. Kurasakan tubuhnya menempel sepenuhnya—keras, panas, menuntut.
“Kirigan…” bisikku, nyaris menangis. Tapi aku pun tak yakin, apa aku meminta belas kasih atau lebih banyak dari hukuman itu.
Dia tertawa pelan, suaranya berat dan menusuk. “Kau masih menyebut namaku seperti itu… manja, ketakutan, tapi juga penuh rindu. Kau pikir aku bisa biarkan itu, hm?”
Hidungnya menyusuri tulang punggungku, lalu naik lagi ke tengkukku, mencium dengan penuh tekanan hingga kurasakan gigi tajamnya menggigit kecil. Aku mengerang pelan—tubuhku membakar, pikiranku kabur, dan aku benci bagaimana aku merindukan ini.
“Aku ingin kau ingat rasa ini,” bisiknya lagi, kini napasnya tercekat seperti menahan emosi yang dalam. “Jadi saat pria itu menyentuhmu, kau tahu dia tak akan pernah bisa menggantikan aku.”
Ia mendorong wajahku menoleh, lalu menciumku dari samping—dalam dan tak kenal ampun. Ciuman yang keras dan menuntut, membuatku tersedu karena terlalu banyak yang ingin kutolak… tapi tak ada yang bisa kutepis.
Saat bibirnya sibuk memberiku ciuman yang kasar dan penuh tuntutan, satu tangannya meluncur semakin rendah. Terlalu rendah hingga berhasil menyelinap masuk ke dalam celanaku. Celana dalamku, Jari jarinya menggali titik sensitifku. Erangan sesekali lolos dari bibirku diantara ciuman kami.
Aku berusaha mengepalkan kedua pahaku. Menolak memberi akses tangannya untuk terus memberiku sentuhan yang membuatku gila. Dan dia marah.
Dia menggigit bibir bawahku, hingga aku meringis dan membuka mulutku. Lidahnya masuk, jarinyapun sama. Dia terus menggoda membuat vaginaku menangis.
Aku menggeliat di bawah sentuhannya, aku berusaha sekuat yang ku mampu untuk tidak mendesah. Bagaimana jika ada seseorang di luar yang mendengar? Bagaimana jika Damien kembali?
Aku harus menghentikan ini.
"Aku tahu kau menyukainya, Aerith. Berhenti menolakku, berhenti membohongi dirimu sendiri," bisikanya di telingaku, dan jari Kirigan menyentuh titik G-spotku dengan tepat, sehingga aku mendesah dengan gemetar, dan air fluida mulai alir dari vaginaku. Dia menyeringai.
Kirigan mencintaiku seperti menghukumku—dengan tangan yang mengekang, bibir yang menyiksa, dan napas yang penuh amarah serta hasrat.
Dan aku, seperti bodoh, menerima semuanya.
Karena tak peduli seberapa jauh aku mencoba lari… aku tetap miliknya.