Di balik jendela besar bangunan batu tua itu, Kirigan Morozov berdiri diam. Bayangannya menyatu dengan kegelapan ruangan, hanya diterangi temaram cahaya lilin yang menari di permukaan meja marmer. Tangannya terlipat di belakang punggung, matanya menatap lurus ke arah langit malam yang pekat. Tidak ada bulan malam itu. Dan ia menyukainya begitu.
"Dia memanggilmu dalam mimpinya," ujar Viktor pelan dari sudut ruangan. Suaranya hampir tak terdengar, seolah takut mengganggu sesuatu yang lebih tua dari waktu itu sendiri.
Kirigan tidak menjawab. Tapi bibirnya melengkung sedikit—bukan senyum, lebih seperti reaksi halus antara rasa puas dan lapar yang belum terpuaskan.
“Akar sudah menyentuhnya,” lanjut Viktor, dengan kepala sedikit tertunduk. “Ritual bisa dimulai kapan saja. Tubuhnya menolak, ta