Pagi itu, rumah kami penuh dengan cahaya dan tawa. Udara dipenuhi wangi bunga segar dan parfum mahal. Semuanya… begitu hidup.
Ashpen terlihat luar biasa cantik dalam gaun putihnya. Tiara kecil di kepalanya berkilau tiap kali cahaya matahari mengenainya. Semua mata tertuju padanya, dan seharusnya memang begitu. Ini harinya. Hari besar yang ia impikan sejak kecil. Dan dia bersinar.
Aku berdiri di samping Damien, menggandeng lengannya erat. Ia tampak tampan dalam setelan jas gelapnya, dan senyumnya yang selalu lembut sedikit membantuku merasa tenang. Kami tertawa bersama, pura-pura seperti semuanya normal. Aku pura-pura seperti aku hanya gadis biasa di pernikahan kakakku—bukan seseorang yang sedang dihantui oleh bayang-bayang iblis bermata abu-abu.
Tapi nyatanya, aku tidak bisa benar-benar berpura-pura.
Setiap kali aku menoleh, aku merasa seperti sedang diawasi. Setiap kali angin berembus, aku pikir dia ada di sana—di antara kerumunan tamu, bersembunyi di balik jas dan senyum.
Aku mencoba mengabaikannya. Aku mencoba tersenyum, bersulang, menari sedikit. Tapi saat acara pelemparan bunga dimulai, aku memilih duduk saja, menyender ke pilar taman dan membuka ponselku diam-diam.
Tanganku gemetar saat mengetik namanya: Kirigan Morozov.
Tak ada hasil.
Aku ganti dengan Keluarga Morozov Beldam Heights. Dan baru satu hasil muncul—sebuah artikel lama, mungkin sudah bertahun-tahun tidak diperbarui. Judulnya: "The Hidden Giants of Beldam Heights: The Morozov Legacy."
Isinya tak banyak. Hanya menyebut bahwa keluarga Morozov adalah salah satu keluarga paling kaya dan berpengaruh di kota. Memiliki banyak tanah, perusahaan, dan yayasan amal. Tapi yang membuatku benar-benar merinding adalah satu kalimat terakhir di bagian akhir artikel itu:
"Tak pernah ada catatan publik siapa pemimpin keluarga Morozov. Namanya tidak pernah disebutkan. Seolah seluruh kota sepakat untuk diam."
Jantungku berdetak semakin keras. Bahkan di internet pun, dia… tidak ada.
Damien memanggilku, menyodorkan segelas jus dingin dan senyum lembut. Aku membalasnya, pura-pura lega, pura-pura tak membaca apapun. Tapi di dalam diriku, badai itu mulai menggeliat lagi.
Kirigan Morozov bukan hanya hantu dari masa lalu ayahku.
Dia nyata. Dan lebih dekat daripada yang kubayangkan.
---
Malamnya, hujan turun pelan. Membasahi jendela dan menenangkan segala hiruk pikuk pesta yang baru saja usai. Kamar terasa hangat dengan cahaya kuning redup dari lampu baca. Aku sudah mengenakan piyamaku, dan Damien—yang memutuskan untuk tetap di rumah karena hujan—berada di sisi tempat tidur, mengenakan kaus abu-abu dan celana tidur.
Kami sama-sama diam sejenak, hanya mendengarkan suara hujan. Tapi hatiku terasa penuh. Ada banyak yang belum kukatakan, terlalu banyak rasa yang kupendam, terlalu banyak ketakutan yang tak bisa kuluapkan.
Damien pelan-pelan mendekatiku dan menarikku dalam pelukannya. Pelukannya hangat. Aman.
"You're safe now," bisiknya. "As long as I breathe, nothing will ever hurt you again, Aerith. Even if it costs me my life."
Kata-katanya menusuk tepat ke dalam dadaku. Aku menggigit bibir, mencoba menahan air mata. Tapi juga merasa... ringan. Damien tidak tahu semua detail tentang Kirigan, atau tentang kultus, tapi dia tahu cukup banyak untuk tetap di sini. Tetap bersamaku.
Aku mengangguk pelan, menyembunyikan wajahku di lehernya. "I don't want to lose anyone else," bisikku.
"You won't lose me," ucapnya yakin. Tangan besarnya mengusap punggungku, pelan, penuh rasa.
Sentuhannya tidak terburu-buru. Tidak menuntut. Hanya... ada. Mengisi kekosongan yang sudah terlalu lama menghantuiku.
Aku menoleh, menatap wajahnya dalam cahaya samar itu. Dia menatapku juga—matanya jujur, tulus, dan ada sedikit kekhawatiran di sana.
Aku menyentuh pipinya, lalu perlahan mendekat.
Dan malam itu, bibir kami akhirnya bertemu dalam ciuman yang dalam, lembut, tapi penuh dengan segala rasa yang tak pernah sempat terucap. Ciuman yang menenangkan luka-lukaku. Ciuman yang memberiku sedikit keberanian.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa tertidur dalam pelukan seseorang tanpa rasa takut.
Untuk pertama kalinya, malam tak terasa mengancam.
Aku terlelap dalam pelukan Damien, tapi kedamaian itu tak bertahan lama.
Bayangan mulai merayap masuk. Suara berdesir seperti bisikan angin melewati celah pintu. Gelap. Kabut. Dunia di sekitarku berubah.
Aku berdiri sendirian di tengah hutan yang tak kukenal. Pohon-pohon tinggi menjulang, tapi semuanya mati—daun-daunnya menghitam, batangnya kering seperti arang. Tanahnya retak, seperti kulit kering pecah. Udara terasa berat, menekan dadaku, membuat napasku sulit.
Dan lalu aku melihatnya.
Sosok tinggi... begitu tinggi, kurus, dengan jubah hitam pekat menjuntai sampai tanah. Wajahnya tertutup tudung, dan dari balik kain gelap itu, aku bisa merasakan pandangannya yang menusuk—dingin, haus. Ia berdiri diam di antara pohon, tapi dunia seakan bergetar hanya karena kehadirannya.
Aku mundur, gemetar. "Damien?" suaraku bergetar, panik. "Damien, where are you?!"
Tak ada jawaban.
Sosok itu melangkah pelan. Suara langkahnya bagai seret akar-akar tua di atas batu. Ia mengulurkan tangan. Dari lengan jubahnya, keluar sulur akar hitam, bergerak liar di udara.
Lalu—tusuk.
Aku berteriak. Akar-akar itu melilit tubuhku, tajam, penuh duri yang menyayat kulitku. Sakit. Aku mencoba melepaskan diri, tapi semakin aku meronta, semakin kuat akar itu menggenggam.
"Damien!" aku menjerit. "Help me! Please!"
Tapi ia tak muncul.
Sosok itu semakin dekat. Suaranya akhirnya terdengar—gemuruh rendah, seperti suara yang keluar dari perut bumi.
"He touched what’s mine."
"So I’ll take him away."
Aku menangis. Ketakutan.
"You belong to me, Aerith."
Akar itu menarikku ke tanah. Duri-durinya menancap ke kulitku hingga darah mengalir. Dadaku sesak. Aku tak bisa bernapas. Dunia berputar. Semua jadi hitam.
"Damien!!" jerit terakhirku sebelum...
Aku terbangun.
Dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi tubuhku. Damien masih tertidur di sebelahku, wajahnya tenang, damai. Tak tahu apa yang baru saja kualami. Tapi tubuhku masih gemetar. Luka dari mimpiku masih terasa nyata.
Kirigan...
Bahkan dalam tidurku, ia tak pernah pergi.