Jadwal itu masuk pukul sembilan malam.
Ethan sedang membantu Mei Lin membereskan meja makan ketika ponselnya bergetar. Ia membaca pesan itu, lalu berhenti bergerak dengan piring masih di tangan.
Jessica melihat perubahan di wajahnya.
“Ada apa?”
“Terbang uji. Besok pagi, jam enam.”
“Besok?”
“Evaluasi tambahan sebelum aku dikembalikan ke jadwal penuh.” Ethan membaca ulang. “Ditandatangani kantor komandan skuadron. Atas rekomendasi kantor pusat pertahanan.”
Wei Khang meletakkan korannya.
“Kantor pusat pertahanan.”
Tak ada yang perlu menyebut nama itu.
Jessica mengambil piring dari tangan Ethan dan meletakkannya di meja.
“Kamu tidak harus pergi.”
“Kalau aku menolak perintah terbang tanpa alasan medis, aku bisa diskors besok siang. Dan itu persis yang dia inginkan.”
“Lalu kalau kamu pergi, apa yang dia inginkan?”
Ethan tidak menjawab.
Ia menelepon Ryan.
Ryan mendengarkan tanpa menyela. Lalu ia hanya berkata satu kalimat.
“Aku jemput kamu jam empat.”
Jessica tidak tidur malam itu.
Ia duduk di tepi ranjang kamar tamu, memegang jam tangan Ethan yang ia keluarkan dari bungkus sapu tangan. Jarumnya bergerak tanpa suara.
Pukul satu.
Pukul dua.
Pukul tiga lewat empat puluh, ia mendengar pintu kamar sebelah terbuka.
Jessica keluar ke lorong.
Ethan sudah berdiri di sana, mengenakan flight suit biru tua. Emblem RSAF di lengan kirinya. Rambutnya masih basah.
Untuk sesaat Jessica kembali ke hari pertama mereka bertemu di Changi Exhibition Centre. Pria berseragam biru yang menangkap kameranya sebelum jatuh.
“Kamu tidak tidur,” kata Ethan.
“Kamu juga tidak.”
Ia berjalan mendekat dan merapikan kerah flight suit Ethan yang sedikit terlipat.
“Ryan akan memeriksa pesawatnya?”
“Setiap jengkal.”
“Dan kalau dia menemukan sesuatu?”
“Aku tidak naik.”
“Janji?”
Ethan menyentuh pipinya.
“Aku sudah pernah jatuh sekali, Jessica. Aku tidak berniat mengulanginya.”
Di bawah, terdengar klakson pendek dari mobil Ryan.
Ethan mencium kening Jessica dan turun.
Jessica berdiri di jendela sampai lampu belakang mobil itu hilang di tikungan.
Lalu ia mengirim satu pesan.
“Aku menunggumu pulang.”
Hanggar skuadron di Paya Lebar sudah terang benderang ketika mereka tiba.
Dua teknisi sedang memeriksa ban pendarat. Seorang kepala teknisi berdiri di samping jet dengan papan klip di tangan. Jet itu berdiri gagah di bawah lampu, catnya abu-abu kebiruan, kanopinya terbuka.
“Selamat pagi, Captain,” sapa kepala teknisi. “Pemeriksaan sebelum terbang sudah selesai. Semua normal.”
“Siapa yang memeriksa kompartemen avionik?” tanya Ryan.
Kepala teknisi melirik papan klipnya.
“Tim malam. Ditandatangani pukul dua dini hari.”
“Siapa di tim malam?”
“Dua orang dari kontraktor perawatan. Kami kekurangan orang minggu ini.”
Ryan dan Ethan saling berpandangan.
“Kontraktor mana?” tanya Ethan pelan.
Kepala teknisi membuka lembar berikutnya.
“Aero-Sentra Services.”
Tidak ada yang bicara.
Di luar, langit masih gelap. Suara generator berdengung.
“Buka lagi kompartemennya,” kata Ryan.
“Sudah diperiksa, Sir.”
“Aku tahu. Buka lagi.”
