Aku bahkan tak sadar kapan napas terakhirku tercekat seperti isakan.
Tubuhku gemetar, kulitku panas dan basah oleh keringat, tapi ruangan ini terasa dingin seperti musim dingin yang menampar. Selimut kusut di bawah tubuhku tak mampu menutupi rasa perih yang perlahan menjalar—rasa tertinggal setelah dilepaskan terlalu dalam.
Kirigan duduk di sisi ranjang, menatapku seolah ia sedang menikmati karya seninya.
Leherku… penuh tanda merah. Pundakku perih, seperti digores cakar. Tulang selangkaku menyisakan bekas gigitan dan isapan—tanda kepemilikan yang tak bisa disembunyikan. Bahkan punggungku pun… terasa ngilu oleh cengkraman dan ciuman yang terlalu kasar, terlalu panas.
Aku tak berani melihat ke arahnya, tapi aku tahu ia tersenyum.
Senyum puas, dingin, jahat… tapi juga penuh rasa memiliki yang mengerikan.
"Begitu rapuh setelah dibuka semuanya," katanya pelan, nada suaranya berat, seperti baru bangkit dari bayangan gelap yang ia pelihara di dalam dirinya. “Begitu cantik saat tak bisa berkata-kata.”
Aku ingin membalas. Ingin memaki. Tapi bibirku terlalu lelah, dan dadaku masih bergemuruh oleh sisa rasa yang tak bisa kusebutkan dengan kata-kata. Mataku memanas… entah oleh emosi atau malu.
Kirigan menunduk, menyentuh leherku yang masih merah. Sentuhannya kini pelan, hampir seperti belaian—kontras dengan yang baru saja terjadi.
"Jangan ulangi ini, Aerith," bisiknya ke telingaku. “Satu sentuhan dari pria lain lagi… dan aku pastikan mereka tidak akan bisa memakai tangan itu lagi untuk menyentuh siapa pun.”
Ia membalikkan wajahku perlahan, memaksa mataku menatapnya. “Jauhi Damien. Jauhi siapa pun. Kalau kau masih ingin mereka tetap hidup.”
Suaranya tenang. Tapi ancaman itu menusuk lebih dari semua bekas di kulitku.
Lalu, begitu saja… ia bangkit, merapikan lengan jasnya, dan berjalan ke arah jendela yang ia buka diam-diam sebelumnya.
Dan aku… masih terbaring di tempat tidurku. Gemetar. Frustrasi. Tersesat dalam badai rasa yang tak kuminta, tapi tak bisa kutolak.
Dia datang dalam malamku seperti hantu... dan pergi tanpa pernah benar-benar hilang.
Dan pagi itu, cahaya matahari yang menyusup melalui celah tirai terasa menyilaukan. Aku membuka mata perlahan, tubuhku terasa berat, sakit di tempat-tempat yang bahkan tak pernah kurasa sebelumnya. Nafasku pendek, dan selimut yang menyelimuti tubuhku seolah menjadi pengingat akan malam yang tak bisa kuhapus begitu saja.
Kulitku perih, seperti terbakar oleh ciuman dari neraka.
Aku duduk perlahan, menahan erangan lirih saat punggungku menyentuh udara. Saat melihat bayangan tubuhku di cermin besar di sudut kamar, aku hanya bisa terdiam. Leherku—pundak, bahkan tulang selangkaku—penuh dengan bekas. Merah, lebam, memar yang menghitam samar. Seolah dia menandai semua yang menjadi miliknya... dan sekarang tubuhku bukan lagi milikku sendiri.
Dengan tangan gemetar, aku menarik turtleneck sweater warna krem dari koperku. Kumasukkan tubuhku ke dalam lapisan-lapisan kain, berharap bisa menyembunyikan semuanya. Aku tambahkan jaket rajut dan scarf tipis, meski udara tak sedingin itu. Tapi tetap saja, beberapa tanda merah samar menyelinap keluar dari kerahku, menari di sisi leherku.
Hari itu rumah menjadi hiruk pikuk. Sepupu-sepupu berdatangan, bunga dikirim bertumpuk-tumpuk, dan dapur utama sibuk seperti restoran bintang lima. Besok adalah hari besar—pernikahan kakakku, dan semua orang berlarian menyelesaikan tugas masing-masing.
Aku ikut membantu, menunduk hampir sepanjang waktu, menyibukkan tangan dan pikiranku. Tapi setiap sentuhan pada kain di kulitku membuatku sadar—aku masih memilikinya di tubuhku.
“Morning,” suara Damien membuyarkan lamunanku. Aku menoleh—refleksnya terlalu cepat. Dan scarfku ikut tersingkap sedikit dari sisi leherku.
