Malam di Portland turun perlahan seperti kabut tebal yang merayap di antara batang-batang pohon cemara. Di dalam kamar loteng yang hangat, Aerith tertidur dalam pelukan Damien. Suara napas mereka beriringan lembut seperti musik yang menenangkan. Lampu kamar sengaja dibiarkan redup. Dari balik jendela besar yang menghadap hutan, cahaya bulan menelusup pelan, menari di atas dinding kayu tua.
Jam menunjukkan pukul dua lewat sepuluh dini hari saat keheningan rumah pecah perlahan—bukan dengan suara keras, tapi dengan keganjilan yang tak terlihat: hawa yang berubah, tekanan di udara yang berbeda. Di luar, kabut semakin tebal. Pohon-pohon seperti membeku, tak ada hembusan angin sama sekali.
Beberapa pria bertopeng muncul dari gelapnya hutan, mengenakan pakaian gelap yang menyatu dengan malam. L