Kepala teknisi memandang Ethan, menunggu.
Ethan mengangguk.
“Buka.”
Kepala teknisi menghela napas dan memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya. Pemuda itu mengambil obeng dan mulai membuka panel di sisi badan pesawat, tepat di bawah kokpit.
Satu sekrup.
Dua sekrup.
Ethan berdiri di tangga kecil di samping jet, setengah jalan menuju kokpit. Helm terbang di tangannya. Tangannya basah oleh keringat di dalam sarung tangan.
Ryan menyorotkan senter ke dalam kompartemen.
Kabel-kabel rapi berwarna-warni. Kotak-kotak kecil dengan label nomor seri.
Ryan memiringkan senternya.
Berhenti.
“Ethan.”
Ethan turun dari tangga.
Di antara kotak-kotak berlabel itu, terselip satu benda yang berbeda.
Kecil. Hitam. Tidak lebih besar dari kotak korek api.
Tidak ada label. Tidak ada nomor seri. Diikat dengan dua tali pengikat plastik yang masih putih bersih, seolah baru dipasang beberapa jam lalu.
Ethan memandang benda itu dan merasakan sesuatu yang dingin merambat dari perut ke tenggorokan.
Ia tidak perlu tahu cara kerjanya.
Ia hanya perlu tahu satu hal: benda itu tidak seharusnya ada di sana.
“Apa itu?” tanya teknisi muda yang memegang obeng.
Kepala teknisi melongok ke dalam. Wajahnya berubah.
“Itu bukan bagian dari pesawat ini.”
Hanggar mendadak sunyi.
Dua teknisi di ban pendarat berhenti bekerja. Seorang petugas darat yang membawa troli bahan bakar berhenti di pintu hanggar.
Ethan menegakkan tubuh. Ia melepaskan sarung tangannya satu per satu, lalu berbicara dengan suara cukup keras agar semua orang di hanggar mendengarnya.
“Pesawat ini tidak terbang hari ini.”
Kepala teknisi menatapnya.
“Captain, jadwal dari…”
“Aku tahu jadwalnya dari mana. Catat bahwa aku membatalkan terbang uji karena ada benda asing di kompartemen avionik. Catat jamnya. Catat siapa saja yang ada di hanggar sekarang.”
Ia menoleh kepada setiap orang yang berdiri di sana.
“Kalian semua melihatnya. Ingat apa yang kalian lihat.”
Teknisi muda mengangguk cepat. Kepala teknisi mencoret sesuatu di papan klipnya dengan tangan sedikit gemetar.
Ryan masih menyorotkan senter ke dalam kompartemen.
“Kalau kamu naik tadi,” bisiknya, cukup pelan agar hanya Ethan yang mendengar.
“Aku tidak naik.”
“Kalau aku tidak menyuruh mereka membuka…”
“Kamu membukanya.”
Ryan menurunkan senternya. Wajahnya pucat di bawah lampu hanggar.
Di kejauhan, langit timur mulai berubah warna. Garis jingga tipis muncul di atas landasan.
Ethan mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan dari Jessica yang belum ia balas.
“Aku menunggumu pulang.”
Ia mengetik dengan jari yang masih kaku.
“Aku tidak terbang hari ini. Aku baik-baik saja. Aku akan pulang.”
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
“Aku tahu.”
Lalu satu pesan lagi.
“Tapi tetap saja aku menangis membaca pesanmu.”
Ethan tersenyum dan menutup mata sebentar.
Ketika ia membukanya lagi, Ryan sedang berjongkok di samping panel yang terbuka, menatap benda hitam kecil itu dengan rahang mengeras.
“Ethan,” katanya pelan. “Kalau benda ini sampai ke tangan orang yang salah, besok pagi benda ini akan hilang. Lalu semua orang di sini akan dibilang salah lihat.”
Ethan memandangi pintu hanggar, tempat langit pagi mulai terang.
Dari arah gedung administrasi, dua orang berseragam kantor pusat berjalan cepat menuju hanggar.