Mobil berhenti di tepi danau yang tersembunyi di antara pepohonan lebat, tempat yang sering aku datangi diam-diam sejak kecil—satu-satunya tempat di mana aku merasa benar-benar tak terlihat. Danau itu tenang, permukaannya seperti kaca, memantulkan langit kelabu yang sendu. Ujung danau memiliki sebuah jembatan kayu yang usianya mungkin lebih tua dari diriku sendiri. Papan-papannya sudah mulai lapuk, tapi tetap berdiri, kokoh seperti masa lalu yang tak pernah benar-benar bisa tumbang.
Aku berjalan pelan menuju ujung jembatan itu, lalu duduk di ujung jembatan kayu itu, memandang air yang tenang di bawahku. Udara pagi terasa lebih segar dari biasanya, seolah alam mencoba menenangkan pikiranku yang bergejolak. Di sini, di antara pepohonan yang rindang dan suara angin yang lembut, aku merasa sedikit lebih tenang. Namun, itu hanya sementara.
Pikiranku terus berputar. Mengenang peristiwa malam itu, perasaan yang kacau, dan Kirigan. Entah kenapa, meskipun aku merasa takut dan marah padanya, hatiku masih mencari dia. Apa yang dia lakukan padaku malam itu, aku tak bisa melupakan. Namun, aku juga tahu bahwa aku tak bisa terus-menerus terjebak dalam pusaran itu. Aku harus melanjutkan hidupku. Tapi bagaimana caranya, jika bayangannya masih terus menghantuiku?
Aku menundukkan kepala, membiarkan rambutku yang terjatuh di atas bahu menutupi sebagian wajah. Aku mencoba menenangkan diri, mengatur napas. Sejenak, aku merasa sepi dan kosong. Semua yang terjadi terasa semakin rumit. Hidupku seolah tak lagi milikku sendiri.
Ponselku bergetar di dalam tas. Aku mengeluarkannya dengan ragu, berharap bisa mengalihkan perhatian sejenak dari kekacauan pikiranku. Nama Lana muncul di layar.
Lana.
Aku menatap layar beberapa detik, ragu, sebelum akhirnya mengetuk pesan balasan.
Lana: “Di tempat tato. Kau di mana? Aku sedang mencari saran untuk menambah satu tato lagi. Pasti kau bisa membantu.”
Aku tersenyum tipis membaca pesan itu. Lana, dengan gayanya yang selalu blak-blakan, tak pernah bisa memaksakan diri menjadi orang lain. Sifatnya yang begitu jujur dan tanpa tedeng aling-aling selalu membuatku merasa nyaman, meskipun kadang aku tak tahu harus berkata apa.
Aerith: “Berikan alamatnya, aku akan datang.”
Aku mengirimkan balasan singkat, lalu menatap danau di hadapanku. Keputusan untuk meninggalkan tempat ini dan pergi ke tempat Lana datang dengan sedikit beban di hatiku, namun aku tahu ini mungkin bisa menjadi pengalihanku dari segala pikiran yang menyesakkan.
Tak lama setelah itu, aku bergegas pergi, meninggalkan danau yang tenang itu dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di sana, tapi setidaknya aku bisa sejenak melupakan kegelisahan yang terus menghantuiku.
----
Setelah beberapa waktu berkendara, aku akhirnya tiba di tempat yang Lana sebutkan. Tempat ini tidak begitu mencolok—hanya sebuah toko tato kecil dengan jendela kaca besar yang memamerkan beberapa desain tato di dindingnya. Sebuah tanda neon di atas pintu bertuliskan “Ink Sanctuary” menyala dengan cahaya biru lembut, menciptakan suasana yang sedikit lebih suram di malam yang semakin gelap ini.
Aku memasuki toko dan disambut oleh bau khas tinta dan alkohol yang selalu tercium di tempat-tempat seperti ini. Lampu-lampu redup menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya yang temaram. Di sudut ruang, terdengar suara mesin tato yang berderak pelan, diiringi dengan alunan musik instrumental yang tenang. Beberapa klien duduk menunggu giliran mereka, sementara seorang tato artis sibuk menorehkan jarumnya di kulit seorang pria yang terbaring di atas meja.
Lana duduk di kursi, mengenakan kaus oblong hitam dan celana jeans yang longgar. Matanya terpejam, tubuhnya sedikit miring ke samping saat tangan kiri artis tato sedang menggambar di lengan atasnya. Aku terkejut melihatnya begitu tenggelam dalam proses itu. Namun, yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa Lana memiliki banyak tato di tubuhnya—selain yang ada di lengan, aku bisa melihat tato yang menjalar hingga ke lehernya.
Saat aku mendekat, mata Lana terbuka, dan senyum lebar muncul di wajahnya. “Aerith! Kau datang juga!” Ia berkata dengan nada ceria, meskipun suara mesin tato masih berdengung di sekitar kami.
“Lana…” aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku saat melihat dirinya lebih dekat. Tato-tato yang ada di tubuhnya ternyata lebih banyak daripada yang aku kira. Di bagian lengan kanannya, terukir gambar bunga mawar yang dikelilingi api. Di punggungnya, aku melihat tato besar yang rumit, berbentuk naga dengan sayap yang terbuka lebar, seolah menyemburkan api. Detail tato itu sangat luar biasa, dengan setiap guratan seolah menghidupkan cerita di atas kulitnya.
Lana tertawa melihat ekspresiku yang terkejut. “Kaget ya? Aku sudah mulai suka dengan tato sejak dulu. Kalau ada waktu, aku biasanya tambah lagi.” Ia berkata sambil melirik tato artis yang sedang bekerja di tangannya.
