Udara malam terasa hangat karena api perapian yang masih menyala perlahan. Di sofa besar itu, tubuhku bersandar lemas di pelukannya. Kulitku masih basah oleh keringat, napasku belum sepenuhnya teratur, tapi Kirigan memelukku dengan tenang seolah kami tak melakukan hal berdosa beberapa menit lalu.
Tangannya membelai punggungku perlahan, gerakannya lambat dan menenangkan, menyusuri bekas tali dasi yang masih samar terasa di kulitku. Ia menurunkan satu ciuman lembut di pelipisku, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang gemetar pelan.
“Are you alright?” bisiknya, suaranya rendah tapi hangat.
Aku mengangguk kecil, terlalu malu untuk menatap wajahnya. Jantungku masih berdetak tak karuan, tapi bukan karena takut—karena aku tahu aku telah memberikannya segalanya malam ini.
Kirigan