Dia melihatnya.
Damien membeku sesaat. Matanya terpaku pada kulitku yang tak sepenuhnya tertutup. Ekspresinya berubah—rasa penasaran, lalu samar-samar berganti dengan sesuatu yang lebih tajam, lebih dingin. Dia melangkah mendekat, suaranya mengecil.
“Ada yang... nyakitin kamu?”
Aku cepat-cepat menunduk, membenarkan scarfku. “Nggak, cuma... luka kecil. Kecelakaan kecil.”
Suaraku terdengar rapuh bahkan di telingaku sendiri.
Damien tak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dalam diam. Tatapannya tak biasa hari ini—seolah ada sesuatu yang mencurigakan di balik ketenanganku.
“Kalau ada yang gangguin kamu, Aerith... bilang ke aku.” Suaranya rendah, hampir menggeram. “Aku bakal pastikan dia nggak akan bisa dekat-dekat kamu lagi.”
Aku mengangguk pelan, mencoba tersenyum. Tapi senyumku terasa tipis dan pahit.
Yang tak Damien tahu—dia tak hanya sudah dekat... dia sudah tinggal di dalamku.
Hari itu, aku seperti bom waktu.
Setiap suara terlalu nyaring, setiap sentuhan terlalu kasar, dan setiap tatapan terasa seperti belati yang menembus kulit. Kepalaku berdenyut pelan, tapi konstan—seolah tubuhku menolak untuk melupakan apa yang terjadi semalam. Apa yang dia lakukan.
Ibuku, seperti biasa, sudah bangun lebih pagi dari siapa pun. Rambutnya yang dicat rapi, wajahnya yang selalu tampak muda dan terawat, berjalan ke sana ke mari seperti jenderal di tengah medan perang, mengatur bunga, catering, dan musik. Tapi matanya tetap tajam ke arahku—selalu memperhatikan.
“Sayang, kamu kenapa? Kamu pucat sekali.”
Suara ibu terdengar tenang, tapi penuh kekhawatiran yang tersembunyi di balik nada cerewet khasnya.
“Aku nggak apa-apa,” jawabku pelan. Terlalu pelan mungkin, karena dia langsung melangkah lebih dekat.
“Jangan bilang nggak apa-apa kalau kamu jelas-jelas keliatan sakit. Kamu sakit? Kamu tidur telat? Kamu berantem sama Damien? Tuhan, kamu... kamu bahkan nggak makan apa pun dari tadi pagi!”
“Ibu, aku bilang aku NGGAK APA-APA,” ucapku lebih keras, menahan emosi yang mendesak naik ke tenggorokanku.
Tapi ibu tidak berhenti. Dia menatapku, mencoba menyentuh pipiku. “Kamu bisa cerita sama ibu. Apa ada yang ganggu kamu?”
Dan itulah titik pecahnya aku.
“YA TUHAN! Aku bilang aku BAIK-BAIK SAJA! Bisakah semua orang berhenti tanya, berhenti mandangin aku, dan membiarkanku sendirian untuk sekali saja?!”
Suara marahku menggema di seluruh ruang tengah. Semua orang—keluarga, sepupu, vendor, bahkan pengantar bunga—membeku. Hening mendadak. Mataku menyapu mereka, dan tiba-tiba dunia seolah menyempit.
Aku lihat Damien di kejauhan. Matanya memburuku, penuh tanya.
Dan aku tak tahan lagi.
Tanpa kata, aku berbalik dan pergi, langkahku tergesa menaiki tangga menuju kamarku. Kutarik tas kecil, kunci mobil, dan jaket tebal. Aku bahkan tak peduli saat seseorang memanggilku dari belakang. Tanganku gemetar saat menarik pintu depan rumah, dan udara dingin menyambutku seperti tamparan nyata.
Mobilku menunggu di garasi—sebuah coupe hitam dengan interior kulit putih, hadiah dari ayahku dua tahun lalu. Saat itu ulang tahunku yang ke-21. Dia bilang, “Untuk putriku yang paling cantik, biar kau bisa lari sejauh mungkin… tapi jangan pernah lari dariku.” Ironis. Karena sekarang, aku benar-benar ingin kabur dari semuanya—termasuk dari ayahku.
Aku nyalakan mesin, suara mesinnya menggelegar lembut. Kupacu keluar halaman rumah megah keluarga Cosser, tanpa tujuan. Hanya ingin pergi. Jauh dari tatapan itu. Jauh dari Damien. Dari ibu. Dari semua orang.
Dan dari bayangan dia.
Kirigan.
Yang bahkan dalam ketidakhadirannya... masih menjadikanku tawanan