Begitu jarum terakhir mengangkat dari kulitnya, Lana menarik napas dalam. Seniman tato itu mengoleskan salep di bawah matanya, lalu menutupnya dengan sepotong plester bening tipis.
"Ayo keluar. Aku ingin makan sesuatu yang manis," katanya sambil berdiri, mengenakan jaket tanpa menutup bagian dadanya yang penuh gambar.
Aku mengangguk, dan kami keluar dari studio itu—tercium lagi aroma udara dingin yang bercampur sisa sore.
Kami berjalan menyusuri trotoar sempit kota tua, berhenti di sebuah gerai es krim kecil yang nyaris tersembunyi di antara dua toko buku. Lana memesankan dua cone: satu vanila untukku, dan satu cokelat untuknya. Ia menyodorkan es krim padaku dengan satu tangan, lalu tangan lainnya dengan ringan menggenggam jemariku.
Tak ada yang aneh. Lana selalu seperti ini. Dekat, hangat, dan tanpa penjelasan.
Kami berjalan pelan, langkah kami sinkron, suara sepatu beradu dengan bebatuan jalan. Es krim dingin mencair pelan di lidahku, dan entah kenapa, rasa manis itu terasa menyakitkan.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," kataku akhirnya.
"Mulailah dari yang menyakitkan."
Aku menoleh ke arahnya, namun ia hanya menatap lurus ke depan.
"Kirigan kembali," bisikku. Nafasku tertahan. "Malam itu... dia masuk ke kamarku. Dia tahu Damien bersamaku. Dia... marah. Sangat marah."
Lana tak berkata apa-apa, tapi genggamannya menguat. Aku lanjut bercerita, semuanya. Tentang tatapan Kirigan yang dingin, tentang cengkeraman tangannya di leherku, tentang ancamannya—yang lebih terasa seperti kutukan daripada peringatan. Lalu tentang Damien yang begitu manis, begitu tulus… dan betapa hancurnya aku karena tak mampu memberi siapa pun kejujuran penuh.
Lana tetap diam. Ia tak menyela. Bahkan napasnya pun nyaris tak terdengar. Tapi matanya—mata itu kini gelap, keruh oleh sesuatu yang bukan hanya cemburu... mungkin juga ketakutan.
"Dia bilang... kalau aku dekat dengan siapa pun selain dia, dia akan membunuh orang itu," bisikku. "Dan aku percaya dia bisa."
Kami berhenti berjalan. Es krimku sudah mencair, menetes di ujung cone.
Lana menoleh ke arahku, dan kali ini tatapannya tajam, namun lembut. "Kau tidak bisa terus hidup dalam ketakutan."
"Aku tidak tahu caranya berhenti," jawabku lirih.
Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, lalu berkata pelan, "Kalau dia datang lagi, aku akan berdiri di antara kalian."
Aku menatapnya, terdiam. Kata-katanya seperti pelindung yang belum tentu mampu melawan badai, namun tetap hangat di d**a.
Kami kembali berjalan, es krim di tangan, luka di hati. Dan di antara kami, diam menjadi satu-satunya bentuk bahasa yang bisa kami pahami bersama.
Aku menggeleng pelan. “Jangan katakan itu,” bisikku, suara gemetar nyaris tenggelam oleh langkah-langkah kecil kami di atas trotoar yang dingin.
Lana menoleh, sedikit bingung, tapi aku tak membiarkannya bertanya. “Aku tak bisa membiarkanmu... atau siapa pun masuk lebih jauh ke dalam ini. Semua ini terlalu berbahaya.”
Langkah kami melambat. Mataku menatap es krim yang hampir habis di tanganku, lalu jatuh ke tanah, meleleh di atas aspal seperti perasaanku yang tak mampu kupegang lagi.
“Lana, aku sungguh tidak tahu... bagaimana bisa semuanya jadi seperti ini. Aku hanya ingin hidup biasa. Aku ingin tertawa dengan kalian, bicara soal hal-hal remeh, merayakan pernikahan kakakku tanpa ada rasa takut. Tapi aku tak bisa. Aku bahkan tak bisa tidur tanpa mengira akan ada seseorang menunggu dalam gelap.”
Angin sore menyapu rambutku, menampar pipi yang masih dingin oleh sisa tangisan tak bersuara semalam.
“Jangan katakan kau akan berdiri di antara aku dan dia, Lana. Kau tidak tahu apa yang bisa dia lakukan. Dia... bukan manusia biasa. Dia akan melukaimu. Dan aku tidak akan pernah memaafkan diriku kalau sampai kau terluka karena aku.”
Lana menghentikan langkah. Tangannya menahan pundakku, dan aku terpaksa menatapnya. Mata itu… kali ini begitu serius. Ada luka juga di sana, tapi tertutup rapi oleh ketegasan.
“Kalau kau pikir aku akan lari darimu karena ketakutan, kau salah besar,” katanya tegas. “Tapi aku akan hormati permintaanmu.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk. Bukan karena malu… tapi karena aku takut kalau terlalu lama menatapnya, aku akan menangis. Dan aku sudah lelah menangis.
