Sudah berapa minggu berlalu sejak malam itu—malam saat aku menyerahkan segalanya padanya dan tak menyesalinya sedikit pun.
Setiap pagi, Kirigan selalu menjadi orang pertama yang kusadari keberadaannya. Entah itu dengan jemarinya yang menyentuh lembut tulang pipiku saat aku masih terlelap, atau dengan aroma kopi yang ia siapkan sendiri di sisi ranjang. Ia memelukku dari belakang saat aku membaca, mencium pelipisku sebelum tidur, dan memujiku dengan cara-cara yang membuatku merasa paling berharga… dan paling dimiliki.
Semua tentang dirinya adalah candu. Cara ia menyentuhku. Cara ia menyebut namaku. Bahkan saat ia hanya duduk diam di seberang ruangan, aku tetap merasa tertarik ke arahnya seperti bulan terhadap laut. Tapi semakin aku mencintainya, semakin pula aku merasa takut.
Bukan takut