Begitu aku melangkah masuk ke dalam rumah, aroma bunga segar menyambutku. Ruang tamu dipenuhi karangan putih dan merah muda—mawar, lily, baby's breath—semua tersusun indah, simbol keanggunan dan kebahagiaan. Tapi aku hanya bisa merasakan sesak di d**a.
Mereka semua ada di sana.
Ayah berdiri di tengah ruangan dengan jas kebesarannya, wajahnya merah padam antara lega dan marah. Ibu duduk di sofa, matanya sembab. Ashpen berdiri di sampingnya, masih mengenakan baju latihan dansa, terlihat kelelahan tapi tetap anggun seperti biasa. Paman Sasha bersandar di kusen pintu, dan beberapa kerabat jauh menoleh ke arahku begitu aku masuk.
“Aerith Cosser,” suara ayah menggelegar. “Di mana kau seharian?! Kami mencarimu ke mana-mana!”
Aku berdiri tegak, tidak menjawab. Aku terlalu lelah untuk pura-pura lagi.
“Kau pikir ini waktunya untuk kabur dan bertingkah seperti anak kecil? Besok hari besar untuk keluargamu—”
“Hari besar untukmu, maksudmu,” potongku, suaraku tenang tapi tajam. “Kau yang menjual jiwamu ke sekte busuk itu. Dan sekarang giliran aku yang harus membayar harganya?”
Hening seketika. Hanya denting halus dari vas bunga yang bergetar karena angin dari jendela yang terbuka.
Ayah menatapku, tertegun. “Apa maksudmu?”
Aku melangkah maju. “Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau membuat perjanjian. Menyerahkan darah dagingmu demi kesuksesan bisnis kotor itu. Dan sekarang… mereka datang menagih. Mereka datang padaku.”
Ibu menutup mulutnya, napasnya tercekat. Ayah mendekat dengan langkah berat, tapi aku tidak mundur.
“Kenapa harus aku?” bisikku, suaraku mulai pecah. “Kenapa bukan Ashpen? Kenapa bukan siapa pun selain aku?”
“Aerith!” Ashpen berseru, suaranya meninggi. “Kau tidak tahu apa yang kau katakan!”
Aku menoleh cepat padanya. “Aku tahu persis apa yang kukatakan! Selama ini kau jadi bintang keluarga, si sulung sempurna yang semua orang puja. Aku yang selalu disembunyikan, dilindungi—tapi nyatanya kalian semua hanya sedang menunggu waktu. Menunggu waktuku habis!”
Ashpen berdiri, wajahnya berubah keras. “Kau pikir hidupku mudah? Aku bekerja keras untuk semua ini, untuk pernikahan ini, untuk menjaga keluarga ini tetap berdiri di depan publik! Sementara kau... kau bahkan tak sanggup menghadapi satu kenyataan tanpa kabur!”
“Kau menyebut ini kenyataan?!” Aku tertawa miris. “Kenyataan macam apa di mana seseorang bisa datang ke kamarku setiap malam dan menyiksaku hanya karena ayah kita membuat perjanjian dengan iblis?!”
Suasana menjadi beku. Ibu menangis diam-diam. Ayah memejamkan mata, rahangnya mengeras. Ashpen terdiam, tapi aku bisa melihat luka dalam tatapannya.
“Semua ini salah kalian,” kataku pelan. “Bukan salahku. Tapi aku yang harus menanggung semuanya.”
Paman Sasha akhirnya melangkah masuk. “Cukup.”
Tapi aku sudah berbalik. Aku tak ingin mendengar apa pun lagi. Aku menaiki tangga menuju kamarku tanpa menoleh ke belakang, meski langkahku goyah dan napasku terputus-putus.
Aku hanya ingin lenyap malam ini. Atau berharap Kirigan tidak datang lagi. Tapi jauh di dalam hatiku... aku tidak yakin bisa berharap begitu.
Langkah kaki berat itu terdengar di belakangku, menyusul cepat ke tangga. Aku baru sampai di lantai atas ketika suara ayah kembali menggema, tegas dan membakar.
“Kau tidak akan pergi begitu saja setelah berkata seperti itu!”
Aku berhenti. Rahangku mengatup rapat. Perlahan aku berbalik menatapnya yang kini berdiri di ujung tangga, napasnya naik turun.
