Mobil melaju pelan menuruni bukit menuju rumah. Lampu jalan berpendar redup di kaca jendela yang berkabut. Tak ada yang bicara untuk beberapa menit pertama. Yang terdengar hanya suara mesin, napas berat, dan detak jantungku sendiri yang belum benar-benar tenang.
Aku duduk di kursi tengah bersama Ashpen, sedangkan ayah mengemudi dan ibu duduk di sampingnya. Aku menatap pantulan wajahku di kaca, pucat dan linglung, lalu menatap bayangan hitam yang seolah masih mengikutiku dari balik langit malam.
"Siapa dia?" bisikku akhirnya, menatap punggung ayahku. "Kirigan Morozov... siapa dia sebenarnya?"
Ayah tidak langsung menjawab. Tapi rahangnya menegang lagi, seperti menahan sebuah bom yang terlalu berat jika meledak terlalu cepat.
“Ayah,” aku mengulangi, lebih tegas. “Tolong. Ceritakan semua.”
Ashpen melirikku dengan cemas, tapi ia tak menghalangi. Bahkan ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, ikut menunggu jawaban.
Akhirnya, ayah menarik napas dalam dan mengucapkannya—pelan, nyaris seperti mengutuk dirinya sendiri.
“Kirigan adalah keturunan langsung dari Morozov pertama. Nama itu... sudah ada jauh sebelum Perang Dunia, bahkan sebelum konflik antara Soviet dan Amerika meledak. Mereka berasal dari bagian paling timur Rusia—dingin, kelam, dan jauh dari jangkauan sejarah yang dicatat buku.”
Aku menelan ludah, membiarkan setiap kata ayah menggulung dalam benakku.
“Kultus itu... yang mereka sebut Velikaya Krovi, artinya Darah Agung. Didirikan oleh Morozov pertama—seorang penyihir tua yang konon menguasai ilmu kematian dan penghubung antara dunia ini dengan dunia lain. Salah satu muridnya adalah Grigori Rasputin.”
Aku menegakkan tubuh. Rasputin?
Ayah mengangguk pelan. “Iya. Rasputin berguru pada Morozov. Ia diajarkan bagaimana menundukkan pikiran manusia, bagaimana membuat orang percaya bahwa ia tak bisa mati. Dan ia menggunakan semua itu... untuk membantai seluruh keluarga Romanov.”
Hening menggantung begitu berat hingga rasanya mobil ini bisa tenggelam ke dalam kegelapan.
“Apa... apa itu berarti Kirigan—” aku tak bisa menyelesaikan kalimatku.
“Kirigan adalah warisannya,” gumam ayah. “Yang terakhir. Yang terkuat. Dan mungkin... yang paling haus darah.”
“Ayah pernah ikut kultus itu, kan?” suaraku pecah, hampir seperti luka yang baru dibuka. “Kenapa... kenapa Ayah masuk ke dalamnya?”
Kali ini yang menjawab adalah ibuku, pelan, seperti mencoba meredakan badai yang tak bisa dihentikan.
“Kami... kami tidak tahu sejauh apa mereka bisa mengendalikan hidup kita. Saat itu kami masih muda. Ayahmu... hanya ingin menyelamatkan bisnis keluarganya dari kehancuran. Tapi harganya terlalu besar.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku tahu ini—aku tahu sebagian, tapi tetap saja menyakitkan mendengarnya.
“Dan aku yang harus menanggungnya,” bisikku. “Aku... bukan Ashpen. Kenapa aku yang diincar?”
Tak ada yang menjawab.
Di luar, hujan mulai turun, tipis dan lambat, membasahi kaca depan. Suara wipernya menciptakan irama yang nyaris seperti ratapan.
Kirigan sudah memantauku sejak lama. Dan malam ini... ia ingin aku tahu bahwa waktuku semakin habis.
Di dalam rumah yang mulai sepi, suasana kembali tenggelam dalam kesunyian malam. Ashpen lebih dulu naik ke lantai atas, mengatakan bahwa ia ingin istirahat demi hari pentingnya besok. Sementara itu, aku tidak bisa memejamkan mata, tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Ayahku melepas dasinya, hendak menuju kamarnya, namun aku menahannya.
"Ayah… aku belum selesai. Kau berjanji akan menceritakan semuanya."
Ia memandangku lama, lelah dan murung, sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Ikut aku."
Kami berjalan melewati lorong rumah besar ini, menuju ruang kerjanya yang selama ini lebih sering tertutup. Saat aku masuk, aku bisa mencium aroma kayu tua dan tembakau yang samar. Ia berjalan menuju rak buku besar di dinding, lalu menarik salah satu buku dengan ujung jari. Sebuah mekanisme terdengar berdetak pelan, dan rak itu bergeser membuka—mengungkapkan lorong sempit menuju ruangan tersembunyi di baliknya.
"Masuklah. Tapi ingat, apa yang akan kau lihat, tidak boleh kau ceritakan pada siapa pun tanpa alasan yang sangat kuat."
Ruangan itu gelap dan berdebu, namun saat ayahku menyalakan lampu gantung tua, aku melihat dinding-dinding yang dipenuhi dokumen tua, peta, dan foto-foto hitam putih. Meja besar di tengahnya menampung banyak berkas yang tersusun rapi dalam map kulit. Ia menarik salah satu map dan membukanya di depanku.
