Langit malam menutup dirinya di balik kabut pucat. Bulan purnama, besar dan merah seperti mata yang mengintai, menggantung tinggi di atas pohon-pohon pinus raksasa yang bergoyang tertiup angin. Aerith berlari tanpa alas kaki, gaun putihnya sudah ternoda lumpur dan darah dari ranting-ranting yang menggores pergelangan kakinya.
“Jangan lihat ke belakang. Jangan lihat ke belakang,” bisiknya lirih, seperti mantra yang ia ulang untuk tetap hidup.
Tapi bayangan mereka mengikuti—seperti siluet monster dari dongeng masa kecil. Suara langkah kaki berat, gesekan ranting, bisikan aneh yang seolah berasal dari pepohonan. Angin berdesir pelan, tapi terasa seperti berbisikkan bahasa tua.
Langkah Aerith mulai goyah. Nafasnya memburu. Tapi ia terus memaksa. Pohon-pohon di sekelilingnya semakin rapat, s