Kami menempuh perjalanan dalam diam. Mobil hitam keluarga melaju perlahan menembus dinginnya malam Beldam Heights. Jalanan yang biasanya ramai terasa lengang, seperti kota ini sedang menahan napas bersama kami. Ashpen duduk di sebelah Ayah di kursi depan, wajahnya menatap ke luar jendela, kaku dan dingin. Mama menggenggam tanganku di kursi belakang, hangatnya kontras dengan udara dingin yang menelusup dari celah jendela.
Gereja itu berdiri kokoh di puncak jalan berbatu, bangunan tua berarsitektur Gotik yang didominasi batu abu-abu dan jendela kaca patri besar. Salib tua menjulang di atas menara, dan loncengnya berdentang tiga kali saat kami turun dari mobil.
Aku menarik napas dalam-dalam saat kami melangkah masuk. Bau dupa dan lilin menyambut kami, membawa aroma suci yang entah mengapa menenangkan. Lantainya marmer gelap, berkilau tertimpa cahaya hangat dari deretan lampu gantung dan ratusan lilin kecil yang menyala di sisi altar.
Bangku-bangku kayu panjang teratur rapi. Di atas altar, patung Bunda Maria berdiri anggun memeluk bayi Yesus, dikelilingi bunga lili segar yang mungkin dikirim langsung dari rumah. Ini gereja yang sering menerima sumbangan dari keluarga kami—gereja kecil tapi hangat, dan selalu terasa seperti rumah kedua bagi Mama.
Kami berjalan menuju barisan depan. Mama berlutut duluan, menyilangkan tangan di d**a. Ayah dan Ashpen mengikutinya. Aku mengambil tempat di ujung, dan setelah sejenak diam, aku juga ikut berlutut.
Tanganku menggenggam erat rosario. Butir-butir kecil itu dingin di telapak tanganku, seperti beban dosa yang belum sempat kuakui. Kepalaku menunduk, dan dalam hening, aku mulai berdoa.
"Dear Lord, please hear me… I'm lost. I don’t know where to go, or what to believe anymore. I beg for Your mercy… for Your protection. For forgiveness… for the sins I never meant to commit."
Suara hatiku nyaris tidak terdengar, bahkan oleh diriku sendiri.
"Please… if You still listen… protect me from the darkness that follows me. From the man who calls himself my fate."
Lidahku kelu saat nama itu hampir terucap.
“…Kirigan.”
Angin dingin tiba-tiba menyusup masuk melalui celah pintu gereja yang tertutup rapat. Semua lilin di dekat altar bergetar, nyalanya menari gelisah. Tak ada yang menyadari itu, kecuali aku. Kepalaku terangkat, dan sejenak aku merasa seperti ada yang mengawasiku dari balik bayangan di antara tiang-tiang batu.
Jantungku berdetak lebih cepat.
Mama menyentuh bahuku, membuatku tersadar. “Kau baik-baik saja?” bisiknya.
Aku mengangguk pelan, meski dalam hati, aku tahu… tidak. Malam ini, bahkan di tempat suci ini—aku tidak pernah benar-benar sendirian.
Aku mencoba memejamkan mata, mengikuti suara imam yang memimpin doa. Tapi pikiranku tak mau diam. Kirigan. Kirigan. Kirigan. Nama itu seperti mantra kelam yang terus bergema dalam pikiranku, merayap pelan, menusuk kesadaranku yang rapuh.
Aku membuka mata, menatap lilin-lilin yang berkedip seolah terganggu angin. Padahal jendela tertutup rapat. Jemariku menggenggam rosario, tapi jantungku berdebar seperti genderang perang. Ada sesuatu yang salah.
Perasaan itu datang lagi—sensasi dingin di tengkukku, napas yang membuntutiku meski tak ada siapa-siapa di belakangku. Dengan perlahan, nyaris tak terlihat, aku memutar kepalaku... dan melihat mereka.
Dua pria. Duduk tenang di bangku belakang. Mereka tidak bergerak, seolah menjadi bagian dari bayangan. Pria pertama, aku mengenalnya—walau wajahnya tertunduk, aku tahu. Hidung itu. Rahang tegas itu. Postur yang terlalu mulus untuk disembunyikan oleh setelan hitam elegannya. Kirigan Morozov.
Duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, tenang seperti malaikat maut yang sedang mengawasi umat berdoa.
Di sampingnya, seorang pria lain—aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Rambutnya hitam pekat, rapi. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya seperti pahatan batu: tak menunjukkan emosi apa pun, tapi justru karena itu... mengancam.
Siapa dia? Anak buah Kirigan? Pengawalnya? Atau… tangan kirinya?
Lambungku menegang. Aku ingin berdiri, kabur, berteriak… tapi tubuhku membeku.
Aku menunduk, pura-pura membetulkan lipatan rokku, lalu perlahan bersandar mendekat ke arah ayahku.
