*BAB 4 : Luka yang Dalam*
Lisa berjalan sendirian di jalan, merasa seperti hancur. Dia tidak percaya bahwa Dika bisa melakukan ini padanya. Dia merasa seperti dikhianati.
Setelah beberapa saat berjalan, Lisa akhirnya sampai di rumahnya. Dia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Lisa merasa seperti tidak bisa bernapas. Dia merasa seperti dicekik oleh rasa sakit. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini.
Lisa mengambil ponselnya dan memblokir nomor Dika. Dia tidak ingin mendengar suara Dika lagi.
Setelah beberapa jam, Lisa akhirnya bisa menenangkan dirinya. Dia merasa seperti sedikit lebih baik.
Tapi luka yang dalam masih terasa. Lisa tidak tahu apakah dia bisa memaafkan Dika.
Lisa memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku. Tapi pikirannya masih terfokus pada Dika.
Lisa merasa seperti terjebak dalam situasi ini. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi perasaan sakitnya.
Tiba-tiba, ponsel Lisa berdering. Lisa melihat layar ponselnya dan terkejut melihat nama temannya, Rina.
"Hai, Lisa! Apa kabar?" kata Rina.
Lisa merasa seperti mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang perasaannya. "Aku sedih, Rina. Dika ternyata memiliki pacar lain," kata Lisa.
Rina terdengar terkejut. "Apa? Itu tidak mungkin!" kata Rina.
Lisa merasa seperti mendapatkan dukungan dari temannya. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Rina. Aku merasa seperti hancur," kata Lisa.
Rina mencoba menenangkan Lisa. "Aku ada di sini untukmu, Lisa. Aku akan mendukungmu apa pun yang terjadi," kata Rina.
Lisa merasa seperti sedikit lebih baik. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam situasi ini.
* Dukungan dari Sahabat*
Lisa merasa seperti mendapatkan dukungan yang besar dari Rina. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam situasi ini.
"Aku sangat berterima kasih atas dukunganmu, Rina," kata Lisa.
Rina tersenyum. "Aku ada di sini untukmu, Lisa. Aku akan selalu mendukungmu," kata Rina.
Lisa merasa seperti sedikit lebih baik. Dia tahu bahwa dia bisa menghadapi situasi ini dengan bantuan Rina.
Rina meminta Lisa untuk bertemu di kafe favorit mereka. Lisa setuju dan mereka berdua membuat rencana untuk bertemu.
Saat Lisa tiba di kafe, Rina sudah menunggu. "Hai, Lisa! Aku senang kamu bisa datang," kata Rina.
Lisa tersenyum. "Aku juga senang bertemu denganmu, Rina," kata Lisa.
Rina memesan dua cangkir kopi dan mereka berdua duduk di sudut kafe.
"Aku ingin tahu lebih banyak tentang Dika," kata Rina. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Lisa mengambil napas dalam-dalam dan menceritakan semua yang terjadi. Rina mendengarkan dengan seksama.
"Wow, itu sangat mengejutkan," kata Rina. "Aku tidak percaya Dika bisa melakukan itu padamu."
Lisa merasa seperti mendapatkan dukungan yang besar dari Rina. "Aku tahu, Rina. Aku merasa seperti dikhianati," kata Lisa.
Rina memegang tangan Lisa. "Aku ada di sini untukmu, Lisa. Aku akan mendukungmu apa pun yang terjadi," kata Rina.
Lisa merasa seperti sedikit lebih baik. Dia tahu bahwa dia bisa menghadapi situasi ini dengan bantuan Rina.
Tiba-tiba, Rina memiliki ide. "Aku punya rencana, Lisa. Aku ingin kamu melakukan sesuatu yang membuat kamu lupa tentang Dika," kata Rina.
Lisa penasaran. "Apa itu?" tanya Lisa.
Rina tersenyum. "Aku akan memberitahu kamu nanti. Tapi kamu harus percaya padaku," kata Rina.
Lisa merasa seperti sedikit lebih bersemangat. Dia tahu bahwa dia bisa menghadapi situasi ini dengan bantuan Rina.
*Rencana untuk Melupakan*
Lisa merasa penasaran tentang rencana Rina. Dia tidak tahu apa yang Rina persiapkan, tapi dia percaya pada temannya.
"Aku percaya padamu, Rina," kata Lisa. "Apa yang harus aku lakukan?"
Rina tersenyum. "Aku ingin kamu melakukan sesuatu yang kamu sukai. Sesuatu yang membuat kamu lupa tentang Dika," kata Rina.
Lisa berpikir sejenak. "Aku suka menggambar," kata Lisa. "Aku belum menggambar sejak lama."
Rina tersenyum. "Itu ide yang bagus! Aku ingin kamu menggambar sesuatu yang membuat kamu bahagia," kata Rina.
Lisa merasa seperti mendapatkan ide yang bagus. Dia tidak tahu bahwa menggambar bisa membuatnya lupa tentang Dika.
Rina meminta Lisa untuk menggambar di studio seni yang baru dibuka di kota. Lisa setuju dan mereka berdua membuat rencana untuk pergi ke studio seni besok.
Saat Lisa tiba di studio seni, dia merasa seperti mendapatkan inspirasi. Dia mulai menggambar dengan semangat dan tidak berhenti sampai beberapa jam kemudian.
Lisa merasa seperti lupa tentang Dika. Dia merasa seperti mendapatkan kebahagiaan yang dia cari.
Rina datang ke studio seni dan melihat hasil karya Lisa. "Wow, Lisa! Kamu sangat berbakat," kata Rina.
Lisa tersenyum. "Terima kasih, Rina. Aku merasa seperti mendapatkan kebahagiaan yang saya cari," kata Lisa.
Rina tersenyum. "Aku senang melihat kamu bahagia, Lisa. Aku tahu bahwa kamu masih sedih tentang Dika, tapi aku percaya bahwa kamu bisa melupakannya," kata Rina.
Lisa merasa seperti mendapatkan dukungan yang besar dari Rina. Dia tahu bahwa dia bisa menghadapi situasi ini dengan bantuan Rina.
Tapi tiba-tiba, Lisa melihat seseorang yang tidak dia duga. Dika.
Bagaimana Lisa akan menghadapi Dika setelah apa yang terjadi? Apakah dia akan memaafkan Dika atau masih marah? Upaya cinta Lisa akan berlanjut...
Lisa merasa seperti terkejut melihat Dika. Dia tidak tahu apa yang Dika lakukan di studio seni.
Dika melihat Lisa dan Rina, dan dia tersenyum. "Hai, Lisa. Aku tidak tahu kamu juga suka menggambar," kata Dika.
Lisa merasa seperti tidak percaya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lisa.
Dika tersenyum. "Aku juga suka menggambar. Aku tidak tahu bahwa kamu ada di sini," kata Dika.
Lisa merasa seperti tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak tahu apakah dia harus berbicara dengan Dika atau tidak.
Rina memegang tangan Lisa. "Aku ada di sini untukmu, Lisa. Aku akan mendukungmu apa pun yang terjadi," kata Rina.
Lisa merasa seperti mendapatkan dukungan yang besar dari Rina. Dia tahu bahwa dia bisa menghadapi situasi ini dengan bantuan Rina.
Bagaimana Lisa akan menghadapi Dika? Apakah dia akan memaafkan Dika atau masih marah? Upaya cinta Lisa akan berlanjut...