Aku mengangguk perlahan, masih terkesima dengan desain yang rumit dan besar di tubuhnya. “Itu luar biasa, Lana. Tapi, sejak kapan kamu… melakukan semuanya ini?”
Lana mengangkat bahu dengan santai, tidak tampak sedikit pun canggung. “Sejak aku mulai sering ikut turnamen MMA. Aku merasa lebih kuat, lebih bebas.” Ia tersenyum bangga, mengangkat kedua tangannya ke atas. “Lihat, aku jadi makin kekar, kan?” Dengan tawa kecil, ia menepuk lengan kanannya yang memang terlihat lebih berotot dibandingkan sebelumnya.
Aku meliriknya dengan lebih teliti. Memang benar, tubuhnya tampak lebih berotot dari yang aku ingat, dan bukan hanya karena tato-tatonya. Keberaniannya mengikuti turnamen MMA membuatku semakin mengagumi dirinya, meski aku tahu itu adalah dunia yang penuh dengan risiko. Lana selalu terlihat percaya diri dan bebas, sesuatu yang aku sendiri kadang rasakan sulit untuk dimiliki.
Aku duduk di kursi yang tersedia di dekatnya dan mengamati dengan cermat saat artis tato melanjutkan pekerjaan pada lengan Lana. “Jadi, ini yang kamu lakukan untuk menjaga dirimu tetap kuat?” tanyaku pelan, menyadari betapa jauh perbedaan hidup kami. Sementara aku terjebak dalam kekacauan perasaanku, Lana tampaknya telah menemukan cara untuk merasa kuat dan bebas.
“Yup,” jawab Lana dengan suara tegas. “Tato ini juga semacam pernyataan. Bukan hanya soal penampilan. Setiap garis dan detailnya punya arti tersendiri bagi aku. Seperti perasaan yang selalu ingin aku ungkapkan, tapi tak pernah bisa. Dan kalau aku ikut MMA, itu semacam cara untuk menantang diriku sendiri. Untuk tahu seberapa jauh aku bisa melangkah.” Ia menatap mataku dengan tatapan serius, seolah mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar obrolan biasa.
Aku mengangguk, terdiam sejenak, merenung. Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya memiliki kendali penuh atas hidup. Bahkan sekarang, saat aku merasa telah berusaha begitu keras untuk menghindari Kirigan, perasaanku masih tak jelas, kacau. Aku merasa terperangkap di antara dua dunia yang tidak pernah bisa benar-benar aku pilih.
Lana merasakan keheningan itu dan menoleh padaku dengan senyum yang lebih lembut. “Kamu oke, Aerith?” tanyanya, suaranya kini lebih empati. “Kamu tahu, kau bisa cerita padaku, kan? Apa pun itu. Aku ada di sini.”
Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kekosongan yang kurasakan di dalam hati. “Aku tahu, Lana. Terima kasih.”
Namun, meskipun aku tahu aku bisa berbicara dengannya, hatiku masih tidak tenang. Bayangan Kirigan tetap menggelayuti pikiranku, dan aku takut kalau aku tidak bisa benar-benar melarikan diri dari bayangannya.
Telfonku berdering untuk kesekian kalinya. Nama Mama berkedip di layar, lalu berganti menjadi Uncle Sasha. Aku menatapnya sejenak, lalu membalikkan ponsel, meletakkannya menghadap ke bawah di meja kecil dekat kursi. Duniaku terasa terlalu bising hari ini, bahkan detak jam di dinding terasa seperti dentuman palu godam.
"Aku tahu kau mendengarnya," ujar Lana tanpa menoleh. Suaranya datar, namun mengandung senyum tipis.
Aku hanya mengangguk pelan. "Aku memilih diam hari ini."
Lana tak membalas, hanya mengangkat lengannya yang sedang digambari oleh seniman tato bertubuh besar dan berkepala botak. Ruangan itu hangat, berbau tinta, antiseptik, dan sedikit logam—seperti aroma luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Aku menarik napas pelan. "Kau akan kehabisan tempat jika terus menambahnya."
Lana terkekeh pendek. "Tubuhku belum selesai bercerita."
Ia lalu menoleh padaku, matanya tajam namun tenang. "Aku mau bikin satu lagi. Di wajah."
Aku membelalak. "Di wajah?"
Ia mengangguk. "Tepat di bawah mata kananku. Kecil saja. Inisial. Tapi aku belum yakin, apa yang cocok?"
Aku terdiam beberapa detik. Lalu, tanpa berpikir panjang, aku berkata, "Huruf L."
Lana mengangkat alis. "Kenapa?"
"Itu... huruf awal dari namamu. Dan... semua orang di sini memanggilmu begitu. L. Sederhana. Tapi... kau."
Senyumnya muncul, lembut dan menghantui. "Lalu mari kita ukir itu."
Aku menatap tak percaya ketika tinta pertama menyentuh kulit wajahnya. Tak ada ragu di matanya. Tak ada gentar saat jarum mengguratkan bentuk L besar, tepat di bawah mata kanannya. Ukurannya sedang—cukup besar untuk terlihat, cukup kecil untuk tidak menghapus kecantikannya yang liar dan kasar.
Aku berpaling sejenak, tiba-tiba merasa sesak. Ia begitu yakin dengan identitasnya, sementara aku... aku masih terseok dalam labirin rasa takut, keinginan, dan luka yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun.
Telepon kembali bergetar di meja. Kali ini aku mematikan ponsel sepenuhnya.
Hari ini, aku memilih dunia yang sunyi. Sunyi dan penuh tinta.