"Papa..." bisikku, hampir tak terdengar. Suara itu lebih seperti helaan napas putus asa daripada panggilan.
Ayah menoleh pelan, menatapku dengan alis terangkat, menyuruhku melanjutkan.
Aku menatap ke bawah, tak sanggup menatap matanya, lalu menggigit bibirku. "Ada yang... ada yang duduk di belakang. Seseorang..."
“Apa maksudmu?” bisik ayah, mulai menajamkan perhatian.
Aku menatapnya, mata kami bertemu. "Dia di sini," bisikku. "Kirigan... dia datang."
Kulihat wajah ayah berubah tegang. Napasnya terhenti sesaat. Tapi sebelum ia sempat menoleh, lonceng gereja berdentang lagi—pelan, tapi menggema lama di antara dinding batu dan kaca patri berwarna.
Aku menggenggam tangannya. “Jangan sekarang. Tunggu mereka pergi.”
Tapi di dalam hatiku, aku tahu satu hal pasti: Kirigan tidak pernah datang hanya untuk duduk diam.
Ia datang untuk mengingatkan... bahwa aku adalah miliknya.
Waktu seolah berjalan lambat ketika doa malam kami akhirnya selesai. Suara imam memudar di kejauhan, dan satu per satu umat mulai meninggalkan gereja dengan langkah yang tenang. Keluargaku berdiri hampir bersamaan, dan aku ikut bangkit, lututku sedikit gemetar. Aku melirik ke samping—ayah tampak tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang hendak meledak.
Kami berjalan menuju pintu keluar. Langkah kaki kami bergema di lorong batu, menyusuri barisan bangku kosong yang kini tersisa bayangan. Tapi dua bangku di belakang tetap terisi. Dua pria itu belum beranjak. Mereka duduk seperti penjaga patung batu, menunggu sesuatu—atau seseorang.
Aku bisa merasakan hawa dari tubuh Kirigan, meski kami belum benar-benar mendekat. Dan ketika kami akhirnya melewati mereka, hanya tinggal beberapa langkah dari pintu, suaranya terdengar—dalam, pelan, nyaris seperti bisikan, namun jelas menyayat.
“Lama tidak bertemu ya, Paman James. Bagaimana kabarmu?”
Langkah kami serempak terhenti. Bahkan ibuku pun yang biasanya menghindari konflik langsung, membeku di tempat.
Ayahku perlahan menoleh. Bahunya mengangkat sedikit, seperti sedang menarik napas panjang sebelum menghadapi sesuatu yang sangat ia benci namun tak bisa ia hindari.
Aku menoleh pula, begitu juga Ashpen. Semua mata kini menatap ke belakang.
Kirigan duduk dengan kaki disilangkan, punggung bersandar santai seolah ini tempatnya—seolah seluruh gereja tua ini hanya panggung kecil yang disediakan untuknya. Wajahnya tersenyum... tapi matanya tidak.
“Kukira kau sudah mati bersama kultusmu, Morozov,” suara ayahku pelan, namun penuh racun. “Atau setidaknya... memilih tidak muncul di tempat suci.”
Kirigan terkekeh pelan, hampir seperti ejekan. “Ah, tapi bukankah Tuhan mencintai orang-orang yang tersesat? Lagipula, aku datang bukan untuk mencari Tuhan malam ini.”
Mataku bertemu matanya. Luruh. Membeku.
Kirigan mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tatapannya tak beralih dariku.
“Aku hanya ingin melihat keluargaku,” katanya. “Sebelum acara besar besok... pernikahan, bukan begitu?”
Ashpen mengepal tangannya. Aku tahu dia ingin bicara, tapi ibuku menahan lengannya.
Kirigan berdiri perlahan, elegan, lalu mengangguk sopan seperti hendak berpamitan.
“Semoga doanya didengar.” Matanya masih menatapku, penuh makna. “Dan semoga... perlindungan yang kalian minta... cukup kuat.”
Ayahku menarik tubuhku ke belakangnya. “Keluar dari gereja ini, Morozov.”
Kirigan tertawa. “Aku justru ingin mengucapkan hal yang sama, Paman.”
Lalu pria di sampingnya—yang belum kutahu siapa—ikut berdiri. Diam, namun tak kalah mengintimidasi. Mata pria itu menatap Ashpen sesaat, sebelum kemudian beralih ke arahku. Dingin. Menghitung. Seperti sedang menilai berapa harga jiwaku.
Kami melangkah cepat keluar dari gereja. Tapi suara Kirigan masih membuntuti di belakang kepala.
Dan di hatiku... sesuatu sudah berubah.
Malam itu, Tuhan mendengar namanya disebut dalam doa. Dan Kirigan menjawab panggilan itu—dengan hadir di gereja-Nya sendiri.