Ryan bergerak lebih cepat daripada yang Ethan duga.
Sebelum dua orang berseragam kantor pusat itu sampai di pintu hanggar, ia sudah memotret benda hitam itu dari tiga sudut, memotong tali pengikatnya dengan tang dari kotak perkakas, lalu menyelipkannya ke dalam saku dada flight suit.
Kepala teknisi melihat semuanya.
Ryan menatapnya.
Pria setengah baya itu memandang benda yang hilang ke dalam saku, lalu memandang Ethan. Ia menelan ludah dan menunduk ke papan klipnya.
“Saya tidak melihat apa-apa, Sir,” bisiknya. “Tapi saya sudah mencatat apa yang tadi kita lihat bersama.”
Dua orang itu masuk ke hanggar.
Yang di depan bertubuh tinggi, wajahnya datar seperti dinding.
“Captain Lim. Kami dari kantor pusat. Kami dengar ada masalah dengan pesawat ini.”
“Cepat sekali kabarnya sampai,” kata Ethan.
Pria itu tidak tersenyum.
“Mulai sekarang pemeriksaan pesawat ini kami ambil alih. Semua orang keluar dari hanggar.”
Ia melongok ke kompartemen yang masih terbuka, menyorotkan senternya sendiri.
Kabel-kabel rapi. Kotak-kotak berlabel.
Dua potongan tali pengikat plastik putih tergeletak di dasar kompartemen.
Pria itu memandangi potongan tali itu lebih lama dari seharusnya.
“Tidak ada benda asing di sini.”
“Tadi ada,” kata teknisi muda.
“Kamu yakin?” Pria itu menoleh kepadanya. “Masih pagi. Lampunya silau. Orang mudah salah lihat.”
Teknisi muda itu terdiam.
Ethan melangkah ke depan.
“Enam orang melihatnya. Termasuk saya.”
“Kalau begitu Anda boleh menulis keterangan, Captain. Kami akan memeriksanya.”
Ethan tahu apa artinya.
Keterangannya akan masuk ke meja yang salah.
Rumah Samuel Ong di Bukit Timah, pukul sepuluh pagi.
Benda hitam kecil itu tergeletak di atas sapu tangan putih di meja ruang baca. Di sekelilingnya duduk Samuel, Ethan, Ryan, dan seorang pria tua bertubuh pendek dengan kaca pembesar di tangan.
Samuel memperkenalkannya sebagai Profesor Lee, mantan insinyur di lembaga riset pertahanan yang dulu sering menjadi saksi ahli di pengadilan militer.
Profesor Lee memandangi benda itu lama sekali.
Ia membaliknya dengan pinset. Mengamati sambungannya. Mencatat sesuatu di buku kecil.
“Bukan buatan pabrik,” katanya akhirnya. “Dirakit tangan. Rapi. Orang yang membuatnya paham betul pekerjaannya.”
“Apa gunanya?” tanya Ryan.
Profesor Lee meletakkan pinsetnya.
“Benda seperti ini bisa membuat radio dan instrumen pesawat kacau ketika menerima sinyal tertentu dari luar. Hanya itu yang perlu kalian tahu.”
Ethan mengeluarkan berkas investigasi yang ia bawa dalam map. Ia membuka halaman yang selama ini terus ia baca berulang-ulang.
“External electronic interference prior to loss of communication.” (Gangguan elektronik dari luar sebelum komunikasi terputus.)
Profesor Lee membaca kalimat itu, lalu kembali memandang benda di atas sapu tangan.
“Jenisnya sama,” katanya pelan. “Kalau ini dipasang di pesawatmu waktu itu, gangguan yang tertulis di sini akan persis seperti ini.”
Ruangan itu sunyi.
Ethan merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan marah. Bukan juga takut.
Seperti seseorang yang akhirnya menemukan nama penyakit yang selama ini membuatnya sakit.
“Jadi ini buktinya,” kata Ryan.
“Bukan.”
Samuel yang menjawab.
Semua orang menoleh kepadanya.
“Ini bukti bahwa seseorang ingin pesawat Ethan jatuh. Dua kali.” Samuel mengetuk meja dengan ujung jarinya. “Tapi tidak ada nama Koh di benda ini. Tidak ada sidik jarinya. Tidak ada tanda tangannya. Yang ada hanya dua nama di lembar pemeriksaan malam dari kontraktor perawatan.”