"Ini… mereka semua. Para pengikut kultus Morozov."
Aku menelan ludah. Di dalam foto-foto itu, terlihat puluhan orang—mungkin seratus lebih—berdiri di dalam lingkaran batu, mengenakan jubah hitam dan topeng kelinci berwarna putih yang menyeramkan. Mataku terpaku pada satu foto yang menampilkan simbol bulan sabit dengan mata di tengahnya—sama persis dengan tato di pergelangan tanganku.
"Mereka menyebut dirinya 'The Keepers of the Hollow Moon'. Dan Kirigan... dia adalah anak kedua dari pemimpin terakhir keluarga Morozov. Tapi bukan dia yang seharusnya hidup."
"Apa maksudmu?"
Ayahku menghela napas berat.
"Anak pertama keluarga itu adalah perempuan. Seorang bayi. Tapi ia dikorbankan begitu lahir. Mereka percaya bahwa darah perempuan sulung pemimpin itu suci, dan bisa memperkuat hubungan mereka dengan dewa yang mereka sembah. Nama bayi itu bahkan tidak pernah tercatat dalam sejarah. Kirigan tumbuh dalam bayang-bayang pengorbanan itu. Dan kau tahu apa yang lebih mengerikan, Aerith?"
"Apa…?"
"Kirigan menganggap dirinya tak tersentuh karena dia hidup menggantikan kematian. Ia meyakini bahwa ia adalah 'yang terpilih'. Yang akan menyempurnakan janji keluarga Morozov—dengan darahmu."
Aku gemetar. Suhu ruangan mendadak terasa dingin dan menghimpit.
"Mengapa darahku?"
Ayah menatapku dengan mata sendu, namun tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan sebuah foto terakhir—foto hitam putih seorang pria muda dengan mata kelabu dan senyum tipis, berdiri di antara orang-orang bertopeng.
Kirigan.
"Karena kau adalah kunci dari perjanjian yang dulu ku buat. Dan Kirigan datang untuk menagihnya."
Aku tidak bisa bernapas dengan normal. Rasanya seperti ada batu besar menekan dadaku. Aku menatap ayahku dari tempat dudukku, menunggu jawaban yang bahkan aku sendiri tidak yakin ingin kudengar.
“Ayah,” bisikku. “Kalau mereka menangkapku… kalau mereka benar-benar berhasil membawaku… apa yang akan mereka lakukan padaku?”
Ayahku terdiam. Sekilas, aku melihat ketakutan di wajahnya. Bukan ketakutan karena mereka akan datang, tapi lebih karena dia tahu jawabannya, dan dia tahu aku belum siap mendengarnya.
“Ayah,” desakku. “Tolong.”
Ia berdiri dan berjalan pelan ke rak buku. Tangannya terulur ke rak paling bawah, menyentuh sesuatu yang tersembunyi di belakang tumpukan buku tua. Sebuah buku berjilid kulit ditarik keluar—tua, berdebu, dan di bagian depannya ada simbol bulan sabit dan mata. Hatiku berdetak makin cepat.
Ia membuka buku itu di hadapanku, memperlihatkan halaman dengan tulisan tangan dan ilustrasi mengerikan. Aku merasa tubuhku membeku saat ia mulai bicara.
“Setiap tahun, mereka melakukan ritual… semacam persembahan untuk dewa mereka,” katanya pelan. “Mereka menyebutnya Persembahan Bulan Kosong. Mereka akan memilih satu gadis muda untuk dijadikan pengantin sang dewa.”
Aku hampir tertawa karena terdengar seperti dongeng sesat. Tapi sorot mata ayahku tidak mengandung satu pun bayangan lelucon.
“Pengantin?” ulangku, hampir tak bersuara.
“Iya,” jawabnya. “Dia akan dibalut kain putih, dipersiapkan dalam upacara, lalu ditinggalkan sendirian di altar batu saat purnama. Di sanalah, mereka melakukan… penyatuan.”
“Penyatuan?” dadaku sesak.
“Jiwanya akan direnggut. Diambil. Tubuhnya tetap hidup, namun kosong. Tak sadar. Tak ada siapa-siapa di dalamnya. Seperti cangkang.”
Dunia seperti berhenti. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tubuhku dingin, tanganku gemetar. Mereka ingin mengambil jiwaku? Membiarkanku… hidup tanpa sadar? Tanpa jiwa?
Aku menelan ludah, menatap ayahku penuh desakan. “Lalu setelah itu… apa yang terjadi pada gadis itu?”
Dia menutup bukunya. Suara keras dari sampul berat yang menutup membuatku tersentak.
Aku tahu jawabannya dari tatapannya. Tapi dia tidak mau mengatakannya.
“Tidurlah, Aerith,” katanya pelan, hampir seperti perintah.
“Ayah…” suaraku gemetar.
“Cukup.”
Nada itu membuatku diam. Tapi pikiranku tetap liar. Aku tidak akan bisa tidur malam ini. Tidak setelah tahu bahwa hidupku… jiwaku… mungkin bukan milikku lebih lama lagi.
Dan Kirigan…
Namanya berdengung di benakku, seperti mantra. Seperti panggilan takdir yang tak bisa kuhindari.