Kami kembali berjalan. Tak ada yang berkata-kata. Tapi genggamannya tetap erat di tanganku, seperti janji tanpa suara—bahwa meski dia tak bisa melindungi, dia tak akan meninggalkanku.
Angin sore berhembus lembut, tapi terasa dingin saat menembus pori-pori, mungkin karena aku mengenakan sweater turtleneck tebal yang menutupi hampir seluruh leherku.
Lana menoleh ke arahku, pandangannya jatuh ke kerah tinggi sweaterku. Matanya menyipit, lalu tanpa peringatan, tangannya terulur dan menarik sedikit bagian kerahku ke bawah.
"Aku tahu aku nggak salah lihat," gumamnya pelan, suaranya menurun jadi bisikan. "Dia meninggalkan jejak."
Aku buru-buru menarik kerahku kembali, menunduk, dan mencoba mengalihkan pandangan. Tapi sudah terlambat.
"Dia menghisapmu?" tanya Lana, tajam. "Kau... menghisapnya balik?"
Aku membeku. Pertanyaan itu terasa seperti palu besar yang memukul dadaku. Panas langsung naik ke wajahku, dan aku tidak tahu harus berkata apa. Aku mengangguk... lalu menggeleng... lalu menunduk lagi.
"Jadi... yang mana?" tanya Lana lagi, nada suaranya cemburu, lebih dingin daripada biasanya. Bukan karena ingin tahu—lebih seperti tidak ingin tahu, tapi tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Aku tidak tahu," bisikku. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat dia datang. Rasanya seperti... aku bukan diriku sendiri. Aku lemah... dan dia tahu itu."
Lana tidak langsung menjawab. Ia menggenggam tanganku sedikit lebih erat. Es krim di tangan kirinya sudah mulai meleleh menetes ke pergelangan tangan, tapi ia tidak peduli.
"Kau takut padanya... tapi kau membiarkan dia menyentuhmu. Kau benci dia... tapi kau tidak mendorongnya pergi."
Ia berhenti sejenak. "Apa itu cinta, Aerith? Atau hanya ilusi yang dia tanamkan padamu?"
Aku menggeleng, perlahan.
"Aku juga tidak tahu, Lana..." suaraku nyaris tidak terdengar. "Yang aku tahu, setiap kali dia menyentuhku... aku merasa seperti tenggelam. Dan anehnya, aku tidak ingin diselamatkan."
Lana menghentikan langkahnya. Aku ikut berhenti, menatap wajahnya yang kini terasa begitu dekat namun juga asing. Matanya tak berkedip, menyapu seluruh wajahku seolah mencoba membaca apa yang sebenarnya kusimpan di balik kebingungan dan rasa malu ini.
“Kau sadar betapa berbahayanya itu?” bisiknya dengan suara yang nyaris retak. “Dia memperlakukanmu seperti milik pribadi, Aerith. Seperti barang yang bisa dia datangi kapan pun dia mau. Kau bukan milik siapa pun.”
Aku membuka mulut, tapi tak satu pun kata keluar. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan. Karena jauh di dalam lubuk hatiku... aku tahu Lana benar.
Tangan Lana terangkat, jemarinya menyentuh pipiku dengan sangat pelan. “Kalau saja aku bisa menarikmu keluar dari tempat gelap itu… aku akan lakukan. Aku akan lakukan apa pun, bahkan jika itu membuatku terluka.”
Aku menunduk, dan untuk sesaat, genggaman kami terasa menggigil. Bukan karena udara, tapi karena ketakutan dan kenyataan yang tidak bisa dihindari.
“Aku tidak ingin kau ikut terbakar dalam apiku, Lana,” bisikku akhirnya. “Semua orang yang terlalu dekat denganku... selalu berakhir terbakar.”
Lana tertawa pelan, getir. “Kau pikir aku takut api? Aku menyulamnya di kulitku.” Ia menunjuk tato di lengannya yang masih memerah. “Aku memilih luka. Karena luka mengingatkan aku bahwa aku masih hidup.”
Aku menatapnya lama. Angin sore meniup helai-helai rambutku ke wajah, tapi aku tidak mengusirnya. Hanya memandangi Lana, yang kini berdiri tegak di hadapanku—kuat, keras kepala, dan rapuh dalam waktu yang bersamaan.
Ia menarik napas panjang, lalu berkata, “Kalau dia datang lagi... dan menyakitimu lagi... kau harus bilang padaku. Jangan simpan sendiri. Kalau kau mau jatuh, biar aku jadi tempatmu mendarat.”
Aku tak bisa menahan air mata yang menggenang di mataku. Kata-katanya begitu sederhana, tapi beratnya menembus sampai ke tulang.
“Terima kasih, Lana…” ucapku pelan, nyaris patah.
Ia tersenyum, lalu kembali menarik tanganku. “Ayo. Es krim kita sudah mencair. Dan kau belum coba rasa pistachio yang aku bilang enak itu.”
Kami kembali berjalan, masih bergandengan. Tapi kali ini langkah kami lebih pelan, dan hatiku… entah kenapa terasa sedikit lebih hangat.