“Ayah sudah menyerahkan hidupku tanpa persetujuanku. Apa lagi yang harus kujelaskan?”
“Kau pikir semua ini mudah untukku?” tatapannya menyala, suara bergetar. “Kau pikir aku bisa memilih saat semua yang kubangun di ambang kehancuran?! Jika aku tidak membuat perjanjian itu, kita tidak akan hidup seperti sekarang. Tidak ada rumah ini. Tidak ada pendidikanmu. Tidak ada masa depan!”
Aku mencibir. “Masa depan? Masa depan seperti apa yang menungguku jika setiap malam aku harus berharap tidak ditemukan—tidak dipilih—untuk jadi korban berikutnya dari kultus gila itu?”
“Kau pikir aku ingin ini terjadi?” teriaknya. “Aku mencintaimu, Aerith. Aku ingin melindungimu.”
“Dengan menyerahkanku pada mereka?” aku tertawa hambar. “Itukah bentuk cintamu?”
Wajah ayah berubah kelam. “Aku sudah mencoba segala cara untuk membatalkan perjanjian itu.”
“Tapi tidak berhasil.” Suaraku dingin. “Dan sekarang Kirigan datang mengambil haknya. Setiap malam. Meninggalkan bekas yang bahkan aku tak bisa hapus.”
Ayah terdiam. Di balik mata tuanya, aku lihat ketakutan. Bukan pada Kirigan. Tapi pada kenyataan bahwa aku tidak lagi menjadi gadis kecilnya yang patuh.
“Tidak semua dosa bisa kau tebus dengan uang, Ayah,” bisikku. “Dan aku lelah menanggungnya.”
“Aerith…” suaranya melemah.
Aku menoleh ke arah kamar. “Jika kau ingin menyelamatkan sesuatu... selamatkan Ashpen. Pernikahannya. Nama baik keluarga ini. Biarkan aku memutuskan nasibku sendiri.”
Lalu aku menutup pintu.
Dengan pelan. Tapi juga dengan akhir yang jelas.
Duniaku seperti runtuh dalam satu malam—dalam satu percakapan yang tak bisa kutarik kembali. Nafasku tersengal, tubuhku gemetar oleh amarah dan rasa bersalah yang saling menyergap.
Kakiku lunglai saat punggungku bersandar pada kayu dingin pintu kamar. Dan akhirnya, aku menyerah. Air mataku tumpah, tanpa suara, tanpa bisa kuhentikan. Aku benci ini. Benci semuanya. Tapi yang paling kubenci… adalah diriku sendiri.
Suara ketukan lembut membuyarkan tangisku yang berantakan.
“Sayang… ini Mama. Boleh Mama masuk?” suara itu pelan, hampir seperti bisikan. Tapi cukup untuk membuat hatiku goyah.
Aku tidak menjawab. Tapi tanganku bergerak, membuka kunci pintu.
Pintu terbuka sedikit, lalu sosok Mama masuk, membawa wangi lavender dan ketenangan yang tak bisa ditemukan di tempat lain mana pun di dunia ini. Ia langsung memelukku—erat, tanpa berkata apa pun untuk beberapa saat. Hanya pelukan. Hangat dan hening.
“Aerith, Mama minta maaf…,” ucapnya akhirnya, suaranya pecah. “Mama tahu semua ini terlalu berat. Seharusnya Mama bisa melindungimu lebih baik…”
Aku menangis lagi. Di pelukannya. Di pelukan satu-satunya orang yang masih terasa seperti rumah.
"Aerith, mama tahu ini berat untukmu dan mungkin kamu ingin sendiri saat ini. Tapi mana tidak ingin kamu semakin kalut dengan pikiranmu sendiri " ucapnya perlahan namun tegas.
"Hapus air matamu, ganti pakaianmu. Mari kita berdoa, kita akan pergi ke gereja sekarang. Kita akan meminta kepada tuhan, untuk keselamatanmu, untuk Ashpen, untuk perlindungan kita semua "
Aku hanya bisa mengangguk, tanpa mampu berkata apa-apa. Dalam hatiku, sesuatu terasa genting. Seperti pertanda yang belum sempat kuterjemahkan.