Gerbang besi tua yang menjulang di depan rumah Morozov terbuka perlahan, menggesek tanah dengan suara rendah yang mengingatkan pada lolongan binatang terluka. Mobil hitam berhenti mulus di halaman batu yang basah oleh embun malam. Langit menggantung kelabu, seolah kota itu sendiri menahan napas.
Kirigan keluar lebih dulu. Wajahnya tetap dingin seperti biasa, tak tersentuh emosi walau beberapa jam sebelumnya ia hampir membunuh seseorang dengan tangan kosong. Jaketnya terburai sedikit oleh angin, memperlihatkan kemeja gelap yang masih ternoda darah dari bentrokan sebelumnya.
Ia memutar tubuh dan membuka pintu belakang mobil. “Turunlah,” katanya pelan namun mengandung kuasa. Bukan permintaan. Perintah.
Aerith melangkah turun, diam-diam menahan napas saat mata mereka bertemu sejenak. Ada ba