Ryan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto lembar kerja yang sempat ia potret di hanggar.
Dua tanda tangan. Dua nama.
“Aku sudah memeriksanya pagi ini,” kata Samuel. “Lewat kenalan di bagian kepegawaian. Dua nama itu tidak terdaftar sebagai pegawai Aero-Sentra Services. Tidak terdaftar di mana pun.”
“Nama palsu,” gumam Ethan.
“Dan kalau kita bawa benda ini ke dewan sekarang, pengacara Koh akan bertanya satu hal pertama. Bagaimana benda ini bisa sampai di meja seorang pensiunan, bukan di ruang penyimpanan bukti?”
Ryan menunduk.
“Aku mengambilnya karena…”
“Aku tahu kenapa kamu mengambilnya,” potong Samuel. Suaranya melunak. “Dan kalau kamu tidak mengambilnya, benda ini sudah lenyap pukul tujuh pagi tadi. Kamu benar. Tapi kebenaran yang diambil dari saku tidak selalu bisa diterima di ruang sidang.”
Ia membungkus benda itu dengan sapu tangan dan memasukkannya ke kotak kayu kecil.
“Ini kusimpan. Profesor Lee akan menulis keterangan resmi. Suatu hari nanti, benda ini akan berbicara. Tapi bukan hari ini.”
Ethan bersandar di kursinya.
Ia memikirkan map biru di laci kamarnya. Surat promosi. Mayor. Amerika. Rumah dinas.
Tiga hari.
“Dia memberiku tiga hari,” katanya pelan. “Dan di hari kedua, aku dijadwalkan terbang dengan pesawat yang sudah disiapkan.”
Samuel menatapnya.
“Tawaran itu tidak pernah sungguh-sungguh,” lanjut Ethan. “Dia hanya ingin aku sibuk menimbang-nimbang. Ingin aku merasa punya waktu.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tidak akan menjawabnya sama sekali.”
Samuel mengangguk perlahan.
“Itu jawaban yang paling keras.”
Sebelum mereka pulang, Samuel mengeluarkan secarik kertas dari saku kemejanya.
“Satu hal lagi. Kenalan lamaku di kepolisian menemukan alamat terakhir yang tercatat atas nama Darren Soh.”
Ryan langsung menegakkan tubuh.
“Di mana?”
“Geylang. Sebuah rumah susun tua dekat Lorong 23. Tapi itu alamat dua tahun lalu. Dia mungkin sudah pindah.”
Ethan mengambil kertas itu.
“Kami akan melihatnya.”
“Melihat,” ulang Samuel dengan tegas. “Bukan masuk. Kabari aku.”
Hari ketiga tenggat itu berlalu tanpa satu pun pesan dari Ethan kepada Kolonel Adrian Koh.
Pukul enam sore, ponsel Ethan bergetar.
“Waktumu habis, Captain.”
Ethan membaca pesan itu di teras, dengan Jessica duduk di sampingnya.
Ia tidak membalas.
Jessica memandangi layar itu, lalu memandangi wajah Ethan.
“Kamu tidak takut?”
“Takut.”
Ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
“Tapi aku lebih takut menjadi orang yang menandatangani surat itu.”
Di kantor pusat pertahanan, Kolonel Adrian Koh berdiri di depan jendela yang menghadap matahari terbenam.
Anak buahnya berdiri di belakangnya.
“Terbang uji batal, Sir. Ryan Tan membuka kompartemennya sebelum pesawat lepas landas. Barangnya tidak ada saat orang kita sampai.”
Koh tidak bergerak.
“Dan Captain Lim tidak menjawab tawaranmu,” lanjut anak buah itu, lebih pelan.
“Aku tahu.”
Koh berjalan ke mejanya, membuka laci, dan mengeluarkan potongan foto itu.
Seorang perempuan berambut panjang.
Ia meletakkannya di atas meja, tepat di tengah, dan mengusap permukaannya dengan ibu jari.
“Seorang pilot bisa memilih untuk tidak terbang,” katanya pelan. “Tapi dia tidak bisa memilih untuk tidak mencintai.”
Ia mengangkat kepala.
“Mulai sekarang, perhatikan perempuan itu.”